PENDAHULUAN
Berbicara tentang
anak-anak dan remaja sungguh sangat menarik jika diangkat sebagai topik yang
layak dan banyak dibicarakan banyak orang, segaligus teori-teori dari pakarnya
masing-masing. Masa kanak-kanak dan remaja adalah masa yang krusial bagi
pengembangan dan pendidikan dalam hidup seseorang untuk menjadi pribadi yang
yang ideal dan tangguh.
Anak adalah amanah yang
sangat berharga yang tidak akan pernah bisa dibeli oleh apapun, ia sangat
berharga jadi wajar jika ada orang yang rela membuang anaknya ketempat sampah
atau menelantarkannya disebut seorang yang tidak memiliki naluri sebagai
seorang manusia.
Anak-anak memiliki fase
masing-masing. Anak yang masih kecil itu adalah fase meniru semua yang
dilakukan orang tuanya pun akan dilakukannya juga, baik itu perkataan,
perbuatan bahkan cara orang tuanya berjalan pun akan ditiru oleh sianak. Itulah
mengapa agama memerintahkan agar orang tua senantiasa mencontohkan yang baik
kepada anak-anak, contoh jika orang tuanya sedang shalat sianak pun ikut disamping
orang tuanya mengikuti gerakan
orang tuanya. Anak yang masih kecil itu adalah
pembentukan karakter bagi mereka dan ini akan berimbas ketika ia telah dewasa.
Anak-anak yang telah dibentuk
karakternya dari kecil akan berbeda dengan anak yang dari kecil tidak
dicontohkan teladan yang baik. Ketika seorang anak berbuat sesuatu yang
menyimpang dari berbuatan yang dilarang ia akan lebih cepat untuk kembali
kepada yang baik dan lebih mudah untuk menerimanya dari pada anak yang memang
tidak ada teladan dari lingkungan sekitar bahkan lingkungan keluarganya.
Sekarang ada orang yang
mengistilahkan kenakalan remaja gubernur Sumatra Barat menyatakan ia tidak
setuju dengan ungkapan ini, karena tidak ada anak-anak yang nakal kecuali
terbentuk dari keluarga, jadi orang tuanyalah yang nakal dan lebih tepat
disebut kenakalan orang tua.
PEMBAHASAN
- Definisi Remaja.
Remaja berasal dari
kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi
dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup
kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992).
Pasa masa
ini sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk
golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua[1],
Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja
menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum
memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Menurut Sri
Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja
adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan
semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja berlangsung antara umur 12
tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun
bagi pria.
Sedangkan
menurut Zakiah Drajat (1990: 23) adalah: masa peralihan diantara masa
kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa
perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak
baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang
dewasa yang telah matang.
- Bagaimana
Membentuk pribadi seorang anak.
- Menanamkan
Aqidah Pada Anak.
Bersumber
dari rafi’ ra, ia berkata,”aku melihat rasulullah saw menyerukan adzan
ketelinga Hasan bin Ali ketika ia baru saja dilahirkan oleh fathimah ra. ( HR.
Tirmidzi).[2]
Demikianlah
rasulullah mengajarkan bagaimana kebaikan itu dimulai sejak masih kecil,
seperti mengadzankan tadi bayi itu tidak mengerti apa-apa tapi pertama suara
yang didengarnya adalah kumandang kalimat-kalimat Allah swt. Dalam Al-qur’an
juga telah dijelaskan kisah bagaimana nasehat Luqman kepada anaknya yang
diabadikan dalam surat luqman ayat 13-17:
øÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏèt ¢Óo_ç6»t w õ8Îô³è@ «!$$Î/ ( cÎ) x8÷Åe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOÏàtã ÇÊÌÈ $uZø¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷yÏ9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çmBé& $·Z÷dur 4n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur Îû Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# Í< y7÷yÏ9ºuqÎ9ur ¥n<Î) çÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ bÎ)ur #yyg»y_ #n?tã br& Íô±è@ Î1 $tB }§øs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïæ xsù $yJßg÷èÏÜè? ( $yJßgö6Ïm$|¹ur Îû $u÷R9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur @Î6y ô`tB z>$tRr& ¥n<Î) 4 ¢OèO ¥n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRé'sù $yJÎ/ óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ ¢Óo_ç6»t !$pk¨XÎ) bÎ) à7s? tA$s)÷WÏB 7p¬6ym ô`ÏiB 5Ayöyz `ä3tFsù Îû >ot÷|¹ ÷rr& Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÷rr& Îû ÇÚöF{$# ÏNù't $pkÍ5 ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# ì#ÏÜs9 ×Î7yz ÇÊÏÈ ¢Óo_ç6»t ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã Ìs3ZßJø9$# ÷É9ô¹$#ur 4n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºs ô`ÏB ÇP÷tã ÍqãBW{$# ÇÊÐÈ
13. dan (ingatlah)
ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya:
"Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
14.
dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-
bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah,
dan menyapihnya dalam dua tahunbersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu
bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
15.
dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak
ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang
kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan
kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16.
(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan)
seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi,
niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha
Halus lagi Maha mengetahui.
17.
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan
cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang
menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan
(oleh Allah).
öãBù&ur y7n=÷dr& Ío4qn=¢Á9$$Î/ ÷É9sÜô¹$#ur $pkön=tæ ( w y7è=t«ó¡nS $]%øÍ ( ß`øtªU y7è%ãötR 3 èpt6É)»yèø9$#ur 3uqø)G=Ï9 ÇÊÌËÈ
132. dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan
bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu,
kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi
orang yang bertakwa.(Thaha, 132).
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR $ydßqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÏtø:$#ur $pkön=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâxÏî ×#yÏ© w tbqÝÁ÷èt ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtur $tB tbrâsD÷sã ÇÏÈ
6. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan. (Al-ahzab, 6)
Akidah adalah suatu pegangan bagi
anak, Menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas utama orangtua.
Orangtualah yang akan sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi
agama dalam diri anak. Rasulullah saw. bersabda:
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang
menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR al-Bukhari).
Tujuan penanaman akidah pada anak adalah agar si anak
mengenal betul siapa Allah. Sejak si bayi dalam kandungan, seorang ibu
bisa memulainya dengan sering bersenandung mengagungkan asma Allah.
Begitu sudah lahir, orangtua mempunyai kesempatan untuk membiasakan si bayi
mendengarkan ayat-ayat al-Quran. Pada usia dini anak harus diajak untuk
belajar menalar bahwa dirinya, orangtuanya, seluruh keluarganya, manusia, dunia,
dan seluruh isinya diciptakan oleh Allah. Itu sebabnya mengapa manusia harus
beribadah dan taat kepada Allah.
2.
Melatihnya beribadah.
Melatih anak beribadah harus dilakukan sedini mungkin
untuk pembiasaan, ini bisa membangun karakter anak, Hasil temuan tentang otak
menunjukkan bahwa Allah membekali manusia saat lahir dengan miliyaran sel-sel
otak yang belum terhubung. Bila anak mendapat perlakuan penuh kasih sayang,
perhatian, belaian bahkan bau keringat orang tuanya, sel-sel otaknya akan
bersambungan kuat. Bahkan di usia 3 tahun, sel-selnya akan berhubungan mencapai
1 triliun.
Dari usia 3 sampai 11 tahun terjadi proses
restrukturisasi atau pembentukan kembali sambungan-sambungan tersebut. Hal-hal
yang diulang-ulang akan membuat hubungan antara sel-sel tertentu menjadi
semakin kuat, sedangkan yang tidak diulang-ulang akan menjadi lapuk dan gugur.
Temuan ini membuktikan bahwa Rasulullah benar, bahwa
kita perlu memperkenalkan berbagai hal kepada anak kita termasuk di dalamnya
masalah beribadah sedini mungkin dan mengulang-ulangnya selama 7 tahun,
sehingga pada usia 10 tahun anak kita bukan saja mampu melakukannya dengan
baik, tapi juga insya Allah telah memahami makna pentingnya ibadah tersebut.
Anak lahir dalam keadaan fitrah. Hal baik buruk yang terjadi di masa balita
akan berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadiannya kelak. Orangtua perlu
menanamkan nilai dan kebiasaan dengan alasan yang logis sehingga anak bisa
mempercayainya.
