Blogroll

Selasa, 24 April 2012

Psikologi anak dan remaja


PENDAHULUAN
Berbicara tentang anak-anak dan remaja sungguh sangat menarik jika diangkat sebagai topik yang layak dan banyak dibicarakan banyak orang, segaligus teori-teori dari pakarnya masing-masing. Masa kanak-kanak dan remaja adalah masa yang krusial bagi pengembangan dan pendidikan dalam hidup seseorang untuk menjadi pribadi yang yang ideal dan tangguh.
Anak adalah amanah yang sangat berharga yang tidak akan pernah bisa dibeli oleh apapun, ia sangat berharga jadi wajar jika ada orang yang rela membuang anaknya ketempat sampah atau menelantarkannya disebut seorang yang tidak memiliki naluri sebagai seorang manusia.
Anak-anak memiliki fase masing-masing. Anak yang masih kecil itu adalah fase meniru semua yang dilakukan orang tuanya pun akan dilakukannya juga, baik itu perkataan, perbuatan bahkan cara orang tuanya berjalan pun akan ditiru oleh sianak. Itulah mengapa agama memerintahkan agar orang tua senantiasa mencontohkan yang baik kepada anak-anak, contoh jika orang tuanya sedang shalat sianak pun ikut disamping orang tuanya mengikuti gerakan
 orang tuanya. Anak yang masih kecil itu adalah pembentukan karakter bagi mereka dan ini akan berimbas ketika ia telah dewasa.
Anak-anak yang telah dibentuk karakternya dari kecil akan berbeda dengan anak yang dari kecil tidak dicontohkan teladan yang baik. Ketika seorang anak berbuat sesuatu yang menyimpang dari berbuatan yang dilarang ia akan lebih cepat untuk kembali kepada yang baik dan lebih mudah untuk menerimanya dari pada anak yang memang tidak ada teladan dari lingkungan sekitar bahkan lingkungan keluarganya.
Sekarang ada orang yang mengistilahkan kenakalan remaja gubernur Sumatra Barat menyatakan ia tidak setuju dengan ungkapan ini, karena tidak ada anak-anak yang nakal kecuali terbentuk dari keluarga, jadi orang tuanyalah yang nakal dan lebih tepat disebut kenakalan orang tua.


PEMBAHASAN

  1. Definisi Remaja.
Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992).
Pasa masa ini sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua[1], Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria.
Sedangkan menurut Zakiah Drajat (1990: 23) adalah: masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.
  1. Bagaimana Membentuk pribadi seorang anak.
  1. Menanamkan Aqidah Pada Anak.
Bersumber dari rafi’ ra, ia berkata,”aku melihat rasulullah saw menyerukan adzan ketelinga Hasan bin Ali ketika ia baru saja dilahirkan oleh fathimah ra. ( HR. Tirmidzi).[2]
Demikianlah rasulullah mengajarkan bagaimana kebaikan itu dimulai sejak masih kecil, seperti mengadzankan tadi bayi itu tidak mengerti apa-apa tapi pertama suara yang didengarnya adalah kumandang kalimat-kalimat Allah swt. Dalam Al-qur’an juga telah dijelaskan kisah bagaimana nasehat Luqman kepada anaknya yang diabadikan dalam surat luqman ayat 13-17:
øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8ÎŽô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã ÇÊÌÈ   $uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒy‰Ï9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çm•Bé& $·Z÷dur 4’n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur ’Îû Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# ’Í< y7÷ƒy‰Ï9ºuqÎ9ur ¥’n<Î) 玍ÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ   bÎ)ur š‚#y‰yg»y_ #’n?tã br& š‚͍ô±è@ ’Î1 $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïæ Ÿxsù $yJßg÷èÏÜè? ( $yJßgö6Ïm$|¹ur ’Îû $u‹÷R‘‰9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur Ÿ@‹Î6y™ ô`tB z>$tRr& ¥’n<Î) 4 ¢OèO ¥’n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRé'sù $yJÎ/ óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ   ¢Óo_ç6»tƒ !$pk¨XÎ) bÎ) à7s? tA$s)÷WÏB 7p¬6ym ô`ÏiB 5AyŠöyz `ä3tFsù ’Îû >ot÷‚|¹ ÷rr& ’Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÷rr& ’Îû ÇÚö‘F{$# ÏNù'tƒ $pkÍ5 ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# ì#‹ÏÜs9 ׎Î7yz ÇÊÏÈ   ¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4’n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷“tã Í‘qãBW{$# ÇÊÐÈ  
13. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
14. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahunbersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
15. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16. (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.
17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
öãBù&ur y7n=÷dr& Ío4qn=¢Á9$$Î/ ÷ŽÉ9sÜô¹$#ur $pköŽn=tæ ( Ÿw y7è=t«ó¡nS $]%ø—Í‘ ( ß`øtªU y7è%ã—ötR 3 èpt6É)»yèø9$#ur 3“uqø)­G=Ï9 ÇÊÌËÈ  
132. dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.(Thaha, 132).
$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou‘$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#y‰Ï© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ  
6. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Al-ahzab, 6)
Akidah  adalah suatu pegangan bagi anak, Menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas utama orangtua.  Orangtualah yang akan sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak. Rasulullah saw. bersabda:

