Blogroll

Selasa, 24 April 2012

STRIP STORY


PENDAHULUAN
Dalam pendidikan banyak strategi-strategi pembelajaran yang diajarkan demi mencapai sebuah tujuan pembelajaran yang mudah dipahami oleh peserta didik, dalam makalah ini akan dijelaskan satu diantara strategi atau bisa disebut dengan media pembelajaran mengenai strip story.
Strip story tidak hanya cocok dalam pembelajaran bahasa Indonesia saja tetapi juga cocok untuk pengajaran bahasa asing seperti Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, ia sedikit berbeda dengan puzzle tetapi sama-sama menyusun.
Strip story sebagai media yang menjanjikan kemudahan dalam belajar, tidak hanya itu dengan memakai alat dan barang yang sederhana siapapun bisa melakukannya tanpa harus mempunyai keahlian khusus.
Dalam makalah ini anda akan diajak belajar sambil bermain dengan menggunakan strip story bagaimana menggunakannya?, mari ikuti tahap demi tahap halaman dalam makalah ini.










PEMBAHASAN
Strip story merupakan media visualitas yang memerlukan penglihatan siswa dalam menangkap setiap pelajaran, visualisasi pesan, informasi atau konsep yang akan disampaikan kepada siswa dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk seperti fhoto, gambar/ilustrasi, sketsa/gambar garis, grafik, bagan, chart dan gabungan dari dua bentuk atau lebih. Foto menghadirkan ilustrasi melalui gambar yang hampir menyamai kenyataan dari sesuatu objek atau situasi, sementara grafik merupakan representasi simbolis dan artistik sesuatu atau objek atau situasi.
Dalam pembahasan ini akan dijelaskan salah satu dari media visualitas yang menggambarkan situasi diatas, yaitu strip story.
1.      Strip Story.
A.    Pengertian Strip Story.
Strip story merupakan potongan-potongan kertas yang sering digunakan dalam pengajaran bahasa asing. Di samping murah dan amat mudah untuk dibuat, tekhnik strip story sederhana dan tidak memerlukan keterampilan khusus untuk menggunakannya.[1]
B.     Manfaat Strip Story.
Strip story bisa dibilang media yang mudah, tidak hanya mudah dan sederhana untuk digunakan tetapi  juga salah satu untuk membuat kegiatan pembelajaran semakin mudah dan menyenangkan. Karena dalam menggunakan media ini semua sangat berperan baik itu anggota tubuh, teman atau guru. Sehingga ketika media ini digunakan suasana kelas terasa lebih hidup dan menyenangkan sehingga peserta didik merasa pembelajaran ini tanpa beban padahal masih dalam konteks belajar.