Mendidik anak adalah membantu anak mencapai kedewasaan
baik dari segi akal, ruhiyah dan fisik. Orangtua perlu membantu anak untuk
kenal dan tahu sesuatu, kemudian dia suka atau mau lalu bisa, kemudian menjadi
biasa atau terampil mengamalkannya. Hal ini bukan saja membutuhkan waktu yang
lama tetapi juga kemauan yang kuat, kesabaran, keuletan dan semakin awal
memulainya semakin baik.[3]
3.
Membiasakan Anak Meminta Izin.
Allah berfirman dalam surat An-nuur 58:
$ygr'¯»t úïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä ãNä3RÉø«tGó¡uÏ9
tûïÏ%©!$# ôMs3n=tB
óOä3ãZ»yJ÷r& tûïÏ%©!$#ur
óOs9 (#qäóè=ö7t
zNè=çtø:$# óOä3ZÏB
y]»n=rO ;Nº§tB
4 `ÏiB È@ö7s%
Ío4qn=|¹ Ìôfxÿø9$#
tûüÏnur tbqãèÒs?
Nä3t/$uÏO z`ÏiB
ÍouÎg©à9$# .`ÏBur
Ï÷èt/ Ío4qn=|¹
Ïä!$t±Ïèø9$# 4
ß]»n=rO ;Nºuöqtã
öNä3©9 4
[øs9 ö/ä3øn=tæ
wur öNÎgøn=tæ
7y$uZã_ £`èdy÷èt/
4 cqèùº§qsÛ /ä3øn=tæ
öNà6àÒ÷èt/ 4n?tã
<Ù÷èt/ 4
y7Ï9ºxx. ßûÎiüt7ã
ª!$# ãNä3s9
ÏM»tFy$# 3
ª!$#ur íOÎ=tæ
ÒOÅ3ym ÇÎÑÈ
Artinya: Hai orang-orang yang
beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan
orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali
(dalam satu hari) Yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan
pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya'. (Itulah) tiga
'aurat bagi kamu, tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain
dari (tiga waktu) itu. mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan)
kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi
kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (58)
Ishaq
al-Ghazari berkata,”aku pernah bertanya pada Al-auza’ie, apa batasan anak kecil
yang diharuskan untuk meminta izin terlebih dahulu?” Ia menjawab,”kalau ia
sudah berumur empat tahun. Pada usia ini, ia tidak boleh menemuai wanita tanpa
ada izin terlebih dahulu.” Dan menurut Az-zuhri,”seorang ana yang ingin menemui
ibunya harus izin terlebih dahulu”.
Alqhurtubi berkata,”meskipun belum baligh,
Anas bin Malik sudah biasa meminta izin kepada rasulullah saw jika hendak
menemui istri-istri beliau. Demikian pulalah yang dilakukan para sahabat
terhadap anak-anak dan budak-budak mereka.[4]
4. Mencarikan pendidikan dan lingkungan yang baik bagi sianak.
a. Rumah.
Rumah adalah
tempat pendidikan pertama kali bagi seorang anak dan merupakan tempat yang
paling berpengaruh terhadap pola hidup seorang anak. Anak yang hidup di tengah
keluarga yang harmonis, yang selalu melakukan ketaatan kepada Allah Azza wa
Jalla, sunah-sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ditegakkan dan
terjaga dari kemungkaran, maka ia akan tumbuh menjadi anak yang taat dan
pemberani.
Oleh karena
itu, setiap orang tua muslim harus memperhatikan kondisi rumahnya. Ciptakan
suasana yang Islami, tegakkan sunnah, dan hindarkan dari kemungkaran. Mohonlah
pertolongan kepada Allah agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang bertauhid,
berakhlak dan beramal sesuai dengan sunnah Rasulullah serta mengikuti jejak
para salafush-shalih.
لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتُكُمْ مَقَابِرَ , إِنَّ الشَّيْطَانَ
يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ
Artinya: "Janganlah engkau jadikan rumahmu
seperti kuburan; sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di
dalamnya surat al-Baqarah"
Dalam hadits
ini, terdapat anjuran untuk memperbaiki rumah supaya tidak seperti kuburan dan
menjadi sarang setan, sehingga anak-anak yang tumbuh di dalamnya jauh dari Islam,
bahkan kemungkaran setiap saat terjadi di rumahnya dan percekcokan orang tuanya
menghiasi hidupnya, maka tidak disangsikan anak akan tumbuh menjadi anak yang
keras dan kasar.
b. Sekolah.
