EJAAN BAHASA INDONESIA
A.
Penulisan Huruf
Ada 26 huruf yang digunakan dalam abjad bahasa Indonesia yaitu:
Aa, Bb, Cc, Dd, Ee, Ff, Gg, Hh, Ii, Jj, Kk, Ll, Mm, Nn, Oo, Pp, Qq,
Rr, Ss, Tt, Uu, Vv, Ww, Xx, Yy, Zz.
Selain dari huruf abjad diatas dalam bahasa Indonesia terdapat:
Huruf vocal: a, i, u, e, o.
Huruf konsonan: b, c, d, f, g, h. j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v,
x, y, z.
Huruf diftong: ai, au, oi.
Gabungan konsonan: sy, kh, ng, ny.
B.
Pemakaian Huruf Capital.
Huruf kapital
atau huruf besar selalu dipakai saat-saat tertentu seperti:
1.
huruf
pertama kata pada awal kalimat, contoh:
Dia membaca buku.
Apa maksudnya?
Kita harus bekerja keras.
Pekerjaan itu akan selesai dalam satu
jam.
2.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung, contoh:
Orang itu menasihati anaknya, "Berhati-hatilah,
Nak!"
"Kemarin engkau terlambat," katanya.
"Besok pagi," kata Ibu, "dia akan
berangkat."
3.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan ungkapan yang berhubungan
dengan agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan, contoh:
Islam-Qur’an
Kristen-Kitab/Injil
Allah
Yang Maha Pengasih
Tuhan akan menunjukkan hidayah pada hamba-Nya
Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau
beri rahmat.
4.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan
keagamaan yang diikuti nama orang, contoh:
Sultan Hasanuddin
Haji Agus Salim
Imam Syafii
Nabi Ibrahim
Catatan: huruf
kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan,
dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang, contoh:
Dia baru saja diangkat menjadi sultan.
Pada tahun ini dia pergi naik haji.
Ilmunya belum seberapa, tetapi lagaknya sudah seperti kiai.
5.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan yang diikuti nama orang,
nama instansi, atau nama tempat yang digunakan sebagai pengganti nama orang
tertentu, contoh:
Wakil Presiden Adam Malik
Perdana Menteri Malaysia
Profesor Supomo
Laksamana Muda Udara
Husein Sastranegara
Sekretaris Jenderal Departemen
Pertanian
Gubernur Jawa Tengah
6.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan atau nama instansi yang
merujuk kepada bentuk lengkapnya, contoh:
Sidang itu dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia.
Sidang itu dipimpin Presiden.
Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen Pendidikan
Nasional.
Kegiatan
itu sudah direncanakan oleh Departemen.
Catatan: Huruf
kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak
merujuk kepada nama orang, nama instansi, atau nama tempat tertentu, contoh:
Berapa orang camat yang hadir dalam rapat itu?
Devisi itu dipimpin oleh seorang mayor jenderal.
Di setiap departemen terdapat seorang inspektur jenderal.
7.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama orang, contoh:
Helmi Ali Akbar
Wike Octora Olivia
Wage Rudolf Supratman
Catatan:
·
huruf
kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama seperti pada de, van,
dan der (dalam nama Belanda), von (dalam nama Jerman), atau da
(dalam nama Portugal).
J.J de Hollander
J.P. van Bruggen
H. van der Giessen
Otto von Bismarck
Vasco da Gama
·
Dalam nama
orang tertentu, huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata
bin atau binti, contoh:
Abdul Rahman bin Zaini
Ibrahim bin Adam
Siti Fatimah binti Salim
Zaitun binti Zainal
8.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama singkatan nama orang yang digunakan
sebagai nama jenis atau satuan ukuran, contoh:
N - Newton
pascal second – Pas
J/K
atau JK-1 - joule per Kelvin
Catatan: Huruf
kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai
nama jenis atau satuan ukuran, contoh:
mesin diesel
10 volt
5 ampere
9.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa,
contoh:
bangsa Eskimo
suku Sunda
bahasa
Indonesia
Catatan: Huruf
kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang
digunakan sebagai bentuk dasar kata turunan, contoh:
pengindonesiaan kata asing
keinggris-inggrisan
kejawa-jawaan
10.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari raya, contoh:
tahun Hijriah tarikh
Masehi
bulan Maret hari Natal
hari Jum’at bulan Maulid
hari Lebaran
11.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama peristiwa sejarah,
contoh:
Perang Badar
Perang Dunia I
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Catatan: Huruf
kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak
digunakan sebagai nama, contoh:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa
Indonesia.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.
