Blogroll

Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Oktober 2012

Ibnu Sina




Ibnu Sina
"by: Wieke"

Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Beliau juga seorang penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, beliau adalah “Bapak Pengobatan Modern” dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.

Dia adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak diantaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Dia dianggap oleh banyak orang sebagai “bapak kedokteran modern.” George Sarton menyebut Ibnu Sina “ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu.” pekerjaannya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At Tibb).

Ibnu Sina lahir pada tahun 370 (H) / 980 (M) di rumah ibunya Afshana, sebuah kota kecil sekarang wilayah Uzbekistan (bagian dari Persia). Ayahnya, seorang sarjana terhormat Ismaili, berasal dari Balkh Khorasan, dan pada saat kelahiran putranya dia adalah gubernur suatu daerah di salah satu pemukiman Nuh ibn Mansur, sekarang wilayah Afghanistan (dan juga Persia). Dia menginginkan putranya dididik dengan baik di Bukhara.

Meskipun secara tradisional dipengaruhi oleh cabang Islam Ismaili, pemikiran Ibnu Sina independen dengan memiliki kepintaran dan ingatan luar biasa, yang mengizinkannya menyusul para gurunya pada usia 14 tahun.
Ibnu Sina mengembangkan sistem medis yang menkombinasikan antara pengalaman pribadi dalam pengobatan Islam, sistem pengobatan Yunani dokter Galen,  metafisika Aristoteles serta berbagai sistem pengobatan kuno dari Persia, Mesopotamian dan India. Dia juga penemu dari logika Avicennian dan pendiri sekolah filosofis Avicinna, yang memiliki pengaruh dalam dunia Muslim dan Ilmuwan Modern.

Ibnu Sina dianggap sebagai Bapak dari pengobatan modern, dan pharmacology khususnya untuk pengenalan sistematis eksperimen dan hitungan ke dalam studi fisiologi, penemuan itu menular dari sifat infeksius penyakit, pengenalan karantina untuk membatasi penyebaran penyakit menular, pengenalan percobaan obat-obatan, berdasarkan bukti-obat, uji klinis.

Meskipun bermasalah besar pada masalah - masalah metafisika dan pada beberapa tulisanAristoteles. Sehingga, untuk satu setengah tahun berikutnya, dia juga mempelajari filosofi, dimana dia menghadapi banyak rintangan. pada beberapa penyelidikan yang membingungkan, dia akan meninggalkan buku - bukunya, mengambil air wudhu, lalu pergi ke masjid, dan terus sholat sampai hidayah menyelesaikan kesulitan - kesulitannya. Pada larut malam dia akan melanjutkan kegiatan belajarnya, menstimulasi perasaannya dengan kadangkala segelas susu kambing, dan meskipun dalam mimpinya masalah akan mengikutinya dan memberikan solusinya. Empat puluh kali, dikatakan, dia membaca Metaphysics dari Aristoteles, sampai kata - katanya tertulis dalam ingatannya; tetapi artinya tak dikenal, sampai suatu hari mereka menemukan pencerahan, dari uraian singkat oleh Farabi, yang dibelinya di suatu bookstall seharga tiga dirham. Yang sangat mengagumkan adalah kesenangannya pada penemuan, yang dibuat dengan bantuan yang dia harapkan hanya misteri, yang mempercepat untuk berterima kasih kepada Allah SWT, dan memberikan sedekah atas orang miskin.

Dia mempelajari kedokteran pada usia 16, dan tidak hanya belajar teori kedokteran, tetapi melalui pelayanan pada orang sakit, melalui perhitungannya sendiri, menemukan metode - metode baru dari perawatan. Anak muda ini memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan pada usia 18 tahun dan menemukan bahwa "Kedokteran tidaklah ilmu yang sulit ataupun menjengkelkan, seperti matematika dan metafisika, sehingga saya cepat memperoleh kemajuan; saya menjadi dokter yang sangat baik dan mulai merawat para pasien, menggunakan obat - obat yang sesuai." Kemasyuran sang fisikawan muda menyebar dengan cepat, dan dia merawat banyak pasien tanpa meminta bayaran.

Pada usia 17 tahun, Ibnu Sina berhasil menyembuhkan seorang raja di Bukhara, yaitu Nooh Ibnu Mansoor, setelah semua tabib terkenal yang diundang gagal menyembuhkan sang raja tersebut. Dan sebagai balasannya, Ibnu Sina diizinkan untuk membaca smeua buku-buku di perpustakaan setelah dia menolak pemberian hadiah sang Raja.

Pekerjaan pertamanya menjadi fisikawan untuk emir, yang diobatinya dari suatu penyakit yang berbahaya. Majikan Ibnu Sina memberinya hadiah atas hal tersebut dengan memberinya akses ke perpustakaan raja Samanids, pendukung pendidikan dan ilmu. Ketika perpustakaan dihancurkan oleh api tidak lama kemudian, musuh - musuh Ibnu Sina menuduh din oa yang membakarnya, dengan tujuan untuk menyembunyikan sumber pengetahuannya. Sementara itu, Ibnu Sina membantu ayahnya dalam pekerjaannya, tetapi tetap meluangkan waktu untuk menulis beberapa karya paling awalnya.

Ketika Ibnu Sina berusia 22 tahun, ayahnya meninggal.Samanid dynasty menuju keruntuhannya pada Desember 1004. Ibnu Sina menolak pemberian Mahmud of Ghazni, dan menuju kearah Barat ke Urgench di Uzbekistan modern, dimana vizier, dianggap sebagai teman seperguruan, memberinya gaji kecil bulanan. Tetapi gajinya kecil, sehingga Ibnu Sina mengembara dari satu tempat ke tempat lain melalui distrik Nishapur dan Merv ke perbatasan Khorasan, mencari suatu opening untuk bakat - bakatnya. Shams al-Ma'äli Qäbtis, sang dermawan pengatur Dailam, seorang penyair dan sarjana, yang mana Ibn Sina mengharapkan menemukan tempat berlindung, dimana sekitar tahun (1052) meninggal dibunuh oleh pasukannya yang memberontak. Ibnu Sina sendiri pada saat itu terkena penyakit yang sangat parah. Akhirnya, di Gorgan, dekat Laut Kaspi, Ibnu Sina bertamu dengan seorang teman, yang membeli sebuah ruman didekat rumahnya sendiri idmana Ibnu Sina belajar logika dan astronomi. Beberapa dari buku panduan Ibnu Sina ditulis untuk orang ini ; dan permulaan dari buku Canon of Medicine juga dikerjakan sewaktu dia tinggal di Hyrcania.
Ibnu Sina wafat pada tahun 1037 M di Hamadan, Iran, karena penyakit maag yang kronis. Ia wafat ketika sedang mengajar di sebuah sekolah.

Pemikiran Ibnu Sina

Di antara buku-buku dan risalah yang ditulis oleh Ibnu Sina, kitab al-Syifa’ dalam filsafat dan Al-Qanun dalam ilmu kedokteran dikenal sepanjang massa. Al-Syifa’ ditulis dalam 18 jilid yang membahas ilmu filsafat, mantiq, matematika, ilmu alam dan ilahiyyat. Mantiq al-Syifa’ saat ini dikenal sebagai buku yang paling otentik dalam ilmu mantiq islami, sementara pembahasan ilmu alam dan ilahiyyat dari kitab al-Syifa’ sampai saat ini juga masih menjadi bahan telaah.