Sekolah
merupakan lingkungan baru bagi anak. Tempat bertemunya ratusan anak dari
berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda, baik status sosial maupun
agamanya. Di sekolah inilah anak akan terwarnai oleh berbagai corak pendidikan,
kepribadian dan kebiasaan, yang dibawa masing-masing anak dari lingkungan dan
kondisi rumah tangga yang berbeda-beda.
Seorang
pengajar adalah merupakan figur dan tokoh yang menjadi panutan anak-anak dalam
mengambil semua nilai dan pemikiran tanpa memilah antara yang baik dengan yang
buruk. Karena anak-anak memandang, guru adalah sosok yang disanjung, didengar
dan ditiru, sehingga pengaruh guru sangat besar terhadap kepribadian dan
pemikiran anak. Oleh sebab itu, seorang pengajar harus membekali diri dengan
ilmu dîn (agama) yang Shahîh sesuai dengan pemahaman Salafush-Shalih dan akhlak
yang mulia, serta rasa sayang kepada anak didik.
Selain dari
lingkungan sekolah dan rumah ada lagi yang perlu diperhatikan oleh orang tua
adalah pengaruh tekhnology dan media cetak, baik dari televisi, internet dan
bacaan yang dikomsumsi oleh anak.
Dalam bahasa
psikologi faktor yang membentuk kepribadian anak ada 3:
a. Aliran Emperisme, yang menitik beratkan bahwa lingkungan
penyebab utam timbulnya suatu tingkah laku.
b. Aliran Ativisme, yang menitik beratkanbahwa kepribadian dan
sifat itu adalah sifat bawaan dan keturunan.
c. Aliran konvergensi, ini adalah aliran yang menyatukan pendapat
kedua aliran diatas, bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya terbentuk karena
lingkungan saja tapi bawaan emosi dari lahir juga sangat mempengaruhi tingkah
laku seseorang.[5]
Jadi tiap-tiap
pertumbuhan anak-anak adalah fase-fase emas yang harus dibekali oleh pengaruh
agama, karena itu adalah yang akan membentenginya kelak dari pengaruh negatif
yang akan mewarnainya ketika ia sudah remaja atau dewasa.
KESIMPULAN
DAN PENUTUP
Dari penjelasan diatas
dapat disimpulkan bahwa pendidikan itu sangat penting bagi pembentukan
kepribadian anak sebelum ia beranjak pada masa remaja dan dewasa, sehingga
dibutuhkan semua pihak untuk bekerja sama dalam pembentukan kepribadian anak,
baik dari lingkungan dan keluarga.
Remaja berasal dari
kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi
dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan
mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992).
Bagaimana
Membentuk pribadi seorang anak:Menanamkan Aqidah Pada Anak, Melatihnya
beribadah, Membiasakan
Anak Meminta Izin, Mencarikan pendidikan dan lingkungan yang baik bagi sianak,
baik dari pemilihan lingkungan tempat anak berkembang atau sekolah tempat anak
menimba ilmu.
Dalam bahasa
psikologi faktor yang membentuk kepribadian anak ada 3:
d. Aliran Emperisme, yang menitik beratkan bahwa lingkungan
penyebab utam timbulnya suatu tingkah laku.
e. Aliran Ativisme, yang menitik beratkanbahwa kepribadian dan
sifat itu adalah sifat bawaan dan keturunan.
Aliran
konvergensi, ini adalah aliran yang menyatukan pendapat kedua aliran diatas,
bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya terbentuk karena lingkungan saja tapi
bawaan emosi dari lahir juga sangat mempengaruhi tingkah laku seseorang.
[2]
Psikologi anak dan remaja.2001. Mahfudz Jamaluddin.Jakarta;Pustaka
Al-kautsar.hal 125
[3]
http://www.kitabuahhati.com/ykbh/article/melatih-anak-beribadah-sejak-dini.html
[4]
Op.cit, Psikologi untuk Anak dan Remaja, hal 140
[5]
Islam
dan Psikologi.Hartati Netty Dkk.200.Jakarta; Rajawali press.hal 177





Tidak ada komentar:
Posting Komentar