12.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama diri geografi, contoh:
Banyuwangi Asia
Tenggara
Cirebon Amerika
Serikat
Eropa Jawa
Barat
13.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama geografi yang diikuti
nama diri geografi, contoh:
Bukit Barisan Danau
Toba
Dataran Tinggi Dieng Gunung
Merapi
Jalan Diponegoro Jazirah
Arab
Ngarai Sianok Pegunungan
Jayawijaya
Selat Malaka Terusan
Suez
Sungai Musi
14.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama nama diri atau nama diri geografi jika
kata yang mendahuluinya menggambarkan kekhasan budaya, contoh:
Ukiran Jepara
Asinan Bogor
Tari Melayu
Mpek
mpek Palembang
Catatan:
·
Huruf
kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur geografi yang tidak diikuti
oleh nama diri geografi, contoh:
Berlayar ke teluk mandi di danau
Berenang disungai menyeberangai selat
·
Huruf
kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama diri geografi yang digunakan
sebagai penjelas nama jenis, contoh:
Kunci inggris
Petai cina
Pisang ambon
15.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama resmi negara, lembaga
resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi, kecuali kata
tugas, seperti dan, oleh, atau, dan untuk, contoh:
Republik Indonesia
Departemen Keuangan
Majelis Permusyawaratan Rakyat
Keputusan Presiden Republik
Indonesia Nomor 57 Tahun 1972
Badan Kesejahteraan Ibu
dan Anak
Catatan: Huruf
kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara,
lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi, contoh:
beberapa badan hukum
kerja sama antara pemerintah dan rakyat
menjadi sebuah republik
menurut undang-undang yang berlaku
16.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang
terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dokumen resmi,
dan judul karangan, contoh:
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Rancangan Undang-Undang Kepegawaian
Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial
Dasar-Dasar Ilmu Pemerintahan
17.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata
ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali
kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang,
dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal, contoh:
Saya telah membaca buku Dari Sujud ke Sujud
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia menyelesaikan makalah "Asas-Asas Hukum Perdata".
18.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan
sapaan yang digunakan dengan nama diri, contoh:
Dr. doctor K.H kiai haji
S.E sarjana ekonomi Sdr saudara
S.H sarjana hokum Ny nyonya
S.Kep sarjana keperawatan Prof profesor
M.A master of arts S.Pdi sarjana pendidikan islam
Catatan: Gelar
akademik dan sebutan lulusan perguruan tinggi, termasuk singkatannya, diatur
secara khusus dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia Nomor 036/U/1993.
19.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan,
seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik,
dan paman, yang digunakan dalam penyapaan atau pengacuan, contoh:
Adik bertanya, "Itu apa, Bu?"
Besok Paman akan datang.
Surat Saudara sudah saya terima.
"Kapan Bapak berangkat?" tanya Harto.
"Silakan
duduk, Dik!" kata orang itu.
Catatan: Huruf
kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan
yang tidak digunakan dalam pengacuan atau penyapaan, contoh:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
Dia tidak mempunyai saudara yang tinggal di Jakarta.
20.
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama kata Anda yang digunakan dalam
penyapaan, contoh:
Sudahkah Anda tahu?
Siapa nama Anda?
Surat Anda telah kami terima dengan baik.
C.
Penulisan huruf bercetak miring.
1.
Huruf
miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat
kabar yang dikutip dalam tulisan, contoh:
Saya belum pernah membaca buku Surat
Kecil untuk Tuhan karangan Agnes Davowar
Majalah Bahasa dan Sastra
diterbitkan oleh Pusat Bahasa.
Berita itu muncul dalam surat kabar Suara
Merdeka.
Catatan: Judul
skripsi, tesis, atau disertasi yang belum diterbitkan dan dirujuk dalam tulisan
tidak ditulis dengan huruf miring, tetapi diapit dengan tanda petik.
2.