Dalam ilmu kedokteran, kitab Al-Qanun tulisan Ibnu Sina selama beberapa abad menjadi kitab rujukan utama dan paling otentik. Kitab ini mengupas kaedah-kaedah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 masehi, kitab Al-Qanun karya Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Kini buku tersebut juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Al-Qanun adalah kitab kumpulan metode pengobatan purba dan metode pengobatan Islam.  Kitab ini pernah menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di universitas-universitas Eropa.

Ibnu juga memiliki peran besar dalam mengembangkan berbagai bidang keilmuan. Beliau menerjemahkan karya Aqlides dan menjalankan observatorium untuk ilmu perbintangan. Dalam masalah energi Ibnu Sina memberikan hasil penelitiannya akan masalah ruangan hampa, cahaya dan panas kepada khazanah keilmuan dunia.

Dikatakan bahwa Ibnu Sina memiliki karya tulis yang dalam bahasa latin berjudul De Conglutineation Lagibum. Dalam salah bab karya tulis ini, Ibnu Sina membahas tentang asal nama gunung-gunung. Pembahasan ini sungguh menarik. Di sana Ibnu Sina mengatakan, “Kemungkinan gunung tercipta karena dua penyebab. Pertama menggelembungnya kulit luar bumi dan ini terjadi lantaran goncangan hebat gempa. Kedua karena proses air yang mencari jalan untuk mengalir. Proses mengakibatkan munculnya lembah-lembah bersama dan melahirkan penggelembungan pada permukaan bumi. Sebab sebagian permukaan bumi keras dan sebagian lagi lunak. Angin juga berperan dengan meniup sebagian dan meninggalkan sebagian pada tempatnya. Ini adalah penyebab munculnya gundukan di kulit luar bumi.”

Ibnu Sina dengan kekuatan logikanya -sehingga dalam banyak hal mengikuti teori matematika bahkan dalam kedokteran dan proses pengobatan- dikenal pula sebagai filosof tak tertandingi. Menurutnya, seseorang baru diakui sebagai ilmuan, jika ia menguasai filsafat secara sempurna. Ibnu Sina sangat cermat dalam mempelajari pandangan-pandangan Aristoteles di bidang filsafat. Ketika menceritakan pengalamannya mempelajari pemikiran Aristoteles, Ibnu Sina mengaku bahwa beliau membaca kitab Metafisika karya Aristoteles sebanyak 40 kali. Beliau menguasai maksud dari kitab itu secara sempurna setelah membaca syarah atau penjelasan ‘metafisika Aristoteles’ yang ditulis oleh Farabi, filosof muslim sebelumnya.

Dalam filsafat, kehidupan Abu Ali Ibnu Sina mengalami dua periode yang penting. Periode pertama adalah periode ketika beliau mengikuti faham filsafat paripatetik. Pada periode ini, Ibnu Sina dikenal sebagai penerjemah pemikiran Aristoteles. Periode kedua adalah periode ketika Ibnu Sina menarik diri dari faham paripatetik dan seperti yang dikatakannya sendiri cenderung kepada pemikiran iluminasi.

Berkat telaah dan studi filsafat yang dilakukan para filosof sebelumnya semisal Al-Kindi dan Farabi, Ibnu Sina berhasil menyusun sistem filsafat islam yang terkoordinasi dengan rapi. Pekerjaan besar yang dilakukan Ibnu Sina adalah menjawab berbagai persoalan filsafat yang tak terjawab sebelumnya.

Pengaruh pemikiran filsafat Ibnu Sina seperti karya pemikiran dan telaahnya di bidang kedokteran tidak hanya tertuju pada dunia Islam tetapi juga merambah Eropa. Albertos Magnus, ilmuan asal Jerman dari aliran Dominique yang hidup antara tahun 1200-1280 Masehi adalah orang Eropa pertama yang menulis penjelasan lengkap tentang filsafat Aristoteles. Ia dikenal sebagai perintis utama pemikiran Aristoteles Kristen. Dia lah yang mengawinkan dunia Kristen dengan pemikiran Aristoteles. Dia mengenal pandangan dan pemikiran filosof besar Yunani itu dari buku-buku Ibnu Sina. Filsafat metafisika Ibnu Sina adalah ringkasan dari tema-tema filosofis yang kebenarannya diakui dua abad setelahnya oleh para pemikir Barat.
Ibnu Sina merupakan seorang ahli geografi yang mampu menerangkan bagaimana sungai-sungai berhubungan dan berasal dari gunung-ganang dan lembah-lembah. Malahan ia mampu mengemukakan suatu hipotesis atau teori pada waktu itu di mana gagal dilakukan oleh ahli Yunani dan Romani sejak dari Heredotus, Aristoteles sehinggalah Protolemaious. Menurut Ibnu Sina " gunung-ganang yang memang letaknya tinggi iaitu lingkungan mahupun lapisannya dari kulit bumi, maka apabila ia diterajang lalu berganti rupa dikarenkan oleh sungai-sungai yang meruntuhkan pinggiran-pinggirannya. Akibat proses seperti ini, maka terjadilah apa yang disebut sebagai lembah-lembah."

Ibnu Sina juga telah memperkembangkan ilmu psikologi dalam perubatan dan membuat beberapa perjumpaan dalam ilmu yang dikenali hari ini sebagai ilmu perubatan psikosomatics "psychosomatic medicine". Beliau memperkembangkan ilmu diagnosis melalui denyutan jantung (pulse diagnosis) untuk mengenal pasti dalam masa beberapa detik sahaja ketidak - seimbangan humor yang berkenaan . Diagnosis melalui denyutan jantung ini masih dipratikkan oleh para hakim (doktor-doktor muslim) di Pakistan, Afghanistan dan Parsi yang menggunakan ilmu perubatan Yunani. Seorang doktor tabii dari Amerika (1981) melapurkan bahawa para hakim di Afghanistan, China, India dan Parsi sanggat berkebolehan dalam denyutan jantung di tempat yang dirasai tetapi mutunya yang pelbagai .Ini merangkumi :

• Kuat atau denyutan yang lemah.
• Masa antara denyutan.
• Kandungannya lembap di paras kulit dekat denyutan itu dan lain-lain lagi.

Dari ukuran-ukuran denyutan jantung seseorang hakim mungkin mengetahui dengan tepat penyakit yang dihinggapi di dalam tubuh si pesakit. Ibnu Sina menyedari kepentingan emosi dalam pemulihan. Apabila pesakit mempunyai sakit jiwa disebabkan oleh pemisahan daripada kekasihnya , beliau boleh mendapati nama dan alamat kekasihnya itu melalui cara berikut:

Caranya adalah untuk menyebut banyak nama dan mengulanginya dan semasa itu jarinya diletakkan atas denyutan (pulse) apabila denyutan itu terjadi tidak teratur atau hampir-hampir berhenti , seseorang itu hendaklah mengulang proses tersebut. Dengan cara yang sedemikan , nama jalan , rumah dan keluarga disebutkan. Selepas itu , kata Ibnu Sina "Jika anda tidak dapat mengubat penyakitnya maka temukanlah si pesakit dengan kekasihnya , menurut peraturan syariah maka buatlah".(Terjemahan). Ibnu Sina adalah doktor perubatan yang pertama mencatatkan bahawa penyakit paru-paru (plumonary tuberculosis) adalah suatu penyakit yang boleh menjangkit (contagious) dan dia menceritakan dengan tepat tanda-tanda penyakit kencing manis dan masalah yang timbul darinya. Beliau sangat berminat dalam bidang mengenai kesan akal (mind) atas jasad dan telah banyak menulis berkenaan gangguan psikologi.