C.     Contoh penggunaan media strip story. (dalam pembelajaran al-qur’an)
1.      Guru memilih ayat-ayat al-qur’an yang bersambung dengan rapi, yang kira-kira bisa dibagi rata pada siswa.
2.      Ayat tersebut diketik atau ditulis diatas kertas karton (kira-kira bisa untuk dipotong-potong)
3.      Setelah itu ayatnya dipotong-potong menjadi kepingan-kepingan kertas yang akan disatukan. (apabila muridnya banyak maka dibagi per kelompok.
4.      Potongan ayat tadi dibagikan acak kepada siswa
5.      Guru meminta agar siswa menghapalkan potongan ayat yang tertera di kertas yang telah dipotong dan dibagikan tadi. (tunggu  dua sampai tiga menit)
6.      Setelah itu guru memerintahkan siswa untuk mengumpulkan kembali potongan kertas tadi.
7.      Guru agak diam  sejenak hingga kelas agak mulai tenang
8.      Dipastikan mereka telah menghafal ayat yang telah dibagikan
9.      Maka siswa diperintahkan untuk  mencari ayat yang pertama diantara teman-temannya dan mulai menyusun satu demi satu
10.  Setelah itu guru bisa menyuruh murid untuk menuliskannya kedalam buku
11.  Setelah tugas-tugas itu dilakukanoleh siswa, guru sebaiknya memperlihatkan ayat-ayat yang utuh melalui papan tulis dan OHP.
Strip story dapat digunakan kedalam berbagai mata pelajaran tergantung efektivitas suatu mata pelajaran, bagi guru PAI bisa dimasukkan kedalam materi-materi PAI seperti, Qur’an Hadits, Imla, kisah-kisah, fiqh, mahfudzot, Bahasa Arab dan lain-lain.[2]
Jadi, pembelajaran ini sangat efektif untuk membangkitkan kembali suasana belajar siswa karena pembelajaran dengan menggunakan strip story tidak hanya menggunakan media visual saja tetapi juga membutuhkan gaya kinestetik sehingga belajar terasa tidak kaku.
2.      Flash Card.
Ada satu lagi strategi pembelajaran yang menurut saya sama dengan strip story yaitu flash card mungkin hanya nama saja yang berbeda, strategi flash card adalah strategi pembelajaran yang mengaitkan konsep pembelajaran dengan gambar dalam kartu jika strip story menggunakan tulisan maka flash card menggunakan gambar.
Pola permainan kar tu ini bisa beragam, antara lain pola kwarted, urutan, atau yang lain. Strategi flash card punya poin dan prosedur sebagai berikut:
a.       Konsep
Konsep adalah materi yang diajarkan kepada siswa, yang biasanya terdapat dalam silabus. Dalam proses pembelajaran tertentu, contoh: dalam mengajarkan anak shalat.
b.      Flash card
Adanya Flash card atau kartu yang berisi gambar atau tulisan berhubungan dengan konsep. Dalam proses pembelajaran tertentu kartu flash card berisi prosedur atau tata cara shalat empat rakaat.
c.       Kesimpulan
Kesimpulan adalah aktifitas menyimpulkan devinisi konsep setelah permainan kartu dilakukan. Seperti siswa diminta untuk simulasi shalat sesuai dengan permainan kartu.

Multiple Intelligences Approach
            Pendekatan Multiple Intelligences dalam strategi flash card ini merupakan ranah spasial-visual dan intra personal. Ranah tersebut akan berkembang bergantung pada prosedur aktivitas yang dirancang oleh guru.[3]
Sebenarnya masih banyak strategi dan media lain yang senada dengan strip story yang sama-sama mengarah pada ranah visual siswa dan disana juga dibutuhkan intrapersonal siswa dan gerak dalam pembelajaran agar siswa yang cepat bosan belajar dengan visual bisa teratasi.
Rata-rata orang yang cendrung belajar dengan visual cendrung dengan sesuatu yang nampak seperti penampilan, teliti dan detail, biasanya berbicara dengan cepat.














KESIMPULAN

Strip story adalah media visual yang membutuhkan daya penglihatan untuk mempelajari suatu materi pelajaran. Strip story merupakan potongan-potongan kertas yang sering digunakan dalam pengajaran bahasa asing. Di samping murah dan amat mudah untuk dibuat, tekhnik strip story sederhana dan tidak memerlukan keterampilan khusus untuk menggunakannya.
Strip story sebagai media yang menjanjikan kemudahan dalam belajar, tidak hanya itu dengan memakai alat dan barang yang sederhana siapapun bisa melakukannya tanpa harus mempunyai keahlian khusus.
Selain strip story ada strategi lain yang serupa yaitu flash card yang membedakannya hanya tgambar dan tulisan tapi setidaknya didalam gambar tersebut juga terdapat tulisan-tulisan. Tapi yang penting adalah strip story maupun flash card sama-sama menggunakan visualitas.













DAFTAR PUSTAKA

Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, 2011, , Jakarta; Rajawali Press
Munif Chatif, Gurunya Manusia, 2011, Bandung; Kaifa





[1] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, 2011, , Jakarta; Rajawali Press, hal. 122
[2] ibid
[3] Munif Chatif, Gurunya Manusia, 2011, Bandung; Kaifa, hal. 173

Tidak ada komentar:

Posting Komentar