Huruf
miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian
kata, kata, atau kelompok kata, contoh:
Huruf pertama kata abad adalah
a.
Dia bukan menipu, melainkan ditipu.
Bab ini tidak membicarakan
pemakaian huruf kapital.
Buatlah kalimat dengan menggunakan
ungkapan berlepas tangan.
3.
Huruf
miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan yang bukan
bahasa Indonesia, contoh:
Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia
mangostana.
Orang tua harus bersikap tut wuri
handayani terhadap anak.
Politik devide et impera
pernah merajalela di negeri ini.
Weltanschauung dipadankan dengan 'pandangan dunia'.
Catatan:
·
Ungkapan
asing yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia penulisannya diperlakukan
sebagai kata Indonesia.
Negara itu telah mengalami empat kali kudeta.
Korps
diplomatik memperoleh perlakuan khusus.
·
Dalam
tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring
digarisbawahi.
D.
Penulisan Kata.
a) Kata Dasar, Kata yang berupa kata
dasar ditulis sebagai satu kesatuan, contoh:
Buku itu sangat menarik.
Ibu sangat mengharapkan
keberhasilanmu.
Kantor pajak penuh sesak.
Dia bertemu dengan kawannya di kantor
pos.
b)
Kata turunan:
1.
Imbuhan
(awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya, contoh:
Berjalan kemauan
Dipermainkan lukisan
Gemetar petani
o
Imbuhan
dirangkaikan dengan tanda hubung jika ditambahkan pada bentuk singkatan atau
kata dasar yang bukan bahasa Indonesia, contoh:
mem-PHK-kan
di-PTUN-kan
di-upgrade
me-recall
·
Jika
bentuk dasarnya berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai
dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya, contoh:
bertepuk
tangan
garis bawahi
menganak
sungai
sebar luaskan
·
Jika
bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus,
unsur gabungan kata itu ditulis serangkai, contoh:
dilipatgandakan
menggarisbawahi
menyebarluaskan
penghancurleburan
pertanggungjawaban
·
Jika salah
satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu
ditulis serangkai:
Adipati prasangka
Paripurna narapidana
Ekstrakurikuler transmigrasi
Poligami pascasarjana
Mahasiswa mancanegara
c)
Bentuk kata ulang
Bentuk kata ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung, contoh:
Buku-buku mondar-mandir
Meja-meja mata-mata
Sayur-mayur ramah-tamah
Terus-menerus hati-hati
Jalan-jalan tukar-menukar
d)
Gabungan kata
·
Gabungan
kata/kata majemuk ditulis terpisah, contoh:
Orang tua rumah sakit
·
Gabungan
kata yang mungkin menimbulkan makna ganda, contoh:
Anak-istri (anak dan istri)
Buku – sejarah baru (buku sejarah yang baru)
Buku sejarah – baru (sejarahnya baru)
·
Gabungan
kata yang sudah lazim dan dianggap sebagai satu kesatuan ditulis serangkai,
contoh:
Halalbihalal segitiga
Barangkali sukacita
Olahraga saputangan
Matahari peribahasa
e)
Kata ganti
Kata ganti ku, mu, nya dan kau dengan kata yang mengikutinya atau
yang mendahuluinya, kecuali pada Mu dan Nya yang mengacu pada tuhan ditulis
dengan huruf kapital dan diberi tanda hubung (-), contoh:
Nasehat orang tua harus kauperhatikan
Anakku, anakmu dan anaknya sudah mengikuti bimbingan belajar itu
Yaa Allah hanya kepada-Mulah kami minta pertolongan
f)
Kata depan
Kata depan di, ke, dari
ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali yang sudah dianggap
sebagai satu kesatuan seperti kepada
dan daripada contoh:
Di mana ada gula, di situ ada
semut
Pencuri itu keluar dari
pintu belakang
Mahasiswi itu akan berangkat ke
luar negeri
g)
Kata sandang.
Kata sandang si, sang, hang,
dang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Contoh: Baron dijuluki “si
mulut besar”
h)
Partikel
·
Partikel
lah, kah tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya, contoh:
Pergilah sekarang!
·
Partikel pun
ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya, contoh:
Apa pun permasalahannya, dia dapat mengatasinya
dengan bijaksana.