Karya Ibnu Sina

Buku-buku yang pernah dikarang oleh Ibnu Sina, dihimpun dalam buku besar Essai de Bibliographie Avicenna yang ditulis oleh Pater Dominician di Kairo dan diantara beberapa karya Ibnu Sina ialah :

  1. Qanun fi Thib (Canon of Medicine) (Terjemahan bebas : Aturan Pengobatan)
  2. Asy Syifa (terdiri dari 18 jilid berisi tentang berbagai macam ilmu pengetahuan)
  3. .An Nayyat (Book of Deliverence) buku tentang kebahagiaan jiwa.
  4. .Al-Majmu : berbagai ilmu pengetahuan yang lengkap, di tulis saat berusia 21 tahun di Kawarazm
  5. Isaguji (The Isagoge) ilmu logika Isagoge : Bidang logika 
  6. Fi Aqsam al-Ulum al-Aqliyah (On the Divisions of the Rational Sciences) tentang pembahagian ilmu-  ilmu rasional.
  7. Ilahiyyat (Ilmu ketuhanan) : Bidang metafizika 
  8. Fiad-Din yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin menjadi "Liber de Mineralibus" yakni tentang pemilikan (mimeral).
  9. Risalah fi Asab Huduts al-Huruf  : risalah tentang sebab-sebab terjadinya huruf - Bidang sastera arab
  10. Al-Qasidah al- Aniyyah : syair-syair tentang jiwa manusia - Bidang syair dan prosa
  11. Risalah ath-Thayr : cerita seekor burung. - Cerita-cerita roman fiktif
  12. Risalah as-Siyasah : (Book on Politics) – Buku tentang politik - Bidang politik
  13. Al Mantiq, tentang logika. Buku ini dipersembahkan untuk Abu Hasan Sahil. 
  14. Uyun Al Hikmah (10 jilid) tentang filsafat. Ensiklopedi Britanica menyebutkan bahwa kemungkinan besar buku ini telah hilang.
  15. Al Hikmah El Masyriqiyyin, tentang filsafat timur.
  16. Al Insyaf tentang keadilan sejati.
  17. Al Isyarat Wat Tanbihat, tentang prinsip ketuhanan dan kegamaan.
  18. Sadidiya, tentang kedokteran.
  19. Danesh Nameh, tentang filsafat.
  20. Mujir. Kabir Wa Saghir, tentang dasar-dasar ilmu logika secara lengkap.
  21. Salama wa Absal, Hayy ibn Yaqzan, al-Ghurfatul Gharabiyyah (Pengasingan di Barat)


Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina dalam banyak hal unik, sedang diantara para filosof muslim ia tidak hanya unik, tapi juga memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu - satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim beberapa abad.
Pengaruh ini terwujud bukan hanya karena ia memiliki sistem, tetapi karena sistem yang ia miliki itu menampakkan keasliannya yang menunjukkan jenis jiwa yang jenius dalam menemukan metode - metode dan alasan - alasan yang diperlukan untuk merumuskan kembali pemikiran rasional murni dan tradisi intelektual Hellenisme yang ia warisi dan lebih jauh lagi dalam sistem keagamaan Islam.

Read More »

Senin, 22 Oktober 2012

Hasan Albana

Hasan Albana


Hassan al-Banna dilahirkan pada tanggal 14 Oktober 1906 di desa Mahmudiyah kawasan Buhairah, Mesir. Pada usia 12 tahun, Hasan al-Banna telah menghafal al-Qur'an. Ia adalah seorang mujahid dakwah, peletak dasar-dasar gerakan Islam sekaligus sebagai pendiri dan pimpinan Ikhwanul Muslimin (Persaudaraan Muslimin).

Ia memperjuangkan Islam menurut Al-Quran dan Sunnah hingga dibunuh oleh penembak misterius yang oleh banyak kalangan diyakini sebagai penembak 'titipan' pemerintah pada 12 Februari 1949 di Kairo.
Kepergian Hassan al-Banna pun menjadi duka berkepanjangan bagi umat Islam. Ia mewariskan 2 karya monumentalnya, yaitu Catatan Harian Dakwah dan Da'i serta Kumpulan Surat-surat. Selain itu Hasan al-Banna mewariskan semangat dan teladan dakwah bagi seluruh aktivis dakwah saat ini.

Hassan al-Banna yang lahir pada 14 Oktober 1906 di Mahmudiyya, Mesir (utara-barat dari Kairo). adalah seorang guru dan seorang reformis Mesir sosial dan politik Islam, yang terkenal karena mendirikan Ikhwanul Muslimin, salah satu dari abad ke-20 terbesar dan paling berpengaruh organisasi Islam revivalis. Kepemimpinan Al-Banna adalah penting bagi pertumbuhan persaudaraan selama tahun 1930-an dan 1940-an. Ketika Hassan al-Banna berusia dua belas tahun, ia mulai terbiasa mendislipinkan kegiatannya menjadi empat.siang hari di pergunakanya untuk menuntut ilmu di sekolah.kemudian belajar membuat dan membetulkan jam dengan orang tua nya hingga sore.waktu sore hingga menjelang tidur ia gunakan untu mengulang kembali pelajaran sekolah.sementara membaca dan mengulang-ulang hafalan al-qur'an ia lakukan seusi salat subuh.jadi tidak mengherankan bila hassan al-banna mencetak prestasi-prestasi gemilang di kemudian hari. Pada usia 14 hassan al-banna telah menghafal seluruh al-qur'an.hassan al-banna lulus dari sekolah nya dengan predikat terbaik dan nomor lima terbaik di seluruh mesir.pada usia 16 tahun, ia telah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi darul ulum.demikianlah sederet prestasi hassan kecil.

Ayahnya, Syaikh Ahmad al-Banna, adalah seorang imam lokal dihormati (pemimpin doa) dan guru masjid dari ritus Hanbali. Ia belajar di Al-Azhar University (Lia 24, 1998). Dia menulis dan berkolaborasi pada buku-buku tentang tradisi Islam, dan juga memiliki toko di mana ia memperbaiki jam tangan dan dijual gramophones. Meskipun Syaikh Ahmad al Banna dan istrinya beberapa properti yang dimiliki, mereka tidak kaya dan berjuang untuk memenuhi kebutuhan, khususnya setelah mereka pindah ke Kairo pada tahun 1924. Seperti banyak orang lain, mereka menemukan bahwa belajar Islam dan kesalehan tidak lagi sebagai sangat dihargai di ibukota(akibat paham sekular yang begitu kuat saat itu,paham itu dibawa oleh kolonial inggris untuk merobohkan semangat kaum muslimin), dan bahwa keahlian tidak bisa bersaing dengan industri berskala besar. berdirinya organisasi ikhwaul muslimin bertepatan dengan tanggal 20/maret/1928.bersama keenam temannya,hassan al-banna mendirikan organisasi ini(ikhwanul muslimin) di kota ismailiyah.