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR al-Bukhari).
Tujuan penanaman akidah pada anak adalah agar si anak mengenal betul siapa Allah.  Sejak si bayi dalam kandungan, seorang ibu bisa memulainya dengan sering bersenandung mengagungkan asma Allah.  Begitu sudah lahir, orangtua mempunyai kesempatan untuk membiasakan si bayi mendengarkan ayat-ayat al-Quran.  Pada usia dini anak harus diajak untuk belajar menalar bahwa dirinya, orangtuanya, seluruh keluarganya, manusia, dunia, dan seluruh isinya diciptakan oleh Allah. Itu sebabnya mengapa manusia harus beribadah dan taat kepada Allah.
2.      Melatihnya beribadah.
Melatih anak beribadah harus dilakukan sedini mungkin untuk pembiasaan, ini bisa membangun karakter anak, Hasil temuan tentang otak menunjukkan bahwa Allah membekali manusia saat lahir dengan miliyaran sel-sel otak yang belum terhubung. Bila anak mendapat perlakuan penuh kasih sayang, perhatian, belaian bahkan bau keringat orang tuanya, sel-sel otaknya akan bersambungan kuat. Bahkan di usia 3 tahun, sel-selnya akan berhubungan mencapai 1 triliun.
Dari usia 3 sampai 11 tahun terjadi proses restrukturisasi atau pembentukan kembali sambungan-sambungan tersebut. Hal-hal yang diulang-ulang akan membuat hubungan antara sel-sel tertentu menjadi semakin kuat, sedangkan yang tidak diulang-ulang akan menjadi lapuk dan gugur.
Temuan ini membuktikan bahwa Rasulullah benar, bahwa kita perlu memperkenalkan berbagai hal kepada anak kita termasuk di dalamnya masalah beribadah sedini mungkin dan mengulang-ulangnya selama 7 tahun, sehingga pada usia 10 tahun anak kita bukan saja mampu melakukannya dengan baik, tapi juga insya Allah telah memahami makna pentingnya ibadah tersebut. Anak lahir dalam keadaan fitrah. Hal baik buruk yang terjadi di masa balita akan berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadiannya kelak. Orangtua perlu menanamkan nilai dan kebiasaan dengan alasan yang logis sehingga anak bisa mempercayainya.
Mendidik anak adalah membantu anak mencapai kedewasaan baik dari segi akal, ruhiyah dan fisik. Orangtua perlu membantu anak untuk kenal dan tahu sesuatu, kemudian dia suka atau mau lalu bisa, kemudian menjadi biasa atau terampil mengamalkannya. Hal ini bukan saja membutuhkan waktu yang lama tetapi juga kemauan yang kuat, kesabaran, keuletan dan semakin awal memulainya semakin baik.[3]
3.      Membiasakan Anak Meminta Izin.
Allah berfirman dalam surat An-nuur 58:
$yg•ƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä ãNä3RÉ‹ø«tGó¡uŠÏ9 tûïÏ%©!$# ôMs3n=tB óOä3ãZ»yJ÷ƒr& tûïÏ%©!$#ur óOs9 (#qäóè=ö7tƒ zNè=çtø:$# óOä3ZÏB y]»n=rO ;Nº§tB 4 `ÏiB È@ö7s% Ío4qn=|¹ ̍ôfxÿø9$# tûüÏnur tbqãèŸÒs? Nä3t/$u‹ÏO z`ÏiB ÍouŽÎg©à9$# .`ÏBur ω÷èt/ Ío4qn=|¹ Ïä!$t±Ïèø9$# 4 ß]»n=rO ;Nºu‘öqtã öNä3©9 4 š[ø‹s9 ö/ä3ø‹n=tæ Ÿwur öNÎgøŠn=tæ 7y$uZã_ £`èdy‰÷èt/ 4 šcqèùº§qsÛ /ä3ø‹n=tæ öNà6àÒ÷èt/ 4’n?tã <Ù÷èt/ 4 y7Ï9ºx‹x. ßûÎiüt7ムª!$# ãNä3s9 ÏM»tƒFy$# 3 ª!$#ur íOŠÎ=tæ ÒOŠÅ3ym ÇÎÑÈ  
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) Yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya'. (Itulah) tiga 'aurat bagi kamu, tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (58)
Ishaq al-Ghazari berkata,”aku pernah bertanya pada Al-auza’ie, apa batasan anak kecil yang diharuskan untuk meminta izin terlebih dahulu?” Ia menjawab,”kalau ia sudah berumur empat tahun. Pada usia ini, ia tidak boleh menemuai wanita tanpa ada izin terlebih dahulu.” Dan menurut Az-zuhri,”seorang ana yang ingin menemui ibunya harus izin terlebih dahulu”.
 Alqhurtubi berkata,”meskipun belum baligh, Anas bin Malik sudah biasa meminta izin kepada rasulullah saw jika hendak menemui istri-istri beliau. Demikian pulalah yang dilakukan para sahabat terhadap anak-anak dan budak-budak mereka.[4]
4.      Mencarikan pendidikan dan lingkungan yang baik bagi sianak.
a.       Rumah.
Rumah adalah tempat pendidikan pertama kali bagi seorang anak dan merupakan tempat yang paling berpengaruh terhadap pola hidup seorang anak. Anak yang hidup di tengah keluarga yang harmonis, yang selalu melakukan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, sunah-sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ditegakkan dan terjaga dari kemungkaran, maka ia akan tumbuh menjadi anak yang taat dan pemberani.
Oleh karena itu, setiap orang tua muslim harus memperhatikan kondisi rumahnya. Ciptakan suasana yang Islami, tegakkan sunnah, dan hindarkan dari kemungkaran. Mohonlah pertolongan kepada Allah agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang bertauhid, berakhlak dan beramal sesuai dengan sunnah Rasulullah serta mengikuti jejak para salafush-shalih.
لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتُكُمْ مَقَابِرَ , إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ
Artinya: "Janganlah engkau jadikan rumahmu seperti kuburan; sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat al-Baqarah"
Dalam hadits ini, terdapat anjuran untuk memperbaiki rumah supaya tidak seperti kuburan dan menjadi sarang setan, sehingga anak-anak yang tumbuh di dalamnya jauh dari Islam, bahkan kemungkaran setiap saat terjadi di rumahnya dan percekcokan orang tuanya menghiasi hidupnya, maka tidak disangsikan anak akan tumbuh menjadi anak yang keras dan kasar.
b.      Sekolah.
Sekolah merupakan lingkungan baru bagi anak. Tempat bertemunya ratusan anak dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda, baik status sosial maupun agamanya. Di sekolah inilah anak akan terwarnai oleh berbagai corak pendidikan, kepribadian dan kebiasaan, yang dibawa masing-masing anak dari lingkungan dan kondisi rumah tangga yang berbeda-beda.
Seorang pengajar adalah merupakan figur dan tokoh yang menjadi panutan anak-anak dalam mengambil semua nilai dan pemikiran tanpa memilah antara yang baik dengan yang buruk. Karena anak-anak memandang, guru adalah sosok yang disanjung, didengar dan ditiru, sehingga pengaruh guru sangat besar terhadap kepribadian dan pemikiran anak. Oleh sebab itu, seorang pengajar harus membekali diri dengan ilmu dîn (agama) yang Shahîh sesuai dengan pemahaman Salafush-Shalih dan akhlak yang mulia, serta rasa sayang kepada anak didik.
Selain dari lingkungan sekolah dan rumah ada lagi yang perlu diperhatikan oleh orang tua adalah pengaruh tekhnology dan media cetak, baik dari televisi, internet dan bacaan yang dikomsumsi oleh anak.
Dalam bahasa psikologi faktor yang membentuk kepribadian anak ada 3:
a.       Aliran Emperisme, yang menitik beratkan bahwa lingkungan penyebab utam timbulnya suatu tingkah laku.
b.      Aliran Ativisme, yang menitik beratkanbahwa kepribadian dan sifat itu adalah sifat bawaan dan keturunan.
c.       Aliran konvergensi, ini adalah aliran yang menyatukan pendapat kedua aliran diatas, bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya terbentuk karena lingkungan saja tapi bawaan emosi dari lahir juga sangat mempengaruhi tingkah laku seseorang.[5]
Jadi tiap-tiap pertumbuhan anak-anak adalah fase-fase emas yang harus dibekali oleh pengaruh agama, karena itu adalah yang akan membentenginya kelak dari pengaruh negatif yang akan mewarnainya ketika ia sudah remaja atau dewasa.







KESIMPULAN DAN PENUTUP
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan itu sangat penting bagi pembentukan kepribadian anak sebelum ia beranjak pada masa remaja dan dewasa, sehingga dibutuhkan semua pihak untuk bekerja sama dalam pembentukan kepribadian anak, baik dari lingkungan dan keluarga.
Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992).
Bagaimana Membentuk pribadi seorang anak:Menanamkan Aqidah Pada Anak, Melatihnya beribadah, Membiasakan Anak Meminta Izin, Mencarikan pendidikan dan lingkungan yang baik bagi sianak, baik dari pemilihan lingkungan tempat anak berkembang atau sekolah tempat anak menimba ilmu.
Dalam bahasa psikologi faktor yang membentuk kepribadian anak ada 3:
d.      Aliran Emperisme, yang menitik beratkan bahwa lingkungan penyebab utam timbulnya suatu tingkah laku.
e.       Aliran Ativisme, yang menitik beratkanbahwa kepribadian dan sifat itu adalah sifat bawaan dan keturunan.
Aliran konvergensi, ini adalah aliran yang menyatukan pendapat kedua aliran diatas, bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya terbentuk karena lingkungan saja tapi bawaan emosi dari lahir juga sangat mempengaruhi tingkah laku seseorang.
























[2] Psikologi anak dan remaja.2001. Mahfudz Jamaluddin.Jakarta;Pustaka Al-kautsar.hal 125
[3] http://www.kitabuahhati.com/ykbh/article/melatih-anak-beribadah-sejak-dini.html
[4] Op.cit, Psikologi untuk Anak dan Remaja, hal 140
[5] Islam dan Psikologi.Hartati Netty Dkk.200.Jakarta; Rajawali press.hal 177

Tidak ada komentar:

Posting Komentar