Hendak pulang tengah malam pun masih ada
kendaraan.
Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum
pernah datang ke rumahku.
Jika Ayah membaca di teras, Adik pun
membaca di tempat itu.
Kata yang sudah dianggapa padu
ditulis serangkai seperti meskipun, walaupun, bagaimanapun, sekalipun,
andaipun, ataupun, kalaupun, meskipun, sekalipun.
·
Partikel
per yang berarti “mulai”, “demi”, “tiap” ditulis terpisah seperti:
Mereka masuk satu per satu
Harga kertas sekarang Rp.25.000,00
per rim
i)
Singkatan Dan Akromin
Singkatan ialah bentuk singkat yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
·
Singkatan
nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda
titik di belakang tiap-tiap singkatan itu, contoh:
A.H nasution Abdul Haris Nasution
M.Si magister sains
S.Kom sarjana komunikasi
M.B.A master
of business administration
·
Singkatan
nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta
nama dokumen resmi yang terdiri atas gabungan huruf awal kata ditulis dengan
huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik, seperti:
DPR Dewan
Perwakilan Rakyat
PBB Perserikatan
Bangsa Bangsa
WHO World
Health Organization
PT Persesoan
Terbatas
SD Sekolah
Dasar
·
Singkatan
kata yang berupa gabungan huruf diikuti dengan tanda titik, contoh:
Jml. jumlah
Kpd. kepada
Tgl. tanggal
Yg. Yang
No nomor
·
Singkatan
gabungan kata yang terdiri atas tiga huruf diakhiri dengan tanda titik,
seperti:
Yth. Yang
terhormat
Dsb. dan
sebagainya
Dst. Dan
seterusnya
Catatan:
singkatan ini dapat digunakan untuk keperluan khusus, seperti dalam pembuatan
catatan rapat dan kuliah.
·
Singkatan
kata yang terdiri atas dua huruf (biasa digunakan dalam surat-menyurat)
masing-masing diikuti oleh tanda titik, seperti:
a.n. atas
nama
d.a. dengan
alamat
u.b. untuk
beliau
·
Lambang
kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti
tanda dengan titik, contoh:
Cm centimeter
Kg kilogram
L liter
Rp. rupiah
Akromin, Akronim ialah singkatan
dari dua kata atau lebih yang diperlakukan sebagai sebuah kata.
·
Akronim
nama diri yang berupa gabungan huruf awal unsur-unsur nama diri ditulis
seluruhnya dengan huruf kapital tanpa tanda titik, contoh:
LIPI Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia.
STIT Sekolah
Tinggi Ilmu Tarbiyyah
PASI Persatuas
Atletik Seluruh Indonesia
SIM Surat
Izin Mengemudi
·
Akronim
nama diri yang berupa singkatan dari beberapa unsur ditulis dengan huruf awal
kapital, contoh:
Bulog Badan Urusan Logistik
Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Catatan: Jika pembentukan akronim dianggap perlu,
hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut:
·
Jumlah
suku kata akronim tidak melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata
Indonesia (tidak lebih dari tiga suku kata).
·
Akronim
dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang
sesuai dengan pola kata bahasa Indonesia yang lazim agar mudah diucapkan dan
diingat.
j)
Angka Dan Lambang Bilangan
Bilangan dapat dinyatakan dengan angka atau kata. Angka dipakai
sebagai lambang bilangan atau nomor.
·
Bilangan
dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan
huruf, kecuali jika bilangan itu dipakai secara berurutan seperti dalam
perincian atau paparan, contoh:
- Mereka menonton drama itu sampai tiga kali.
- Koleksi perpustakaan itu mencapai dua juta
buku.
- Di antara 72 anggota yang hadir 52 orang
setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orangtidak memberikan suara.
- Kendaraan yang dipesan untuk
angkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 minibus, dan 250
sedan.
·
Bilangan
pada awal kalimat ditulis dengan huruf, jika lebih dari dua kata, susunan
kalimat diubah agar bilangan yang tidak dapat ditulis dengan huruf itu tidak ada
pada awal kalimat, contoh:
- Lima puluh siswa kelas
6 lulus ujian.
- Panitia mengundang 250 orang
peserta.