Pertumbuhan masyarakat terutama diucapkan setelah Al-Banna dipindahkan kantor pusatnya ke Kairo pada tahun 1932. Faktor paling penting yang membuat ekspansi ini dramatis mungkin adalah kepemimpinan organisasi dan ideologis yang disediakan oleh Al-Banna. Dalam Ismailia, di samping kelas hari, dia melakukan niatnya memberi kuliah malam kepada orangtua muridnya. Dia juga berkhotbah di masjid, dan bahkan di warung kopi. Pada awalnya, beberapa pandangannya tentang poin yang relatif kecil dari praktik Islam menyebabkan perbedaan pendapat yang kuat dengan elit agama setempat, dan ia mengadopsi kebijakan menghindari kontroversi agama. Dia terkejut oleh banyak tanda-tanda mencolok dominasi militer dan ekonomi asing di Isma'iliyya: kamp-kamp militer Inggris, bidang pelayanan umum yang dimiliki oleh kepentingan asing, dan tempat tinggal mewah dari karyawan asing dari Terusan Suez Perusahaan, sebelah jorok tempat tinggal dari pekerja Mesir.

Dia berusaha untuk membawa perubahan, dia berharap untuk melalui lembaga-gedung, aktivisme tanpa henti di tingkat akar rumput, dan bergantung pada komunikasi massa.Dia melanjutkan untuk membangun sebuah gerakan massa yang kompleks yang menampilkan struktur pemerintahan canggih; bagian yang bertanggung jawab untuk melanjutkan nilai-nilai masyarakat di kalangan petani, buruh, dan profesional; unit dipercayakan dengan fungsi-fungsi kunci, termasuk propagasi pesan, penghubung dengan dunia Islam, dan tekan dan terjemahan, dan komite khusus untuk urusan keuangan dan hukum.

Dalam penahan ini organisasi ke dalam masyarakat Mesir, Al-Banna mengandalkan jaringan sosial yang sudah ada (ikhanul muslimin), khususnya yang dibangun di sekitar masjid, asosiasi kesejahteraan Islam, dan kelompok-kelompok lingkungan. Tenun ini ikatan tradisional menjadi struktur khas modern pada akar kesuksesannya. Langsung terpasang bagi persaudaraan, dan makan ekspansi, dilakukan berbagai usaha, klinik, dan sekolah. Selain itu, anggota yang berafiliasi dengan gerakan melalui serangkaian sel, usar revealingly disebut families tunggal: usrah. Materi, dukungan sosial dan psikologis yang diberikan instrumental sehingga kemampuan gerakan untuk menghasilkan loyalitas yang sangat besar di antara para anggotanya dan untuk menarik anggota baru. Layanan dan struktur organisasi masyarakat sekitar yang dibangun tersebut dimaksudkan untuk memungkinkan individu untuk berintegrasi ke dalam pengaturan jelas Islam, prinsip-prinsip sendiri dibentuk oleh masyarakat.

Berakar dalam Islam, pesan Al-Banna ditangani masalah termasuk kolonialisme, kesehatan masyarakat, kebijakan pendidikan, manajemen sumber daya alam, Marxisme, kesenjangan sosial, nasionalisme Arab, kelemahan dunia Islam di kancah internasional, dan konflik yang berkembang di Palestina. Dengan menekankan keprihatinan yang menarik berbagai konstituen, Al-Banna mampu merekrut dari antara bagian-lintas masyarakat Mesir - meskipun pegawai negeri modern-berpendidikan, karyawan kantor, dan profesional tetap dominan di kalangan aktivis organisasi dan pengambil keputusan. Al-Banna juga aktif dalam menentang imperialisme Inggris di Mesir. Selama Perang Dunia II, ia sempat ditangkap oleh pemerintah pro-Inggris, yang melihatnya sebagai subversif.

Antara 1948 dan 1949, tidak lama setelah masyarakat mengirim relawan untuk bertempur dalam perang di Palestina, konflik antara monarki dan masyarakat mencapai puncaknya. Prihatin dengan meningkatnya ketegasan dan popularitas persaudaraan, serta dengan desas-desus bahwa itu merencanakan kudeta, Perdana Menteri Mahmoud sebuah-Nukrashi Pasha bubar itu pada bulan Desember 1948. Aktifis organisasi yang ditangkap dan puluhan anggotanya yang dikirim ke penjara. Kurang dari tiga minggu kemudian, perdana menteri dibunuh oleh seorang anggota persaudaraan, Abdul Majid Hasan Ahmad.
Setelah pembunuhan itu, Al-Banna segera mengeluarkan pernyataan mengutuk pembunuhan itu, yang menyatakan teror yang bukan cara yang bisa diterima dalam Islam. Hal ini pada gilirannya mendorong pembunuhan Al-Banna. Pada tanggal 12 Februari 1949 di Kairo, Al-Banna di kantor pusat Jamiyyah al-Shubban al-Muslimin dengan saudaranya iparnya Abdul Karim Mansur untuk bernegosiasi dengan Menteri Zaki Ali Basha yang mewakili pihak pemerintah. Menteri Zaki Ali Basha tidak pernah tiba. 5 jam malam Al-Banna dan saudaranya iparnya memutuskan untuk pergi. pembunuhan itu terjadi ketika Al-Banna dan saudaranya sedang menunggu taksi.

Saat mereka berdiri menunggu taksi, mereka ditembak oleh dua orang. Al-Banna terkena tujuh tembakan. Laterwards, dia dibawa ke rumah sakit dan mereka telah menerima perintah dari monarki untuk tidak memberinya perawatan di mana ia meninggal kematian lambat dari luka-luka, Hassan Al-Banna menyadari bahwa mereka telah diperintahkan untuk tidak memperlakukan dia dan dia membuat 3 doa terhadap Monarki. Hassan Al-Banna wafat pada tanggal 12 Februari 1949.

Hassan al-Banna dikenal memiliki dampak yang besar dalam pemikiran Islam modern. Dia adalah kakek dari Tariq Ramadan dan kakak Gamal al-Banna. Untuk membantu menguduskan tatanan Islam, al-Banna menyerukan melarang semua pengaruh Barat dari pendidikan dan memerintahkan semua sekolah dasar harus menjadi bagian dari mesjid. Dia juga menginginkan larangan partai politik dan lembaga demokrasi lainnya dari Syura (Islam-dewan) dan ingin semua pejabat pemerintah untuk memiliki belajar agama sebagai pendidikan utama.

Hassan al-Banna melihat Jihad sebagai strategi defensif-Allah ditahbiskan, yang menyatakan bahwa kebanyakan ahli Islam: "Setuju bulat bahwa jihad adalah kewajiban komunal defensif dikenakan pada umat Islam dalam rangka untuk menyiarkan panggilan (untuk memeluk Islam), dan bahwa adalah sebuah kewajiban individu untuk menolak serangan orang-orang kafir atasnya. " Namun, sebagai akibat dari orang-orang kafir memerintah negeri-negeri Muslim dan merendahkan kehormatan Muslim: "Hal ini telah menjadi kewajiban individual, yang ada adalah tidak menghindari, pada setiap Muslim untuk mempersiapkan peralatan, untuk mengambil keputusan untuk terlibat dalam jihad, dan untuk mendapatkan siap sampai kesempatan sudah masak dan Allah keputusan suatu hal yang pasti akan dicapai"

Al-Banna tidak menerima klaim sebagai suara Hadis bahwa semangat jihad adalah jihad yang lebih besar dan jihad pedang jihad kecil dan ia memuliakan aktif jihad defensif: "kematian tertinggi hanya diberikan kepada mereka yang membunuh atau yang gugur di jalan Allah Seperti kematian tidak dapat dihindarkan dan bisa terjadi hanya sekali. mengambil bagian dalam jihad adalah menguntungkan di dunia ini dan berikutnya." Visi al-Banna pada aturan Jihad untuk umat dalam kutipan dari Lima Tracts Hasan al-Banna di mana ia akan kembali ke aturan-Hanafi: "Jihad dalam arti harfiah berarti untuk menempatkan sebagainya upaya maksimal seseorang dalam kata dan perbuatan, dalam UU Suci itu adalah membunuh orang-orang kafir dan konotasi terkait seperti memukul mereka, menjarah kekayaan mereka, menghancurkan tempat suci mereka dan menghancurkan berhala mereka." dan "itu merupakan kewajiban bagi kita untuk mulai bertengkar dengan mereka setelah transmisi [undangan untuk memeluk Islam], bahkan jika mereka tidak memerangi kita."
Read More »

Selasa, 22 Mei 2012

Rahmah El Yunusiyah Dan Zainuddin Labai El Yunusi


A.    Riwayat Hidup dan Perkawinan Zainuddin Labay

            Zainuddin Labay el-Yunusi, lahir di sebuah “rumah gadang” (rumah adat lima ruang) yang terletak di jalan menuju Lubuk Mata Kucing Kenagarian Bukit Surungan, Padang Panjang tahun 1890 M atau bertepatan dengan tanggal 12 Rajab 1308 H. Ia lahir dari pasangan Syeikh Muhammad Yunus dan Rafi’ah. Zainuddin Labay adalah anak tertua.

            Di antara pendidikan rumah tangga, sebagai pembinaan pribadi yang diterima Zainuddin Labay bersaudara dari orang tuanya adalah berkaitan dengan penanaman sistem nilai, yakni mendidik dengan memberikan contoh pengalaman hidup. Sistem nilai itu adalah jangan membalas kejahatan dengan kejahatan pula serta jangan suka pendendam. Jangan suka menyampaikan omongan orang lain kepada seteru (musuh)-nya.

            Zainuddin Labay el-Yunusi pertama kali menikah pada tahun 1912 dengan Sawiyah, seorang gadis berasal dari Bukit Surungan Padang Panjang. Dari perkawinan ini, ia dikarunia dua orang anak, seorang perempuan bernama Zuraida Zainuddin (lahir 1914) dan seorang laki-laki bernama Tanius Mathran Hibatullah Zainuddin (lahir 1917). Zuraida, anak perempuan Zainuddin satu-satunya yang sempat menjadi staf pengajar pada Diniyah Putri yang didirikan adiknya Rahmah el-Yunusiyah, setelah menyelesaikan pendidikan di sana selama tujuh tahun. Bahkan sempat pula memimpin Kulliyatul Mu’allimat el-Islamiyah (KMI) cabang Riau di Pekanbaru.

            Perkawinan Zainuddin dengan Sawiyah, ternyata tidak berlangsung lama dan berakhir dengan perceraian. Di satu sisi, sebagai seorang yang masih berusia muda, Zainuddin Labay tidak ingin kehidupan rumah tangganya berakhir hanya karena perceraian dengan isteri pertamanya. Untuk dapat meringankan beban pikiran dan memotivasi dirinya dalam mewujudkan cita-citanya yang luhur, ia tetap memerlukan seorang pendamping hidup yang setia.  Zainuddin menikah lagi dengan seorang gadis dari desa Jambu, Gunung - Padang Panjang, bernama Djaliah. Namun sampai akhir hayatnya, Zainuddin tidak memperoleh anak dengan isterinya yang kedua ini.

B.     Latar Belakang Pendidikan dan Cita-Cita Zainuddin Labay

            Pada masa Zainudin Labay el-Yunusi, ada dua bentuk sistem pendidikan bagi penduduk pribumi di Minangkabau khususnya dan di Indonesia umumnya. Pertama, adalah sistem pendidikan surau bagi para penduduk muslim (di Jawa sistem pendidikan Pesantren), yang mengajarkan ilmu-ilmu agama semata. Kedua, adalah sistem pendidikan Barat yang diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda dengan tujuan mempersiapkan para siswa untuk menempati posisi-posisi administrasi pemerintahan, baik pada tingkat rendah maupun menengah. Dalam perkembangan selanjutnya,

            Pendidikan Zainuddin Labay el-Yunusi, sama dengan yang dialami oleh kebanyakan orang Islam seusianya. Pendidikan awal yang dilaluinya tentu saja pendidikan infomal (di dalam keluarga) dan pendidikan agama yang diberikan ayahnya. Pada usia 8 (delapan) tahun, Zainuddin Labay, dimasukkan ayahnya ke sekolah pemerintah (HIS), namun ia hanya belajar sampai kelas IV. Kemudian ia keluar dari sekolah tersebut karena dalam banyak hal ia tidak setuju dengan pola pendidikan colonial.

            Ada dua hal yang menyebabkan Zainuddin Labay keluar dari sekolah pemerintah (HIS). Pertama, di sekolah pemerintah tidak dimasukan mata pelajaran agama karena pihak pemerintah (Belanda), sehingga sekolah terkesan sekuler dan hanya untuk kepentingan duniawi semata. Kedua, bahwa tujuan dari pemerintah Belanda mendirikan sekolah bukan untuk kepentingan rakyat, akan tetapi hanya untuk kepentingan kolonial Belanda itu sendiri, yakni untuk mempersiapkan calon-calon tenaga pegawai terdidik yang akan ditempatkan dalam birokrasi lokal termasuk penyediaan personil dalam urusan tanam paksa kopi.

            Pengetahuan yang diberikan di sekolah-sekolah pemerintah itu nantinya juga merupakan bagian dari upaya membentuk warga negara yang “baik” dan secara berangsur-angsur mereka juga akan diperbelandakan, dalam arti mencontoh gaya hidup Eropa. Sehingga hasilnya terkesan lebih menguntungkan pihak penjajah. Untuk itu, Zainuddin Labay, memutuskan untuk tidak lagi belajar di sekolah pemerintah tersebut.

            Setelah keluar dari sekolah pemerintah, Zainuddin kembali belajar dengan ayahnya memperdalam ilmu-ilmu agama. Waktu-waktu senggang dipergunakan untuk belajar mandiri dan membaca. Masa 2 (dua) tahun belajar dengan ayah tercinta dirasakannya tidak begitu lama, sebab ayahnya dipanggil Yang Mahakuasa. Akibatnya pendidikan Zainuddin terbengkalai di saat ia sedang sangat memerlukan pendidikan untuk masa depannya.

            Dalam tataran yang lebih ekstrim, sebagai anak tertua dari lima bersaudara, ia mengalami trauma dengan perginya orang yang sangat dicintainya itu. Keinginannya untuk belajar agama muncul kembali setelah ia mendengar ada seorang ulama yang sangat dalam ilmunya di Sungai Batang, suatu daerah yang terletak di pinggiran Danau Maninjau. Ulama itu adalah H. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), yang baru saja kembali dari Makkah. Tetapi karena daerah “danau” (istilah yang masyhur waktu itu) terlalu jauh dan alat transportasi ke sana sangat sulit, ibu Zainuddin Labay, Ummi Rafi’ah, keberatan melepas anaknya “merantau” (belajar) ke daerah danau tersebut.