·
Angka yang
menunjukkan bilangan utuh besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca,
contoh:
-
Perusahaan
itu baru saja mendapat pinjaman 550 miliar rupiah.
-
Dia
mendapatkan bantuan Rp250 juta rupiah untuk mengembangkan usahanya.
-
Proyek
pemberdayaan ekonomi rakyat itu memerlukan biaya Rp10 triliun.
k)
Pembentukan istilah dan penulisan unsur serapan.
Istilah adalah kataatau gabungan kata yang dengan cermat menyebutkan
makna konsep, proses keadaan atau sifat yang khas dalam bidang tertentu.
Beberapa sumber istilah bahasa yang dapat diambil sebagai istilah:
1. Bahasa
Indonesia/melayu
·
Kata yang
paling tepat mengungkapkan makna konsep, proses, dan keadaan, contoh:
-
Bea pajak barang
masuk dan keluar
-
Cukai pajak hasil perusahaan atau
industry
-
Pajak iuran wajib dari rakyat sebagai
sumbangan kepada Negara
·
Kata yang
paling singkat dari pada yang lain yang berujukan sama, contoh:
-
Gulma tumbuhan pengganggu
-
Suaka perlindungan
-
Kosa perbendaharaan
·
Kata yang
bernilai rasa baik dan enak didengar, contoh:
-
Pramuniaga pelayan toko
besar
-
Pembantu babu/jongos
-
Karyawan pekerja/buruh
-
Pramuwisata penunjuk jalan
2. Bahasa –
bahasa daerah serumpun
Bahasa Indonesia masih kekurangan
kata-kata yang bernilai rasa atau kata-kata efektif yang melambangkan curahan
hati masyarakat, kata-kata yang sering digunakan dalam pemakaian bahasa
Indonesia adalah:
-
Sempoyongan terhuyung-huyung seperti hendak jatuh
-
Bertele-tele berbicara tidak
jelas ujung pangkalnya
-
Bobrok rusak sama sekali
-
Langka susah didapat
-
Tuntas selesai sepenuhnya
-
Pesangon uang untuk karyawan yang
diberhentikan
3. Bahasa
asing
Pemakaian bahasa asing dapat
dilakukan apabila memenuhi syarat sebagai berikut:
·
Istilah
bahasa asing lebih cocok konotasinya atau lebih bermakna daripada persediaan
kata yang ada, contoh:
-
Konfirmasi penegasan atau pengesahan
-
Amatir tanpa bayaran
-
Logis masuk akal
-
Spontan tanpa
diminta-minta/dengan sendirinya
·
Istilah
asing yang dipilih lebih singkat daripada terjemahannya, contoh:
-
Dokumen surat-surat penting yang
jadi bukti
-
Etiket cara kesopanan yang
dilazimkan
Terkadang
terdapat istilah bahasa asing yang diizinkan dipakai dalam bahasa Indonesia,
contoh:
-
Manager pengelola
-
Temperature suhu
-
Kreativitas daya cipta
-
Sector bidang
Cara memasukkan
istilah bahasa asing dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1.
Melalui
penerimaan secara utuh
Diterima sebagaimana adanya dalam bahasa aslinya, ini jika istilah
tersebut bersifat internasional atau orang belum menemukan padanannnya dalam
bahasa Indonesia, contoh:
-
De jure menurut hokum
-
De fakto menurut kenyataan
-
Cum laude dengan pujian
2.
Melalui
terjemahan
Dalam menterjemahkan istilah asing yang penting ialah kesamaan makna
konteks, bukan makna harfiahnya, contoh:
-
Up to date mutakhir
-
Bilateral dua pihak
-
Feedback umpan balik
3.
Melalui
adaptasi: penyesuaian ejaan/system bunyi bahasa Indonesia:
-
Integration integrasi
-
Research riset
-
University universitas
l)
Pemakaian Tanda Baca
1)
Tanda titik, dipakai pada:
-
Pada akhir
kalimat, contoh saya makan nasi.
-
Pada
singkatan nama orang, contoh: George
W. Bush
-
Pada akhir
singkatan nama gelar, jabatan, pangkat dan sapaan, contoh:
§
Dr.
§
Prof.
§
Bpk.
-
Pada
singkatan dan ungkapan yang sangat umum, contoh:
o
Dll.
o
Dsb.
o
Tgl.