            Setelah gagal meneruskan pelajaran agama ke “danau”, tahun 1910, Zainuddin Labay, menyampaikan keinginannya untuk pergi belajar kepada salah seorang ulama modern di Padang, yang bernama Dr. H. Abdullah Ahmad (1878-1933). Keinginan Zainuddin ini diperkenankan oleh ibunya dan ia diberi biaya sebanyak 20 gulden serta bekal hidup lainnya untuk belajar ke Padang. Tapi hanya delapan hari ia belajar dengan Abdullah Ahmad di Padang, kemudian Zainuddin kembali ke Padang Panjang. Biaya 20 gulden yang diberi oleh ibunya untuk biaya dan bekal hidupnya selama menuntut ilmu dibelikannya kepada buku-buku, majalah dan koran-koran berbahasa asing.

            Dari prilakunya yang seperti ini, jelas menunjukkan bahwa Zainuddin adalah seorang yang anak yang memiliki kepribadian fenomenal yang sangat jarang dilakukan oleh anak-anak segenerasi dengannya. unik dan sulit ditebak kemauannya. Agar pendidikan Zainuddin tidak terbengkalai, ibunya menyarankan agar ia pergi belajar kepada Syeikh Abbas Abdullah (1883-1957, di Padang Japang Payakumbuh, seorang ulama yang sealiran dengan Syeikh Abdul Karim Amrullah dan Dr. H. Abdullah Ahmad. Selama dua tahun Zainuddin belajar di Padang Japang, Syeikh Abbas Abdullah melihat bakat dan kecerdasan yang dimiliki Zainuddin melebihi kemampuan yang dimiliki oleh kawan-kawanya yang lain. Untuk itu ia diangkat menjadi guru bantu.

            Zainuddin tidak lama melanjutkan pelajarannya, karena tahun 1914, ia harus pulang ke Padang Panjang dan tidak kembali lagi ke Padang Japang. Di Padang Panjang, Zainuddin belajar dengan guru yang sudah lama ditunggu-tunggunya, yakni Syeikh Abdulkarim Amrullah, yang pada saat itu telah menetap di Padang Panjang dan mengajar di Surau Jembatan Besi. Untuk menilai kemampuan murid-murid menyerap pelajaran yang diberikan, harus ada evaluasi akhir dan setiap akhir tahun harus ada kenaikan tingkat (kelas). Cita-cita itu menjadi spirit di dalam jiwanya dan pada setiap kesempatan mengajar di surau Jembatan Besi, ia selalu mengemukakan keinginannya itu kepada murid-muridnya. Ia melihat di mana-mana belum ada sekolah agama seperti apa yang ia cita-citakan itu. Pola dan sistem pengajaran di surau dirasakan tidak berkembang. Setelah cita-cita besar ini dirasakan sudah mantap dan telah mendapat dukungan dari sebahagian murid-murid surau Jembatan Besi, maka pada tanggal 10 Oktober 1915, Zainuddin Labay mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam baru yang diberi nama Diniyah School, dengan sistem berkelas.

            Keunikannya terletak pada suatu kenyataan bahwa ia tidak mempunyai pendidikan yang teratur dan sistematis, namun mampu melahirkan ide-ide cemerlang dan berhasil menata sistem pendidikan Islam ke arah yang lebih moderen serta mampu pula melahirkan generasi pendidik yang sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan Islam pada masa berikutnya.

RAHMAH EL-YUNUSIYYAH

A.   Masa Kecil Rahmah

            Rahmah El-Yunusiyyah lahir pada hari jum’at tanggal 1 rajab 1318 Hijriyyah, bertepatan pada tanggal 20 Desember 1900 Masehi di bukit surungan padang panjang sumatera barat.  Rahmah El- yunusiyyah adalah anak bungsu dari lima bersaudara, lahir dari pasangan Muhammad Yunus bin Imanuddin dengan Rafi ah, diantara saudara beliau yaitu Zainuddin labay, Mariah, Muhammad  Rasyad, Rihanah, dan Rahmah. Saudara beliau yang tertua adalah Zainuddin Labay.

            Pada masa kecilnya Rahmah El-Yunusiyyah terkenal sebagai anak yang berkemauan tinggi, bercita-cita yang tinggi, sejak kecil sifat kepribadiannya yang kuat dan jiwa besarnya sudah Nampak menonjol. Sejak kecil Rahmah sudah senang dengan masak memasak, kerajinan tangan dan menjahit baju sendiri, Rahmah juga sering sakit-sakitan.

B.   Sifat Dan Kepribadian Rahmah

            Setelah tumbuh menjadi gadis remaja Rahmah mempunyai sifat sangat pemalu tapi dia tetap bersikap tegas dalam menghadapi sesuatu serta dapat menguasai berbagai masalah yang ditanganinya. Dari pengalaman hidup yang dihadapinya telah membentuk kepribadian yang tangguh, kokoh, teguh pendirian dan tabah, serta berkeimanan yang kuat.

            Untuk mewujudkan cita-citanya dan bila menghadapi kesulitan, dia mendekatkan dirinya kepada Allah dengan melakukan shalat tahajjud. Rahmah juga memiliki sifat penyayang yang tidak hanya terhadap sesame manusia tapi juga terhadap hewan. Apapun pekerjaan yang dihadapinya, dilakukan dengan penuh tanggung jawab, tanpa mengenal rasa lelah dan putus asa.

C.   Pendidikan Rahmah

            Rahmah tidak pernah mendapatkan pendidikan yang formal. Untuk menulis dan membaca huruf arab dan latin dia dapatkan dari kakaknya, Zaenuddin Labay dan Muhammad Rasyid. Pada tahun 1915 kakaknya Zainuddin labay mendirikan diniyyah school, sebuah perguruan islam, Rahmah ikut belajar di diniyyah school tapi apa yang didapatkannya  di diniyyah school belum memuaskan hatinya, maka ia belajar agama yang lebih mendalam kepada syekh abdul karim amrullah. Rahmah juga mengikuti kursus ilmu kebidanan di rumah sakit umum kayu tanam dan mendapat izin praktek dari dokter, masih banyak lagi yang dipelajari oleh ibu Rahmah El-Yunusiyyah.

D.  Perkawinan Rahmah

            Ketika berusia 16 tahun, Rahmah menikah dengan haji Bahauddin latif yaitu pada hari senin 15 mei 1916. Perkawinan dilangsungkan di rumah gadang lima ruang tempat beliau dilahirkan yang terletak di sudut utara Asrama Perguruan Diniyyah Puteri. Setelah menikah Rahmah tetap meneruskan sekolahnya pada Diniyyah School sampai tamat dan tetap melanjutkan pelajaran agamanya.

            Tidak lama setelah perkawinan, terjadi perselisihan anata Bahauddin dengan ayahnya sehinnga Bahauddin pindah ke kampung lain. Pada tahun 1919 H. bahauddin nikah lagi dengan seorang gadis bernama Intan dan pada tahun 1920 H. Bahauddin nikah dengan seorang janda bernama Dji’ah. Karena Rahmah tidak bisa mendampingi suami bekerja di kampung lain, maka Rahmah dengan penuh pengertian dan jiwa besar menerima suaminya nikah dengan perempuan lain. Dari pernikahan ini Rahmah tidak dakaruniai anak.

E.   Mendirikan Diniyyah Puteri

            Rahmah El-Yunusiyyah yang dikenal keras hati, teguh pendirian, dan kuat kemauan, semangat belajarnya pun sangat kuat. Ia gigih berjuang mewujudkan cita-citanya, yakni mendirikan sekolah khusus kaum perempuan, agar kaum wanita tidak pasrah pada keadaan dan bangkit memperoleh keseteraan dengan kaum laki-laki. Maka Rahmah meminta izin kepada kakaknya Zainuddin, cita –cita Rahmah disambut dengan baik dan senang hati oleh kakaknya. Kenyataan inilah yang mendorong semangatnya untuk mendidik kaum perempuan dengan mendirikan Diniyah School Putri.

            Tekad yang sudah bulat ini disampaikan kepada teman-temannya, teman-teman Rahmah menyetujui ide yang mulia itu. Maka Pada tanggal 1 November 1923 sekolah itu dibuka dengan nama Almadrasatud Diniyyah dipimpin oleh Rangkayo Rahmah el-Yunusiyah. Sekolah yang baru dibuka ini belum mempunyai gedung sendiri, dengan jumlah murid 71 orang yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga dan beberapa orang puteri remaja. Murid-murid belajar dengan duduk bersila di atas tikar karena belum ada bangku dan meja. Yang dipelajari oleh siswa waktu itu hanya pengetahuan agama dan bahasa arab.

            Kehadiran sekolah khusus puteri ini pada mulanya tidak mendapat sambutan yang menggembirakan dari masyarakat, malah mendapat ejekan dan cemoohan. Tantangan demi tantangan di hadapi oleh Rahmah dan murid-muridnya. Setelah Almadrasatud Diniyyah didirikan, murid-murid puteri belajar di Diniyyah School pada pagi hari dan sore hari belajar di Almadrasatud Diniyyah. Rumah Rahmah yang dijadikan asrama untuk murid yang datang dari luar kota.

            Pada hari kamis tanggal 10 juli 1924 bertepatan dengan tanggal 8 zulhijjah 1342 H. Zainuddin Labay meninggal dunia. Banyak orang beranggapan bahwa setelah meninggalnya Zainuddin Labay, tentu Diniyyah School dan Almadrasatud Diniyyah akan hilang dan lenyap. Bagaimanapun anggapan orang pada saat itu, Rahmah yakin bahwa dia bisa meneruskan cita-cita dan perjuangan yang telah dicapainya selama ini.

            Beberapa minggu setelah meninggalnya Zainuddin Labay, diadakanlah rapat untuk mengadakan perubahan dan peningkatan dalam system pengajaran dan pendidikan bagi kaum perempuan itu, maka diusahakan mencari tempat yang lebih memadai, maka disewalah gedung bertingkat. Gedung bertingkat itu, bagian atasnya dijadikan asrama dan di bawah unutk ruangan sekolah. Pada tahun 1925, gedung itu sudah penuh benaran sehingga timbullah pemikiran pengurus uuntuk mendirikan gedung perguruan sendiri. Namun sebelum rencana itu terlaksana, terjadilah gempa besar tanggal 28 juni 1926 hari senin siang yang menghancurkan gedung-gedung bertingkat termasuk gedung sekolah dan asrama Diniyyah hancur pada gempa kedua. Dengan hancurnya gedung itu, gugurlah seorang guru Almadrasatud Diniyyah yaitu Nanisah.

            Cukup berat musibah yang menimpa Rahmah, pada waktu itu juga banyak orang mengira bahwa kota pelajar itu tidak mungkin bangkit lagi dari kehancuran, tapi kenyataannya bukanlah demikian. Hanya 40 hari setelah gempa bumi itu, tepatnya pada tanggal 1 syafar 1347 H. direncanakan untuk memulai sekolah kembali. Untuk rumah perguruan dan asramanya, didirikan bangunan dari bamboo, beratapkan daun rumbia, dinding sasak dan berlantaikan tanah, di atas sebidang tanah yang diwaqafkan Ummi Rafi’ah. Pada hari pembukaan sekolah baru yang datang bukan hanya siswa yang lama tetapi juga siswa baru, sungguh hal yang menggembirakan, membesarkan hati, pelipur kepayahan selama ini. bangunan darurat sudah berdiri, sekolah sudah di mulai kembali tapi Rahmah tidak berhenti sampai disitu. Cita-cita untuk membangun gedung perguruan yang lebih baik tetap begelora di dalam jiwanya.

            Melihat kegigihan Rahmah membangun gedung sendiri, maka kaum bapak bersimpati untuk bekerja sama dalam pengumpulan uang. Maka pada tanggal 29 Agustus 1927 Rahmah berangkat menuju Sumatera Utara unutk mencari dana guna membangun gedung perguruan puteri. Untuk kekurangan biaya pembangunan Rahmah mengusahakan pinjaman barang milik keluarga tapi itu juga belum cukup, sehingga dilakukan pinjaman kepada engku H. Abdul Gani seorang hartawan di kota padang. Dengan pinjaman itu, maka berdirilah gedung sekolah berlantai dua, terdiri dari 3 lokal kelas di lantai bawah dan di lantai dua merupakan ruangan lepas untuk asrama.

            Semakin hari murid semakin banyak, gedung yang telah ada tidak cukup untuk menampung murid-murid, maka di pinjamlah uang untuk kedua kalinya kepada engku H. Abdul Gani untuk membangun gedung yang kedua terletak sebelah timur gedung pertama dengan dua lantai, terdiri dari dua lokal kelas di lantai bawah dan di atas untuk asrama. Kedua asrama ini kemudian di kenal oleh murid-murid dengan nama Asrama Barat dan Asrama Timur.

F.      Mendirikan KMI

            Setelah 13 tahun lamanya Diniyyah School Puteri berdiri dan semakin besarnya perhatian masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya. Akan tetapi Rahmah belum juga merasa puas dengan hasil yang ada. Ilmu yang diterima murid-muridnya, terasa masih sedikit. Untuk terjun ke masyarakat dan untuk menjadi guru dibutuhkan ilmu pengetahuan yang memadai.

            Oleh karena itu, untuk meningkatkan mutu dan memperbaiki kwalitas calon-calon guru keluaran Diniyyah School puteri Rahmah berencana mendirikan sekolah lanjutan. Cita-cita ini disampaikan kepada pimpinan PGAPI, anjuran ini di terima baik. Maka pada tanggal 1 Februari 1937 resmilah berdiri sekolah lanjutan itu dengan nama “KMI” dengan jumlah murid pertama sebanyak 20 orang.

            Untuk menggairahkan semangat membaca dan memperluas ilmu di luar bangku pelajaran  Rahmah mendirikan perpustakaan dengan nama “Kutub Khanah” yang diresmikan pembukaannya pada tanggal 17 juli 1998, di samping itu mendirikan satu badan penerbitan bernama “Darul Kutub”.

            Rahmah yang pejuang itu tidah pernah merasa puas dengan hasil yang di peroleh. Dia menginginkan puteri-puteri islam Indonesia mendapat kesempatan lebih banyak lagi untuk maju dengan memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan tinggi. Rahmah ingin mnedirikan sebuah Universitas Islam khusus puteri yang mencakup berbagai Fakultas Agama dan Umum.