-
dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan
detik yang menunjukkan waktu atau jangka waktu, contoh:
Pukul 7.10.12 (pukul 7 lewat 10 menit 12 detik)
Pukul 7.10.12 (pukul 7 lewat 10 menit 12 detik)
-
dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau
kelipatannya, contoh:
Kota kecil itu
berpenduduk 51.156 orang.
2)
Tanda koma, dipakai pada:
-
dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu
pemerincian atau pembilangan,contoh:
Saya menjual
baju, celana, dan topi.
-
dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang
satu dari kalimat setara yang berikutnya, yang didahului oleh kata seperti,
tetapi, dan melainkan, contoh:
Saya bergabung
dengan Wikipedia, tetapi tidak aktif.
-
dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari
induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya,
contoh:
Kalau hari hujan,
saya tidak akan datang.
-
dipakai di belakang kata atau ungkapan
penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya
oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan
tetapi, contoh:
oleh karena itu, kamu harus datang
jadi, saya tidak dating.
-
dipakai di belakang kata-kata seperti o, ya,
wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat, contoh:
o, begitu
wah, bukan main hebatnya.
-
dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari
bagian lain dalam kalimat.
Contoh: Kata adik, "Saya sedih sekali".
Contoh: Kata adik, "Saya sedih sekali".
-
dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii)
bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan
wilayah atau negeri yang ditulis berurutan, contoh:
Medan, 18 Juni
1984
-
dipakai untuk menceraikan bagian nama yang
dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Contoh: Lanin, Ivan, 1999. Cara Penggunaan Wikipedia. Jilid 5 dan 6. Jakarta: PT Wikipedia Indonesia.
Contoh: Lanin, Ivan, 1999. Cara Penggunaan Wikipedia. Jilid 5 dan 6. Jakarta: PT Wikipedia Indonesia.
-
dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan
kaki.
Contoh: I. Gatot, Bahasa Indonesia untuk Wikipedia. (Bandung: UP Indonesia, 1990), hlm. 22.
Contoh: I. Gatot, Bahasa Indonesia untuk Wikipedia. (Bandung: UP Indonesia, 1990), hlm. 22.
-
dipakai di antara nama orang dan gelar
akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri,
keluarga, atau marga.
contoh: Rinto Jiang, S.E.
contoh: Rinto Jiang, S.E.
-
dipakai di muka angka persepuluhan atau di
antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka, contoh:
3,55 m
Rp.10,50
-
dipakai untuk mengapit keterangan tambahan
yang sifatnya tidak membatasi.
Contoh: pengurus Wikipedia favorit saya, Borgx, pandai sekali.
Contoh: pengurus Wikipedia favorit saya, Borgx, pandai sekali.
-
dipakai untuk menghindari salah baca di
belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
Contoh: Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.
Contoh: Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.
3) Tanda Titik Koma
(;)
-
dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian
kalimat yang sejenis dan setara.
Contoh: Malam makin larut; kami belum selesai juga.
Contoh: Malam makin larut; kami belum selesai juga.
-
dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang
setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Contoh: Ayah mengurus tanamannya di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur; adik menghafalkan nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran pilihan pendengar.
Contoh: Ayah mengurus tanamannya di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur; adik menghafalkan nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran pilihan pendengar.
4)
Tanda Titik Dua (:)
-
dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap
bila diikuti rangkaian atau pemerian.
Contoh:
Kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
Contoh:
Kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
Fakultas itu mempunyai dua jurusan:
Ekonomi Umum dan Ekonomi Perusahaan.
-
dipakai sesudah kata atau ungkapan yang
memerlukan pemerian.
Contoh:
Ketua : Wike Oktora Olivia
Wakil Ketua : Sofianti Hamzah
Sekretaris : Wirda Faska
Wakil Sekretaris : Nabila Azizah
Bendahara : Fitriani
Wakil bendahara : Dina Hudayani
Contoh:
Ketua : Wike Oktora Olivia
Wakil Ketua : Sofianti Hamzah
Sekretaris : Wirda Faska
Wakil Sekretaris : Nabila Azizah
Bendahara : Fitriani
Wakil bendahara : Dina Hudayani
-
dipakai dalam teks drama sesudah kata yang
menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Contoh:
Wike : "Jangan lupa perbaiki halaman bantuan Wikipedia!"