G.    Mendirikan Perguruan Tinggi Diniyyah Puteri

            Cita-cita Rahmah dapat terwujud dengan berdirinya Perguruan Tinggi Diniyyah Puteri dengan satu Fakultasnya, yaitu Fakultas Tarbiyah, dan Da’wah yang dirintis pendirinya sejak tahun 1964 dan diresmikan oleh Gubernur Sumatera Barat, Prof. Drs. Harun Zein pada tanggal 22 Nopember 1967 bertepatan dengan 20 Sya’ban 1387 H. peresmian ini di tandai dengan penandatanganan Piagam Perguruan Tinggi Diniyyah Puteri. Fakultas ini kemudian di ubah namanya menjadi Fakultas Dirasat Islamiyyah pada tanggal 3 Desember 1969 berdasarkan surat keputusan menteri Agama Republik Indonesia No. 117 tahun 1969 diakui Ijazah Sarjana untuk Fakultas ini.

H.    Pandangan dan Pengalaman Rahmah Dalam Politik dan Sosial Keagamaan

            Pada masa penjajahan belanda, Rahmah tidak mau bekerja sama dengan pihak pemerintah jajahan. Meskipun dia tidak terjun langsung ke dalam lapangan politik praktis, namun dia adalah seorang nasionalis tulen. Tawaran pemerintah belanda agar Rahmah mau menerima subsidi untuk sekolahnya yang disediakan pemerintah tapi semua tawaran dan bujukan belanda ini ditolak oleh Rahmah karena Rahmah tidak mau perguruan ini berada di bawah pengaruh belanda. Bila hal ini terjadi, dia tidak akan bebas lagi menerapkan sisitem pendidikannya, kurikulum pelajarannya akan di atur oleh pihak penguasa, sehinnga dia tidak dapat mewujudkan cita-citanya untuk membangun bangsanya. Prinsip ini ia pegang dan pertahankan terus.

            Meskipun Rahmah tidak terjun langsung dalam politik praktis disaat itu, namun pemerintah colonial belanda tetap menyoroti dan mengawasi perkembangan perguruan ini. ketika pada tahun 1932 belanda mengeluarkan dua macam peraturan yang tidak bisa di terima oleh umat islam Indonesia dan kalangan perguruan-perguruan swasta.

            Pada masa penjajahan jepang, selain lebih menekuni kesempurnaan pendidikan di sekolahnya, Rahmah sangat memperhatikan keadaan sosial dan kehidupan masyarakat yang dari hari ke hari semakin menderita akibat dari peperangan dan tekanan penjajahan. Dalam suasana kritis seperti ini Rahmah tidak mau berdiam diri. Dari dapur keluarga dan dapur asrama setiap memasak nasi harus dipisahkan beras genggaman yang setiap seminggu sekali dikumpulkan. Begitu pula pada masyarakat sekitar agar mengumpulkan beras untuk membantu fakir miskin yang setiap hari berdatang ke rumah Rahmah di kompleks Diniyyah Puteri.

            Unutk membantu fakir miskin yang tidak mempunyai pakaian, Rahmah menggunting calana dan baju dari kain taplak meja makan asrama, kain-kain tutup rak buku, murid-murid di suruh memotong baju mereka sepanjang satu jengkal kemudian disambung-sambungkan dan di gunting dijadikan baju dan celana yang akan disumbangkan kepada fakir miskin ynag membutuhkannya.

            Kegiatan ini dikoordinir oleh suatu badan yang bernama Anggota Daerah Ibu (ADI). Melalui kegiatan ini ahmah juga memperjuangkan dan mmepertahankan gadis-gadis dan janda-janda Indonesia dari keinginan tentara jepang untuk dijadikan penghibur dan pemuas nafsu mereka. Disamping aktif di dalam ADI Rahmah juga duduk sebagai anggota Pengurus Pusat dari Majlis Islam Tinggi, sebuah organisasi social dan keagamaan yang berpusat di Bukintinggi.

            Pada masa akhir pemerintahan jepang, setelah diumumkannya janji akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Setelah jepang bertekuk lutut kepad sekutu pada tahun 1945 dan Sukarno Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Berita pertama tentang proklamasi kemerdekaan diterima Rahmah dari Moh. Syafei, dengan spontan Rahmah mencari bendera Merah Putih dan langsung menggereknya pada tiang bendera yang ada di halaman depan gedung perguruannya.

            Ketika republic ini berumur 2 bulan, pada tanggal 2 Oktober 1945 Rahmah mempelopori pembentukan tentara Keamanan Rakyat. Dapur asramanya, rumah kediamannya dan sebagian dari harta miliknya dia relakan untuk dipergunakan bagi kepentingan pembinaan tentara keamanan yang masih muda itu.oleh karena perjuangan beliau dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia cukup besar serta cintanyayang demikian dalam kepada RI, maka wajarlah kalau pada pemilihan umum ynag ke 1 pada tahun 1955 Rahmah terpilih untuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari partai Politik Masyumi.

            Ketegarannya dalam membantu perjuangan kemerdekaan dan keakrabannya dengan TNI dan Barisan Perjuangan yang ada, telah mendorong penguasa militer Belanda untuk memisahkan Rahmah dari anak-anaknya, sehingga pada tanggal 7 Januari 1949 Belanda dapat menyergap tempat persembunyian Rahmah. Rahmah baru kembali ke padang panjang setelah mengikuti Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta dan setelah Belanda mengakui kemerdekaan RI hasil Komperensi Meja Bundar di Den hag.

            Pada bulan juni tahun 1957 Rahmah berangkat ke tanah suci Makkah, Rahmah tidak kembali ke Jakarta. Rahmah merasa bahwa mencurahkan perhatiannya untuk memimpin perguruan akan lebih bermamfaat daripada duduk di kursi keparlemenan sebagai anggota DPR. Ketika terjadi pemberontakan PRRI di Sumatera akibat ketidaksetujuan sebagian pemimpin penjabat terhadap politik pemerintahan soekarno, Rahmah memilih untuk keluar meninggalkan kota berlanglang-buana dengan beberapa anggota keluarga dari satu desa ke desa yang lain. Dalam pengembaraan ini salah seorang guru diniyyah puteri yang ikut romnongan meninggal dunia pada tanggal 24 juni 1961.

            Pada tahun 1964 Rahmah menjalani operasi di rumah sakit di Medan karena ada tumor di payudaranya. Sebagai seorang idealis Rahmah banyak mempunyai rencana dan cita-cita untuk kemajuan perguruannya dan masyarakat kaum wanita khususnya. Di antara rencana dan cita-cita Rahmah yang belum sempat terlaksana menjelang wafatnya antara lain adalah : Membangun kampus perguruannya yang modern yang bisa menampung 2000 orang siswi, Mendirikan Universitas Islam Khusus Wanita, dan mendirikan Rumah Sakit Khusus Wanita.

I.        Rahmah Menutup Mata Untuk Selamanya

            Menjelang magrib hari rabu tanggal 26 februari 1969, bertepatan dengan tanggal 9 zulhijjah 1388 H, Rahmah berpulang ke Rahmatullah dalam keadaan berwudu’ akan melaksanakan shalat magrib. Rahmah wafat dalam usia 70 tahun 5 bulan 8 hari.


“By....Elidawati S.Pd.I”
Read More »