Wirda : "Siap, Boss!"
Contoh:
Wike : "Jangan lupa perbaiki halaman bantuan Wikipedia!"
Wirda : "Siap, Boss!"
-
dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan
halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab-kitab suci, atau (iii) di
antara judul dan anak judul suatu karangan.
Contoh:
(i) Tempo, I (1971), 34:7
(ii) Surah Yasin:9
(iii) Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.
Contoh:
(i) Tempo, I (1971), 34:7
(ii) Surah Yasin:9
(iii) Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.
-
dipakai untuk menandakan nisbah (angka
banding).
Contoh: Nisbah siswa laki-laki terhadap perempuan ialah 2:1.
Contoh: Nisbah siswa laki-laki terhadap perempuan ialah 2:1.
Catatan: titik dua
(:) tidak dipakai
kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri
pernyataan.
Contoh: Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
Contoh: Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
5)
Tanda Hubung (-):
-
menyambung unsur-unsur kata ulang.
Contoh: anak-anak, berulang-ulang, kemerah-merahan
Contoh: anak-anak, berulang-ulang, kemerah-merahan
-
menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan
bagian-bagian tanggal, contoh:
p-e-n-g-u-r-u-s
31-10-1991
-
dapat dipakai untuk memperjelas hubungan
bagian-bagian ungkapan, contoh:
ber-evolusi.
-
dipakai untuk merangkaikan (a) se-
dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital; (b) ke- dengan
angka, (c) angka dengan -an, (d) singkatan berhuruf kapital dengan
imbuhan atau kata, dan (e) nama jabatan rangkap.
Contoh:
Contoh:
tahun
50-an
ber-SMA
KTP-nya
nomor 11111
sinar-X
Menteri-Sekretaris
Negara
Se-indonesia
Hadiah
ke-2
-
dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa
Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Contoh:
di-charter
Contoh:
di-charter
pen-tackle-an
6)
Tanda Elipsis (...)
-
dipakai dalam kalimat yang terputus-putus,
misalnya untuk menuliskan naskah drama.
Contoh: Kalau begitu ... ya, marilah kita bergerak.
Contoh: Kalau begitu ... ya, marilah kita bergerak.
-
menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau
naskah ada bagian yang dihilangkan, misalnya dalam kutipan langsung.
Contoh: Sebab-sebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.
Contoh: Sebab-sebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.
Catatan: Jika
bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah
titik; tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir
kalimat.
Contoh: Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati ....
Contoh: Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati ....
7)
Tanda Tanya (?)
-
dipakai pada akhir tanya.
Contoh:
Contoh:
Kapan
ia berangkat?
Saudara
tahu, bukan?
-
dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan
bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Contoh:
Contoh:
Ia
dilahirkan pada tahun 1683 (?).
Uangnya
sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.
8)
Tanda Seru (!)
-
dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang
berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan,
ataupun rasa emosi yang kuat.
Contoh:
Contoh:
Alangkah
mengerikannya peristiwa itu!
Bersihkan
meja itu sekarang juga!
Sampai
hati ia membuang anaknya!
Merdeka!
Catatan: Oleh
karena itu, penggunaan tanda seru umumnya tidak digunakan di dalam tulisan
ilmiah atau ensiklopedia. Hindari penggunaannya kecuali dalam kutipan
atau transkripsi drama.
9)
Tanda Kurung ((...))
-
mengapit keterangan atau penjelasan.
Contoh: Bagian Keuangan menyusun anggaran tahunan kantor yang kemudian dibahas dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) secara berkala.
Contoh: Bagian Keuangan menyusun anggaran tahunan kantor yang kemudian dibahas dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) secara berkala.
-
mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan
bagian integral pokok pembicaraan.
Contoh:
Contoh:
Satelit
Palapa (pernyataan sumpah yang dikemukakan Gajah Mada) membentuk sistem satelit
domestik di Indonesia.
Pertumbuhan
penjualan tahun ini (lihat Tabel 9) menunjukkan adanya perkembangan baru dalam
pasaran dalam negeri.
-
mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di
dalam teks dapat dihilangkan.
Contoh:
Contoh:
Kata
cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a)
Pembalap
itu berasal dari (kota) Medan.
-
mengapit angka atau huruf yang memerinci satu
urutan keterangan.
Contoh: Bauran Pemasaran menyangkut masalah (a) produk, (b) harga, (c) tempat, dan (c) promosi.
Contoh: Bauran Pemasaran menyangkut masalah (a) produk, (b) harga, (c) tempat, dan (c) promosi.
Catatan: Hindari penggunaan dua pasang atau lebih
tanda kurung yang berturut-turut. Ganti tanda kurung dengan koma, atau tulis
ulang kalimatnya.
Contoh:
Contoh:
- Tidak tepat: Nikifor Grigoriev
(c. 1885–1919) (dikenal juga sebagai Matviy Hryhoriyiv) merupakan seorang
pemimpin Ukraina.
- Tepat: Nikifor Grigoriev (c.
1885–1919), dikenal juga sebagai Matviy Hryhoriyiv, merupakan seorang
pemimpin Ukraina.
- Tepat: Nikifor Grigoriev (c.
1885–1919) merupakan seorang pemimpin Ukraina. Dia juga dikenal sebagai
Matviy Hryhoriyiv.
10)
Tanda Kurung Siku ([...])
-
mengapit huruf, kata, atau kelompok kata
sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis
orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang
terdapat di dalam naskah asli.
Contoh: Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
Contoh: Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
-
mengapit keterangan dalam kalimat penjelas
yang sudah bertanda kurung.
Contoh: Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35–38]) perlu dibentangkan di sini.
Contoh: Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35–38]) perlu dibentangkan di sini.
11)
Tanda Petik ("...")
-
mengapit petikan langsung yang berasal dari
pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.
Contoh:
Contoh:
"Saya
belum siap," kata Mira, "tunggu sebentar!"
Pasal
36 UUD 1945 berbunyi, "Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia."
-
mengapit judul syair, karangan, atau bab buku
yang dipakai dalam kalimat.
Contoh:
Contoh:
Bacalah
"Bola Lampu" dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.
Karangan
Andi Hakim Nasoetion yang berjudul "Rapor dan Nilai Prestasi di SMA"
diterbitkan dalam Tempo.
Sajak
"Berdiri Aku" terdapat pada halaman 5 buku itu.
-
mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal
atau kata yang mempunyai arti khusus.
Contoh:
Contoh:
Pekerjaan
itu dilaksanakan dengan cara "coba dan ralat" saja.
Ia
bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama
"cutbrai".
-
Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri
petikan langsung.
Contoh: Kata Tono, "Saya juga minta satu."
Contoh: Kata Tono, "Saya juga minta satu."
-
Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat
ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan
yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.
Contoh:
Contoh:
Karena
warna kulitnya, Budi mendapat julukan "Si Hitam".
Bang
Komar sering disebut "pahlawan"; ia sendiri tidak tahu sebabnya.
12)
Tanda Petik Tunggal ('...')
-
Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di
dalam petikan lain.
Contoh:
Contoh:
Tanya Basri, "Kau dengar bunyi
'kring-kring' tadi?"
"Waktu kubuka pintu depan,
kudengar teriak anakku, 'Ibu, Bapak pulang', dan rasa letihku lenyap
seketika," ujar Pak Hamdan.
-
Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau
penjelasan kata atau ungkapan asing.
Contoh: feed-back 'balikan'
Contoh: feed-back 'balikan'
13)
Tanda Garis Miring (/)
-
Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan
nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun
takwim.
Contoh:
Contoh:
No. 7/PK/1973
Jalan Kramat III/10
tahun anggaran 1985/1986
-
Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata tiap,
per atau sebagai tanda bagi dalam pecahan dan rumus matematika.
Contoh:
Contoh:
harganya Rp125,00/lembar (harganya
Rp125,00 tiap lembar)
kecepatannya 20 m/s (kecepatannya 20
meter per detik)
-
Tanda garis miring sebaiknya tidak dipakai untuk
menuliskan tanda aritmetika dasar dalam prosa. Gunakan tanda bagi
÷ .
Contoh: 10 ÷ 2 = 5.
Contoh: 10 ÷ 2 = 5.
Catatan: sebaiknya tidak dipakai sebagai
pengganti kata atau.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar