Blogroll

Tampilkan postingan dengan label Teaching Ideas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teaching Ideas. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 November 2012

Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling


PENDAHULUAN
Manusia adalah mahluk filosofis, artinya manusia mempunyai pengetahuan dan berpikir, manusia juga memiliki sifat yang unik, berbeda dengan mahluk lain dalam pekembanganya. Implikasi dari kergaman ini ialah bahwa individu memiliki kebebasan dan kemerdekaan untuk memilih dan megembangkan diri sesuai dengan keunikan ataua tiap – tiap pontensi tanpa menimbulkan konflik dengan lingkungannya. Dari sisi keunikan dan keragaman individu, maka diperlukanlah bimbingan untuk membantu setiap individu mencapai perkembangan yang sehat didalam lingkungannya ( Nur Ihsan, 2006 : 1)
Pada dasarnya bimbingan dan konseling juga merupakan upaya bantuan untuk menunjukan perkembangan manusia secara optimal baik secara kelompok maupun idividu sesuia dengan hakekat kemanusiannya dengan berbagai potensi, kelebihan dan kekurangan, kelemahan serta permaslahanya.
Adapun dalam dunia pendidikan, bimbingan dan konseling juga sangat dipelukan karena dengan adanya bimbingan dan konseling dapat mengantarkan peserta didik pada pencapai Standar dan kemampuan profesional dan Akademis, serta perkembangan dini yang sehat dan produktif dan didalam bimbinganya dan konseling selian ada pelayanan juga ada Prinsip – prinsipnya.
Prinsip bimbingan dan konseling menguraikan tentang pokok – pokok dasar pemikiran yang dijadikan pedoman program pelaksanaan atau aturan main yang harus di ikuti dalam pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan dapat juga dijadikan sebagai seperangkat landasan praktis atau aturan main yang harus diikuti dalam pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Prayitno mengatakan bahwa prinsip merupakan hasil kajian teoritik dan telaah lapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan. Jadi dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa prinsip–prinsip bimbingan dan konseling merupakan pemaduan hasil–hasil teori dan praktik yang dirumuskan dan dijadikan pedoman sekaligus dasar bagi penyelenggaraan pelayanan.
Dalam memberikan layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan, yang akan diuraikan dalam penjelasan berikutnya.

PEMBAHASAN
PRINSIP – PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING

A. Pengertian Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling
Prinsip yang berasal dari asal kata ” prinsipra” yang artinya permulaan dengan satu cara tertentu melahirkan hal –hal lain, yang keberadaanya tergantung dari pemula itu, prinsip ini merupakam hasil perpaduan antara kajian teoritik dan teori lapangan yang terarah yang digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan yang dimaksudkan.( Halaen,2002,: 63 )[1]
Prinsip bimbingan dan Konseling menguraikan tentang pokok-pokok dasar pemikiran yang dijadikan pedoman program pelaksanaan atau aturan main yang harus di ikuti dalam pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan dapat juga dijadikan sebagai seperangkat landassan praktis atau aturan main yang harus diikuti dalam pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Prayitno mengatakan : ”Bahwa prinsip merupakan hasil kajian teoritik dan telaah lapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu, maksudnya adalah “prinsip – prinsip bimbingan dan konseling merupakan pemaduan dari hasil-hasil teori dan praktek yang dirumuskan dan dijadikan pedoman sekaligus dasar bagi peyelengaran pelayanan.

B. Prinsip – Prinsip Bimbingan Dan Konseling
Dalam pelayanan bimbingan dan konseling prinsip yang digunakan bersumber dari kajian filosofis hasil dari penelitian dan pengalaman praktis tentang hakikat manusia, perkembangan dan kehidupan manusia dalam konteks sosial budayanya, pengertian, tujuan, fungsi dan proses, penyelenggaraan bimbingan dan konseling.
Ada beberapa prinsip pelaksanaan bimbingan dan konseling diantaranya :

a. Bimbingan adalah suatu proses membantu individu agar mereka dapat membantu dirinya sendiri dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
b. Hendaknya bimbingan bertitik tolak (berfokus) pada individu yang dibimbing
c. Bimbingan diarahkan pada individu dan tiap individu memiliki karakteristik tersendiri.
d. Masalah yang dapat diselesaikan oleh tim pembimbing di lingkungan lembaga hendaknya diserahkan kepada ahli atau lembaga yang berwenang menyelesaikannya.
e. Bimbingan dimulai dengan identifikasi kebutuhan yang dirasakan oleh individu yang akan dibimbing.
f. Bimbingan harus luwes dan fleksibel sesuai dengan kebutuhan individu dan masyarakat.
g. Program bimbingan di lingkungan lembaga pendidikan tertentu harus sesuai dengan program pendidikan pada lembaga yang bersangkutan.
h. Hendaknya pelaksanaan program bimbingan dikelola oleh orang yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan, dapat bekerja sama dan menggunakan sumber-sumber yang relevan yang berada di dalam ataupun di luar lembaga penyelenggara pendidikan.
i. Hendaknya melaksanakan program bimbingan di evaluasi untuk mengetahui hasil dan pelaksanaan program (Nur Ihsan, 2006 : 9)

Rumusan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling pada umumnya ialah berkenaan dengan sasaran pelayanan, masalah klien, tujuan dan proses penanganan masalah, program pelayanan, penyelenggaraan pelayanan.

Di antara prinsip-prinsip tersebut adalah :

1. Prinsip-Prinsip Berkenaan Dengan Sasaran Pelayanan.

Sasaran pelayanan bimbingan dan konseling adalah individu-individu baik secara perorangan maupun kelompok yang menjadi sasaran pelayanan pada umumnya adalah perkembangan dan perkehidupan individu, namun secara lebih nyata dan langsung adalah sikap dan tingkah lakunya yang dipengaruhi oleh aspek-aspek kepribadian dan kondisi sendiri, serta kondisi lingkungannya, sikap dan tingkah laku dalam perkembangan dan kehidupannya. prinsip-prinsip bimbingan dan konseling sebagai berikut :
a. BK melayani semua individu tanpa memandang umur, jenis kelamin, suku, agama dan status sosial ekonomi.
b. BK berurusan dengan pribadi dan tingkah laku individu yang unik dan dinamis.
c. BK memperhatikan sepenuhnya tahap-tahap dan berbagai apek perkembangan individu.
d. BK memberikan perhatian utama kepada perbedaan individual yang menjadi orientasi pokok pelayanannya.[2]
e. Bimbingan dan konseling menekankan hal yang positif dalam kenyataan masih ada individu yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan dan konseling, karena BK dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi.
Sangat berbeda jauh dengan pandangan tersebut, BK sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karna BK merupakan cara untuk membangun pandangan positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan dan peluang untuk berkembang.[3]

2. Prinsip-Prinsip Berkenaan Dengan Masalah Individu.
Berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan dan kehidupan individu tidaklah selalu positif, namun faktor-faktor negatif pasti ada yang berpengaruh dan dapat menimbulkan hambatan-hambatan terhadap kelangsungan perkembangan dan kehidupan individu yang berupa masalah. Pelayanan BK hanya mampu menangani masalah klien secara terbatas yang berkenaan dengan :
BK berurusan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental atau fisik individu terhadap penyesuaian dirinya dirumah, disekolah serta dalam kaitannya dengan kontak sosial dan pekerjaan, dan sebaliknya pengaruh lingkungan terhadap kondisi mental dan fisik individu.
Kesenjangan sosial, ekonomi dan kebudayaan merupakan faktor timbulnya masalah pada invidu yang kesemuanya menjadi perhatian utama pelayanan BK.

3. Prinsip-Prinsip Berkenaan Dengan Program Pelayanan.
Adapun prinsip-prinsip yang berkenaan dengan pelayanan layanan BK itu adalah sebgaai berikut :
a. BK merupakan bagian integrasi dari proses pendidikan dan pengembangan, oleh karena itu BK harus diselaraskan dan dipadukan dengan program pendidikan serta pengembangan peserta didik.
b. Program BK harus fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan individu, masyarakat dan kondisi lembaga.
c. Program bimbingan dan konseling disusun secara berkelanjutan dari jenjang pendidikan terendah sampai tertinggi.

4. Prinsip-Prinsip Berkenaan Dengan Pelaksanaan Pelayanan
Pelaksanaan pelayanan BK baik yang bersifat insidental maupun terprogram, dimulai dengan pemahaman tentang tujuan layanan, dan tujuan ini akan diwujudkan melalui proses tertentu yang dilaksanakan oleh tenaga ahli dalam bidangnya, yaitu konselor profesional.
Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan hal tersebut adalah :
a. BK harus diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu membimbing diri sendiri dalm menghadapi permasalahannya.
b. Dalam proses BK keputusan yang diambil dan akan dilakukan oleh individu hendaknya atas kemauan individu itu sendiri bukan karena kemauan atau desakan dari pihak lain.
c. Permasalahan individu harus ditangani oleh tenaga ahli dalam bidang yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi.
d. Kerja sama antara guru pembimbing, guru-guru lain dan orang tua anak amat menentukan hasil pelayanan bimbingan.
e. Pengembangan program pelayanan BK ditempuh melalui pemanfaatan yang maksimal dari hasil pengukuran dan penilaian terhadap individu yang terlibat dalam proses pelayanan dan program bimbingan dan konseling itu sendiri (Hanen, 2002).[4]

5. Prinsip-prinsip bimbingan dan konseling disekolah
Sekolah merupakan lembaga yang wajah dan sosoknya sangat jelas. Di sekolah pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dengan amat baik mengingat sekolah merupakan lahan yang secara potensial sangat subur, sekolah memiliki kondisi dasar yang justru menuntut adanya pelayanan ini pada kadar yang tinggi. Pelayanan BK secara resmi memang ada disekolah, tetapi keberadaannya belum seperti dikehendaki. Dalam kaitan ini Belkin (dalam Prayitno 1994) menegaskan enam prinsip untuk menumbuh kembangkan pelayanan BK disekolah.


KESIMPULAN
Prinsip-prinsip BK merupakan pemanduan hasil-hasil teori dan praktek yang dirumuskan dan dijadikan pedoman dan dasar bagi penyelenggaraan pelayanan.
1. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan :
a. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang umur jenis kelamin, suku, agama dan status sosial ekonomi.
b. Bimbingan dan konseling berurusan dengan pribadi dan tingkah laku individu dan memperhatikan tahap-tahap atau berbagai aspek perkembangan individu, serta memberikan perhatian utama kepada perbedaan invidual yang menjadi orientasi pokok pelayanan.
2. Prinsip yang berkenaan dengan permasalahan individu
a. Bimbingan dan konseling berurusan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental atau fisus individu terhadap penyesuaian dirinya dirumah maupun disekolah, dan yang menjadi faktor timbulnya masalah pada individu adalah kesenjangan sosial, ekonomi dan kebudayaan.
3. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan
a. Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari upaya pendidikan dan pengembangan individu;
b. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel disesuaikan dngan kebutuhan individu, masyarakat dan kondisi lembaga serta disusun secara berkelanjutan dari jenjang pendidikan terendah sampai tertinggi.
4. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan pelaksanaan pelayanan
a. Bimbingan dan konseling harus diarahkan untuk mengembangkan invidu sehingga keputusan yang diambil dan akan dilakukan oleh individu hendaknya atas kemauan individu itu sendiri.
b. Permasalahan individu harus ditangani oleh tenaga ahli dalam bidang yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi.
Prinsip BK disekolah menegaskan bahwa penegakan dan penumbuh kembangan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah hanya dilakukan oleh konselor profesional memiliki komitmen dan keterampilan untuk membantu siswa dengan segenap variasinya disekolah, dan mampu bekerja sama serta membina hubungan yang harmonis-dinamis dengan kepala sekolah.

DAFTAR PUSTAKA
1. Anas Salahuddin,Bimbingan dan Konseling. 2010 .Bandung:Pustaka Setia.
2. Hallen, Bimbingan dan Konseling.
3. Abu Bakar M Luddin, Dasar-Dasar Konseling(Bandung, Cita Pustaka Media Perintis 2010).

[1] Anas Salahuddin,Bimbingan dan Konseling.(Bandung:Pustaka Setia, 2010) hal.43
[2] Hallen, Bimbingan dan Konseling. Hal 64
[3] Abu Bakar M Luddin, Dasar-Dasar Konseling(Bandung, Cita Pustaka Media Perintis 2010). Hal 33
[4] ibid
Read More »

Minggu, 24 Juni 2012

Ice Breaking Ideas


1. Pak-Pak Boom!

Permainan ini sangat sederhana tapi sangat efektif untuk mencairkan kekakuan didalam kelas.
Cara bermain:

  • Guru/instruktur memberi arahan kepada murid untuk berdiri
  • Suruh murid untuk mengikuti arahan guru
  • Angkat kedua tangan keatas
  • Ketika guru mengatakan “PAK” maka murid harus bertepuk tangan
  • Ketika guru mengatakan “BOOM” maka murid harus menepuk pahanya
  • Contohkan berulang-ulang sambil memberi instuksi, pak-pak-boom, boom-boom-pak (sambil menepuk tangan dan paha sebagaimana instruksi diatas)
  • Usahakan makin lama semakin kencang agar lebih seru dan lebih mengasah konsentrasi murid.


2. Bos Berkata

Fungsi permainan: Menguji konsentrasi dan kejelian murid, sangat cocok ketika kelas sudah merasa bosan dengan pelajaran.
Cara bermain:

  • Guru memberi instruksi dengan kata-kata “bos berkata” sambil memberi aba-aba, ini hanya berlaku ketika perintah tersebut diiringi dengan kata “bos berkata”,  jika perintah tersebut tidak diiringi dengan kata-kata tersebut maka perintah tersebut dianggap tidak berlaku dan kita ada murid yang melakukannya maka ia akan dikenakan hukuman (usahakan hukumannya berdasarkan dengan pelajaran usahakan tidak menggunakan kekerasan fisik seperti mencubit dll.)
  • Guru: bos berkata, “BERDIRI” (maka murid harus berdiri)
  • Guru: bos berkata, “BERBARIS”(murid harus berbaris)
  • Guru: bos berkata, “TERTAWA”(murid harus tertawa)
  • Guru: “DUDUK KEMBALI” (jika ada yang duduk maka muris harus dihukum karena tidak ada kata-kata “bos berkata”).


3. Bermain Loncat Arah

Fungsi permainan: Jika kelas sudah mulai terasa jenuh dan mengantuk permainan ini akan membuat mata lebar kembali dan untuk melatih kekompakan.
Cara bermain:

  • Guru memerintahkan agar murid berdiri dan membuat 2-4 barisan (tergantung pada jumlah murid )
  • Barisan 1-2 saling berhadapan, 3-4 juga saling berhadapan         
  • Setelah itu guru memberi aba-aba
  • Guru: pegang pundak teman didepannya (dilaksanakan oleh murid)
  • Guru: lompat kedepan
  • Guru: lompat kebelakang
  • Guru: lompat kekiri
  • Guru: lompat kekanan (tangannya tidak boleh lepas dari pundak temannya)
  • Satelah dilakukan berulang ulang coba dibalik, jika perintahnya lompat kedepan maka murid harus lompat kebelakang, begitu juga sebaliknya.


4. Pesan Berantai
Fungsi permainan: Untuk mengasah kekompakan, ketelitian dan imajinasi.
Cara bermain.

  • Guru membagi anak menjadi dua kelompok
  • Setelah itu anak disuruh berbaris berbanjar
  • Sebelumnya guru telah mempersiapkan  pesan yang akan disampaikan kepada murid-muridnya
  • Setelah anak itu tahu pesan yang akan disampaikannya maka ia mulai menuliskannya dipunggung teman-temannya.
  • Ini dilakukan secara berantai dengan menuliskan pesan tersebut dipunggung peserta temannya. (jangan sampai bersuara, jika ada yang menyampaikan pesan dengan bersuara maka dianggap gagal)
  • Permainan ini bisa juga dengan berbisik-bisik tetap disampaikan secara berantai.


5. Badai Berhembus (The Great Wind Blows)
Fungsi permainan: Strategi ini merupakan icebreaker yang dibuat cepat yang membuat para peserta latihan bergerak tertawa. Strategi tersebut merupakan cara membangun team yang baik dan menjadikan para peserta lebih mengenal satu sama lain.
Cara bermain:

  • Guru menyuruh untuk membuat lingkaran.
  • Jelaskan kepada murid aturan permainan, untuk putaran pertama guru akan bertindak sebagai angin.
  • Guru sebagai angin akan mengatakan angin berhembus kepada yang memakai misal : kacamata (apabila ada beberapa peserta memakai kacamata).
  • Murid yang memakai kacamata harus diam ditempat tapi teman-temannya yang lain harus bergabung dengan anak yang memakai kaca mata.
  • Lakukan putaran kedua, dan seterusnya. Setiap putaran yang bertindak sebagai angin harus mengatakan ‘angin berhembus kepada yang …………. (sesuai dengan karakteristik peserta, misal : baju biru, sepatu hitam, dsb)


6. Bercermin

Fungsi permainan: Memberi pelajaran pada anak bahwa Mengikuti apa yang dilakukan orang lain boleh selagi itu masih dalam kebaikan dan membangun team work yang solid.
Langkah–langkah :

  • Minta setiap peserta untuk berpasangan, 1 orang menjadi bayangan di cermin dan 1 orang menjadi seseorang yang sedang berdandan di depan cermin.
  • Bayangan harus mengikuti gerak – gerik orang yang berdandan.
  • Keduanya harus bekerja sama agar bisa bergerak secara kompak dengan kecepatan yang sama.
  • Minta peserta untuk mendiskusikan apa pesan dalam permainan ini.


7. Kompak
Fungsi permainan: Menjaga tim agar tetap kompak antara satu dengan yang lain, menjaga tim agar tetap selamat dan menaruh kepercayaan kepada pemimpin yang akan menuntun kita.
Cara bermain:

  • Tentukan target/tempat yang akan dituju
  • Tunjuk satu ketua yang akan memberi instruksi kepada kelompoknya
  • Minta semua murid untuk berbaris dan menutup mata, ia dilarang untuk membuka matanya dan hanya mendengarkan instruksi dari ketuanya
  • Sebelumnya harus disepakati aba-abanya, seperti ketika lurus maka ia mengucapkan Allahu Akbar, jika belok kanan membaca subhanallah, jika belok kiri membaca innalillah. Maka ketuanya harus bisa memberi aba-aba yang benar agar cepat mencapai tujuan.
  • Ketepatan instruksi dari ketua sangat dibutuhkan untuk keselamatan dan kecepatan dalam mencapai tempat yang telah ditentukan.


8. Apa Kabar?
Fungsi permainan: Fungsi permainan ini adalah untuk menyapa enak, permainan ini sangat sipel dan tidak membutuhkan materi apapun dan untuk mengembalikan konsentrasi, game ini sangat cocok jika telah disepakati diawal sebelum memulai belajar.
Cara  bermain:

  • Buat kesepakatan dengan murid jika guru bertanya sesuatu maka mereka harus menjawab sesuai dengan jawaban yang sudah disepakati
  • Tanya kabar ini bisa bermacam-macam:
  • Jika guru berkata: “HOW ARE YOU” jawabannya “FINE”
  • Ketentuannya adalah jika guru menyebutkan dengan suara pelan maka murid menjawab dengan suara keras, jika guru mengucapkan dengan suara keras  maka harus dijawab pelan.
  • Ini bisa dilakukan dengan disela-sela pelajaran sedang berlangsung ketika konsentrasi sudah mulai buyar dan untuk mengembalikan konsentrasi.


9. Tebak Wajah
Fungsi permainan: inti dari permainan ini adalah untuk  saling mengenal antara satu dengan yang lain agar lebih dekat, kompak dan solid.
Cara bermain:

  • Guru memerintahkan murid untuk mengeluarkan kertas
  • minta murid untuk menuliskan cita-citanya, ciri-cirinya, makanan kesukaannya, hobi, atau profil yang lain yang menunjukkan ciri-ciri orang yang menulisnya
  • setelah itu minta murid membalik kertas menempelkan kertas tersebut kemukanya, lalu minta untuk menuliskan gambar wajahnya diatas kertas tersebut dengan posisi kertas masih didepan mukanya
  • dan lipat kertas tersebut lalu kumpulkan kepada guru
  • guru akan membagikan kertas tersebut kepada murid dengan acak
  • dan setelah murid mendapat kertas (pastikan ia tidak mendapat kertas miliknya sendiri) tunjuk murid untuk menebak siapa orang yang terdapat didalam kertas tersebut berdasarkan ciri-ciri yang telah dituliskan oleh pemiliknya.
  • Kalu betul ia menunjuk teman yang lain, misalnya selanjutnya yang memalai kaca mata, tapi jika salah maka minta ia menyanyikan sebuah lagu dll.


10. Find Your Family
Fungsi permainan:

  1. Melatih konsentrasi
  2. Melatih kesabaran
  3. Melatih kekompakan
  4. Melatih daya ingat
  5. Dan melatih pendengaran


Cara bermain

  • Bagi murid dalam tiga kelompok
  • Tentukan ciri keluarga masing-masing dan suara dari keluarga tersebut
  • Contoh keluarga pertama bersuara kucing, maka ketika nanti mereka disuruh berpencar dan menutup mata maka murid harus bersuara dan mencari kelurganya sambil mengeong-ngeong.

Read More »

Rabu, 13 Juni 2012

Quantum Teaching


Pernah mendengar atau membaca tentang Quantum Teaching? Kalau anda seorang guru atau dosen mungkin sudah sangat sering mendengar tentang konsep yang dikemukakan Bobby De Porter ini ya. Saya mencoba meringkas dan mengadaptasi QT untuk keperluan mengajar saya di kampus. Semoga semester depan bisa saya terapkan. Here they are.

Asas Utama

Asas utama Quantum Teaching :
“Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”.
Kita perlu masuk dulu ke dalam dunia mahasiswa. Dapatkanlah wewenang dan hak untuk memasuki dunia mereka. Wewenang itu akan diberikan mahasiswa dengan sukarela, jika Anda memperlakukan mereka sebagai manusia. Manusia dewasa dengan segala aspek kepribadiannya.

Setelah kaitan itu terbentuk, barulah Anda dapat membawa mereka ke dalam dunia Anda. Di sinilah hal – hal baru Anda beberkan kepada mereka, sehingga pada akhirnya mereka memahami isi dunia Anda, dan membawanya ke dalam dunia mereka sendiri (sebagai milik pribadi mereka).

Model Quantum Teaching

Unsur – unsur dari “simfoni” pembelajaran Anda adalah : konteks dan isi.
Konteks adalah segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menyampaikan isi dengan baik. Bagian – bagiannya ialah : 
1. Suasana yang memberdayakan
  • Kepercayaan dosen akan kemampuan dan motivasi mahasiswa harus terlihat jelas. Dosen perlu punya pandangan positif terhadap mahasiswanya. Termasuk memperhatikan emosi mahasiswa dapat membantu mempercepat pembelajaran mereka. Kondisi “flow” saat belajar/kuliah sangat penting.
  • Supaya siswa terlibat dalam kuliah, dosen harus membangun hubungan, yaitu dengan menjalin rasa simpati dan pengertian. Mahasiswa (sebagai manusia) lebih penting dari materi.
  • Perlunya membawa kegembiraan dalam proses belajar – mengajar melalui : afirmasi (penguatan), pengakuan, dan perayaan. (RESIKO + KEGEMBIRAAN = KERIANGAN)
  • Resiko membangkitkan keinginan “bertualang” bagi para pelajar. Tanpa resiko, mereka akan tinggal dalam zona nyaman yang membosankan.
  • Membuat semua siswa merasa “saling memiliki” satu dengan yang lain. Kepaduan tim ini membuat orang merasa berdaya untuk keluar dan mempertaruhkan zona nyaman mereka demi sukses dan belajar.
  • Keteladanan sangat penting. Diri Anda lebih penting dari pengetahuan Anda.

2. Landasan yang kukuh
  • Komunitas belajar perlu memiliki tujuan yang sama (yang disepakati di awal perkuliahan).
  • Prinsip – prinsip (sama dengan nilai – nilai moral yang dipegang oleh kelas). Tentukanlah hal itu bersama – sama, dan peganglah sepanjang semester.
  • Yakin akan kemampuan Anda mengajar, dan kemampuan siswa Anda belajar.
  • Kesepakatan, kebijakan, prosedur, dan peraturan. Semakin jelas, mahasiswa akan semakin merasa aman dan minim kejutan.
  • Menjaga komunitas tetap berjalan (dan bertumbuh)
    • Mahasiswa adalah mitra (bukan obyek) dalam belajar.
    • Penggambaran tentang masa depan, AMBAK bagi mahasiswa dalam kehidupannya nanti sangat penting.

3. Lingkungan yang mendukung (lebih cocok untuk siswa di sekolah)
4. Rancangan belajar yang dinamis
  • Merancang pengajaran dengan konsep : “Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”.
  • Memahami modalitas “V, A, K”
  • Bagaimana rancangan pengajaran (SAP) anda memastikan kesuksesan mahasiswa? Karena siswa punya 2 masalah : pelajaran sulit & resiko besar. Pergunakanlah konsep :
    • Multisensori (V, A, K), pemotongan menjadi segmen, dan pengulangan.
    • Kelompok besar –> kelompok kecil –> individu (mengurangi resiko)
  • Kerangka rancangan Quantum Teaching (TANDUR) :
    • T  : Tumbuhkan. Pikat mereka, puaskan AMBAK.
    • A : Alami. Berikan mereka pengalaman belajar, tumbuhkan kebutuhan untuk mengetahui sesuatu
    • N : Namai. Berikan “data”, “nama”, “kunci” saat minat memuncak.
    • D : Demonstrasikan. Beri kesempatan mereka untuk menghayati dan membuat pengetahuan sebagai “milik/pengalaman pribadi”.
    • U : Ulangi. Rekatkan gambar keseluruhannya.
    • R : Rayakan.  Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan. Perayaan menambatkan pengalaman belajar dengan asosiasi positif.
  • Multiple Intelligence dan Slim n Bil
  • Penggunaan metafora, perumpamaan dan sugesti (positif) dalam pengajaran.

Sedang isi adalah materi yang Anda bawakan beserta cara penyampaiannya kepada mahasiswa. Bagian – bagiannya meliputi :
A. Penyajian yang prima
1. Tujuh pedoman presentasi sukses
  • Memahami apa yang Anda inginkan
  • Membina hubungan dengan mahasiswa
  • “Membaca” kondisi terkini mereka
  • Memiliki target untuk keadaan mereka
  • Menggunakan modalitas mereka (V, A, K)
  • Memanfaatkan ruangan
  • Bersikap tulus

2. Menjadi quantum teacher
3. Pencocokan modalitas
4. Empat prinsip komunikasi ampuh
  • Munculkan kesan positif
  • Arahkan fokus dengan kata – kata
  • Bersikap inklusif (mengajak), bukan memaksa
  • Jelas dan spesifik

5. Komunikasi nonverbal
  • Kontak mata
  • Ekspresi wajah
  • Nada suara/intonasi
  • Gerak tubuh
  • Sosok/postur

6. Paket presentasi efektif, dosen sebagai
  • Penemu
  • Pemimpin
  • Pengarah

7. Penambatan. Perlunya tambatan pribadi bagi masing – masing mahasiswa sehingga mereka dapat mengakses yang terbaik dari kemampuan Anda.

B. Fasilitasi yang luwes
C. Ketrampilan belajar untuk belajar
D. Ketrampilan hidup

Selengkapnya bisa membaca “Quantum Teching” karya Bobby DePorter. Buku ini baru diterbitkan ulang dengan wajah baru oleh Penerbit Kaifa.

Read More »

Minggu, 27 Mei 2012

Lemahnya Pengawasan Kinerja Guru

Pendidikan   Nasional   yang   berlandaskan falsafah   Pancasila   dan  Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan  dan    membentuk  watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu , peningkatan relevansi pendidikan dan peningkatan efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan pendidikan diwujudkan dalam program wajib belajar 9 tahun. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya melalui olahhati, olahpikir, olahrasa dan olahraga agar memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global. Peningkatan relevansi pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan berbasis potensi sumber daya alam Indonesia. Peningkatan efisiensi manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah dan pembaharuan pengelolaan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.

Implementasi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan, yaitu: standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.

Ketika situasi Sekolah harus menerapkan keseriusan dalam melaksanakan 8 Standar Nasional Pendidikan tersebut diatas dan membutuhkan para pengelola untuk mengemban tugas-tugas edukatifnya, maka peranan Pengawas turut menentukan baik untuk peningkatan kompetensi para pengelola maupun  terhadap pengembangan program-program kependidikan tersebut.

PENGAWASAN KINERJA GURU DI LEMBAGA ISLAM

1.      Lemahnya Pengawasan Kinerja Guru.

Begitu Lemahnya pengawasan terhadap kinerja guru – guru dilapangan membuat kualitas serta mutu dalam pendidikan semakin merosot , bahkan banyak sekali ditemui di lapangan anak – anak Sekolah Dasar Negeri kelas tiga tidak dapat membaca dan berhitung seperti halnya anak Sekolah Taman Kanak – Kanak ( TK ).
Hal ini sangat disayangkan sekali dan penyebab dari semua itu dikarenakan kualitas dari pendidik / guru - guru itu sendiri, bahkan rasa tanggung jawab terhadap mengajarnya pun sangat rendah dan yang lebih di parah lagi guru-guru yang memegang kelas (wali kelas) membiarkan para anak-anak didiknya belajar sendiri dari buku-buku yang ada di sekolahan , mereka lebih mementingkan membereskan uang tabungan dari murid-muridnya.

Semuanya tidak terlepas dari peran kepala sekolah yang kurang dalam mengontrol/mengawasi ke kelas-kelas , malahan ada kepala sekolahnya yang juga datangnya terlambat dan tidak pernah juga memberikan mata pelajaran .

Dari pantauan disalah satu Sekolah Dasar Negeri yang berada di kecamatan kadipaten ada seorang Ibu pengajar/guru selama tujuh bulan lebih sama sekali tidak masuk dan kalaupun datang ke sekolahan tersebut hanya kalau gajian pada tanggal muda dan herannya guru ini mendapatkan Sertifikasi dan hal tersebut di biarkan oleh kepala sekolahnya.

Dalam hal ini pemberian sertifikasi ini sangat-sangatlah  jelas-jelas tidaklah tepat di berikan terhadap guru-guru / kepala sekolah yang sangat malas mengajar dan hanya makan gaji buta.
Keberadaan guru-guru/kepala sekolah yang bersertifikasi ini ternyata banyak dipergunjingkan dikalangan guru-guru itu sendiri sehingga menimbulkan kecemburuan dari guru bantu yang ada pada sekolahannya masing-masing.

Mereka ada yang berani angkat bicara serta membanding-bandingkan kerajinannya dalam mengajar sehari – hari ,sehingga mereka meminta kepada Kementerian Pendidikan dan kepala dinas pendidikan kabupaten majalengka Drs . H ,Sanwasi ,MPd . agar dapat lebih tegas bila perlu diberi sangsi yang lebih berat dan kiranya dapat meninjau langsung kelapangan untuk melihat keadaan yang sebenarnya terjadi dan jangan mudah percaya dengan absensi di sekolah-sekolah  yang gampang di rekayasa / manipulasi data sehingga dapat menghantarkan para guru untuk mendapatkan secarik kertas yang ada tulisan sertifikasi, dikarenakan mereka itu mampu memberikan sesuatu (uang ) untuk meloloskan dan mendapatkan secarik kertas yang bertuliskan SERTIFIKASI berapapun kisarannya , nah ini kita melihat sisi buram / buruk dari program sertifikasi guru.

Dalam terlusuran wartafokus dilapangan di Sekolah Dasar Negeri Biawak desa pasir ipis kecamatan kertajati, ada guru yang sama sekali tidak mau mengajar bahkan menyuruh pada guru bantu untuk mengantikan perannya di Sekolahan itu dan diakhir bulan guru bantu tersebut diberikan upah oleh guru yang malas mengajar dan disibukan dengan usahanya sebagai pedagang kayu-kayu kusen.

Ternyata guru yang malas tersebut adalah asli penduduk setempat ( biawak ) desa pasir ipis kecamatan kertajati sehingga kepala sekolahnya sendiri tidak berani menegur apa lagi memberikan sangsi dikarenakan guru tersebut adalah seorang yang terkenal di desanya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka Drs, H. Sanwasi.MPd,saat ditemui di ruang kerjanya memberikan penjelasan, nanti akan kita atur dalam aturan baru yang akan mengatur semuanya itu, terlepas dari banyaknya atau tidaknya guru yang menunjukan kinerja buruk dalam hal ini kita telah mengambil langkah-langkah perbaikan.

“Kini untuk sertifikasi tidak lagi dilakukann lewat portofolio namun dilakukan lewat pendidikan secara langsung dan hal itu untuk memperbaiki kekurangan yang telah dilakukan sebelumnya,karena dengan portofolio banyak sekali kelemahannya,namun dengan penyelenggaraan pendidikan seperti yang akan dilakukan nanti diharapkan kemampuan serta kualitas guru – guru dalam mengajar benar – benar teruji.”tegas Sanwasi.

Masalah guru – guru yang malas mengajar, Sanwasi mengatakan “kita akan terus meningkatkan di bidang pengawasan yang di perankan oleh pengawas – pengawas yang bertugas dilapangan”,tandasnya.

Kenapa  bisa terjadi dilapangan ada guru – guru yang malas dan kepala sekolah yang tidak memberikan mata pelajaran terhadap anak didiknya hal ini tidak terlepas juga dari para pengawas , serta Unit Pelayanan Teknis Daerah ( UPTD ) yang ada diwilayahnya masing - masing yang juga turut malas mengawasi dilapangan tersebut sehingga terjadi demikian.

‘Kami berjanji akan segera berbenah sehingga pendidikan yang ada di majalengka lebih menuju pada kualitas yang lebih baik” tutur Sanwasi.[1]

2.      Tugas Pokok Pengawas Sekolah.

Tugas pokok pengawas sekolah/satuan pendidikan adalah melakukan penilaian dan pembinaan dengan melaksanakan fungsi-fungsi supervisi, baik supervisi akademik maupun supervisi manajerial. Berdasarkan tugas pokok dan fungsi di atas minimal ada tiga kegiatan yang harus dilaksanakan pengawas yakni:

a.       Melakukan pembinaan pengembangan kualitas sekolah, kinerja kepala sekolah, kinerja guru, dan kinerja seluruh staf sekolah.
b.      Melakukan evaluasi dan monitoring pelaksanaan program sekolah beserta pengembangannya.
c.       Melakukan penilaian terhadap proses dan hasil program pengembangan sekolah secara kolaboratif dengan stakeholder sekolah.

Mengacu pada SK Menpan nomor 118 tahun 1996 tentang jabatan fungsional pengawas dan angka kreditnya, Keputusan bersama Mendikbud nomor 03420/O/1996 dan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara nomor 38 tahun 1996 tentang petunjuk pelaksanaan jabatan fungsional pengawas serta Keputusan Mendikbud nomor 020/U/1998 tentang petunjuk teknis pelaksanaan jabatan fungsional pengawas sekolah dan angka kreditnya, dapat dikemukakan tentang tugas pokok dan tanggung jawab pengawas sekolah yang meliputi:
a.       Melaksanakan pengawasan penyelenggaraan pendidikan di sekolah sesuai dengan penugasannya pada TK, SD, SLB, SLTP dan SLTA.
b.      Meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar/bimbingan dan hasil prestasi belajar/bimbingan siswa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

Tugas pokok yang pertama merujuk pada supervisi atau pengawasan manajerial sedangkan tugas pokok yang kedua merujuk pada supervisi atau pengawasan akademik. Pengawasan manajerial pada dasarnya memberikan pembinaan, penilaian dan bantuan/bimbingan mulai dari rencana program, proses, sampai dengan hasil. Bimbingan dan bantuan diberikan kepada kepala sekolah dan seluruh staf sekolah dalam pengelolaan sekolah atau penyelenggaraan pendidikan di sekolah untuk meningkatkan kinerja sekolah. Pengawasan akademik berkaitan dengan membina dan membantu guru dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran/bimbingan dan kualitas hasil belajar siswa.

Sedangkan wewenang yang diberikan kepada pengawas sekolah meliputi: (1) memilih dan menentukan metode kerja untuk mencapai hasil yang optimal dalam melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kode etik profesi, (2) menetapkan tingkat kinerja guru dan tenaga lainnya yang diawasi beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya, (3) menentukan atau mengusulkan program pembinaan serta melakukan pembinaan. Wewenang tersebut menyiratkan adanya otonomi pengawas untuk menentukan langkah dan strategi dalam menentukan prosedur kerja kepengawasan. Namun demikian pengawas perlu berkolaborasi dengan kepala sekolah dan guru agar dalam melaksanakan tugasnya sejalan dengan arah pengembangan sekolah yang telah ditetapkan kepala sekolah.

Berdasarkan kedua tugas pokok di atas maka kegiatan yang dilakukan oleh pengawas antara lain:
a.       Menyusun program kerja kepengawasan untuk setiap semester dan setiap tahunnya pada sekolah yang dibinanya.
b.      Melaksanakan penilaian, pengolahan dan analisis data hasil belajar/bimbingan siswa dan kemampuan guru.
c.       Mengumpulkan dan mengolah data sumber daya pendidikan, proses pembelajaran/bimbingan, lingkungan sekolah yang berpengaruh terhadap perkembangan hasil belajar/bimbing­an siswa.
d.      Melaksanakan analisis komprehensif hasil analisis berbagai faktor sumber daya pendidikan sebagai bahan untuk melakukan inovasi sekolah.
e.       Memberikan arahan, bantuan dan bimbingan kepada guru tentang proses pembelajaran/bimbingan yang bermutu untuk meningkatkan mutu proses dan hasil belajar/ bimbing­an siswa.
f.       Melaksanakan penilaian dan monitoring penyelenggaran pendidikan di sekolah binaannya mulai dari penerimaan siswa baru, pelaksanaan pembelajaran, pelaksanaan ujian sampai kepada pelepasan lulusan/pemberian ijazah.
g.      Menyusun laporan hasil pengawasan di sekolah binaannya dan melaporkannya kepada Dinas Pendidikan, Komite Sekolah dan stakeholder lainnya.
h.      Melaksanakan penilaian hasil pengawasan seluruh sekolah sebagai bahan kajian untuk menetapkan program kepengawasan semester berikutnya.
i.        Memberikan bahan penilaian kepada sekolah dalam rangka akreditasi sekolah.
j.        Memberikan saran dan pertimbangan kepada pihak sekolah dalam memecahkan masalah yang dihadapi sekolah berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan.[2]

3.      Problematika yang dihadapi kinerja guru PAI.

Kinerja guru di lingkungan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) MAN dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) masih membutuhkan efektifnya kepengawasan dari Depag. Kenyataan di lapangan menunjukkan, peningkatan kinerja guru di Madrasah masih bergantung pada kondisi proses kepengawasan yang baik. Pengembangan ketenagaan guru dan penguasaan teknik supervisi akademik dari pengawas. Kondisi di lapangan juga menunjukkan, kalau program pengembangan ketenagaan, kinerja proses kepengawasan dan penguasaan teknik supervisi akademik dilaksanakan dengan baik berpengaruh positif terhadap peningkatan kinerja guru-guru MANdan MTs. Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Drs H Fathi Ismail setelah dirinya melakukan penelitian lapangan terhadap kinerja kepengawasan Departemen Agama di Jakarta Selatan. Penelitiannya mengambil responden para Pengawas Pendidikan Agama Islam dari Depag untuk guru-guru MAN dan MTsN di Jakarta Selatan. Hasil penelitiannya diangkat dalam karya disertasinya dan dipresentasikan untuk memperoleh gelar Doktor bidang Ilmu Agama Program Pascasarjana (PPs) UIN , baru-baru ini.[3]

4.      Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru diantaranya tingkat pendidikan guru, supervisi pengajaran, program penataran, iklim yang kondusif, sarana dan prasarana, kondisi fisik dan mental guru, gaya kepemimpinan kepala sekolah, jaminan kesejahteraan, kemampuan manajerial kepala sekolah dan lain-lain.
Pertama, tingkat pendidikan guru akan sangat mempengaruhi baik tidaknya kinerja guru. Kemampuan seorang sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya, karena melalui pendidikan itulah seseorang mengalami proses belajar dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa. Selama menjalani pendidikannya seseorang akan menerima banyak masukan baik berupa ilmu pengetahuan maupun keterampilan yang akan mempengaruhi pola berpikir dan prilakunya. Ini berarti jika tingkat pendidikan seseorang itu lebih tinggi maka makin banyak pengetahuan serta ketrampilan yang diajarkan kepadanya sehingga besar kemungkinan kinerjanya akan baik karena didukung oleh bekal ketrampilan dan pengetahuan yang diperolehnya.

Kedua, faktor lain yang mempengaruhi kinerja guru adalah supervisi pengajaran yaitu serangkaian kegiatan membantu guru dalam mengembangkan kemampuannya. Kepala sekolah bertugas memberikan bimbingan, bantuan, pengawasan dan penelitian pada masalah-masalah yang berhubungan dengan pengembangan pengajaran berupa perbaikan program dan kegiatan belajar mengajar. Sasaran supervisi ditujukan kepada situasi belajar mengajar yang memungkinkan terjadinya tujuan pendidikan secara optimal.
Ketiga, kinerja guru juga dipengaruhi oleh program penataran yang diikutinya. Untuk memiliki kinerja yang baik, guru dituntut untuk memiliki kemampuan akademik yang memadai, dan dapat mengaplikasikan ilmu yang dimilikinya kepada para siswa untuk kemajuan hasil belajar siswa. Hal ini menentukan kemampuan guru dalam menentukan cara penyampaian materi dan pengelolaan interaksi belajar mengajar. Untuk iitu guru perlu mengikuti program-program penataran.

Keempat, iklim yang kondusif di sekolah juga akan berpengaruh pada kinerja guru, di antaranya : pengelolaan kelas yang baik yang menunjuk pada pengaturan orang (siswa), maupun pengaturan fasilitas (ventilasi, penerangan, tempat duduk, dan media pengajaran). Selain itu hubungan antara pribadi yang baik antara kepala sekolah, guru, siswa dan karyawan sekolah akan membuat suasana sekolah menyenangkan dan merupakan salah satu sumber semangat bagi guru dalam melaksanakan tugasnya.
Kelima, agar guru memiliki kinerja yang baik maka harus didukung oleh kondisi fisik dan mental yang baik pula. Guru yang sehat akan dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik. Oleh karenanya faktor kesehatan harus benar-benar diperhatikan. Begitu pula kondisi mental guru, bila kondisi mentalnya baik dia akan mengajar dengan baik pula.

Keenam, tingkat pendapatan dapat mempengaruhi kinerja guru. Agar guru benar-benar berkonsentrasi mengajar di suatu sekolah maka harus diperhatikan tingkat pendapatannya dan juga jaminan kesejahteraan lainnya seperti pemberian intensif, kenaikan pangkat/gaji berkala, asuransi kesehatan dan lain-lain.
Ketujuh, peningkatan kinerja guru dapat dicapai apabila guru bersikap terbuka, kreatif, dan memiliki semangat kerja yang tinggi. Suasana kerja yang demikian ditentukan oleh gaya kepemimpinan kepala sekolah, yaitu cara kepala sekolah melaksanakan kepemimpinan di sekolahnya.

Kedelapan, kemampuan manajerial kepala sekolah akan mempunyai peranan dalam meningkatkan kinerja guru. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal merupakan suatu pola kerjasama antara manusia yang saling melibatkan diri dalam satu unit kerja (kelembagaan). Dalam proses mencapai tujuan pendidikan, tidak bisa terlepas dari dari kegiatan administrasi.[4]

Kegiatan adminstrasi sekolah mencakup pengaturan proses belajar mengajar, kesiswaan , personalia, peralatan pengajaran, gedung, perlengkapan, keuangan serta hubungan masyarakat. Dalam proses administrasi terdapat kegiatan manajemen yang meliputi kemampuan membuat perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan. Bila kepala sekolah memiliki kemampuan manajerial yang baik, maka pengelolaan terhadap komponen dan sumber daya pendidikan di sekolah akan baik, ini akan mendukung pelaksanaan tugas guru dan peningkatan kinerjanya.


KESIMPULAN

1.      Begitu Lemahnya pengawasan terhadap kinerja guru – guru dilapangan membuat kualitas serta mutu dalam pendidikan semakin merosot , bahkan banyak sekali ditemui di lapangan anak – anak Sekolah Dasar Negeri kelas tiga tidak dapat membaca dan berhitung seperti halnya anak Sekolah Taman Kanak – Kanak ( TK ).

Hal ini sangat disayangkan sekali dan penyebab dari semua itu dikarenakan kualitas dari pendidik / guru - guru itu sendiri, bahkan rasa tanggung jawab terhadap mengajarnya pun sangat rendah dan yang lebih di parah lagi guru-guru yang memegang kelas (wali kelas) membiarkan para anak-anak didiknya belajar sendiri dari buku-buku yang ada di sekolahan , mereka lebih mementingkan membereskan uang tabungan dari murid-muridnya.

2.      Tugas pokok pengawas sekolah:
a.       Melakukan pembinaan pengembangan kualitas sekolah, kinerja kepala sekolah, kinerja guru, dan kinerja seluruh staf sekolah.
b.      Melakukan evaluasi dan monitoring pelaksanaan program sekolah beserta pengembangannya.
c.       Melakukan penilaian terhadap proses dan hasil program pengembangan sekolah secara kolaboratif dengan stakeholder sekolah.
3.      tugas pokok dan tanggung jawab pengawas sekolah yang meliputi:
a.       Melaksanakan pengawasan penyelenggaraan pendidikan di sekolah sesuai dengan penugasannya pada TK, SD, SLB, SLTP dan SLTA.
b.      Meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar/bimbingan dan hasil prestasi belajar/bimbingan siswa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.


[1] http://wartafokus.com/pendidikan/umum/59-sangat-lemahnya-pengawasan-terhadap-kinerja-guru.html
[2] http://tangerangkab.pokjawas.org/berita/3-terbaru/5-tugas-pokok-pengawas-sekolah.html
[3] http://www.pendis.kemenag.go.id/index.php?a=detilberita&id=6173
[4] http://sabrinafauza.wordpress.com/2010/04/05/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-kinerja-guru/
Read More »

Selasa, 22 Mei 2012

Kompetensi Inti Guru Kompetensi Guru Tk/Paud

Kompetensi Pedagodik

1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual.
  • Memahami karakteristik peserta didik usia TK/PAUD yang berkaitan dengan aspek fisik, intelektual, sosial-emosional, moral, dan latar belakang sosial-budaya.
  • Mengidentifikasi potensi peserta didik usia TK/PAUD dalam berbagai bidang pengembangan.
  • Mengidentifikasi kemampuan awal peserta didik usia TK/PAUD dalam berbagai bidang pengembangan.
  • Mengidentifikasi kesulitan peserta didik usia TK/PAUD dalam berbagai bidang Pengembangan.

2. Menguasai teori belajar dan prinsipprinsip pembelajaran yang mendidik.
  • Memahami berbagai teori belajar dan prinsip-prinsip bermain sambil belajar yang mendidik yang terkait dengan berbagai bidang pengembangan di TK/PAUD.
  • Menerapkan berbagai pendekatan, strategi, metode, dan teknik bermain sambil belajar yang bersifat holistik, otentik, dan bemakna, yang terkait dengan berbagai bidang pengembangan di TK/PAUD.

3. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu.
  • Memahami prinsip-prinsip pengembangan kurikulum.
  • Menentukan tujuan kegiatan pengembangan yang mendidik.
  • Menentukan kegiatan bermain sambil belajar yang sesuai untuk mencapai tujuan pengembangan.
  • Memilih materi kegiatan pengembangan yang mendidik yaitu kegiatan bermain sambil belajar sesuai dengan tujuan pengembangan
  • Menyusun perencanaan semester, mingguan dan harian dalam berbagai kegiatan pengembangan di TK/PAUD.
  • Mengembangkan indikator dan instrument penilaian.

4. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik
  • Memahami prinsip-prinsip perancangan kegiatan pengembangan yang mendidik dan menyenangkan.
  • Mengembangkan komponen-komponen rancangan kegiatan pengembangan yang mendidik dan menyenangkan.
  • Menyusun rancangan kegiatan pengembangan yang mendidik yang lengkap, baik untuk kegiatan di dalam kelas, maupun di luar kelas.
  • Menerapkan kegiatan bermain yang bersifat holistik, otentik, dan bermakna.
  • Menciptakan suasana bermain yang menyenangkan, inklusif, dan demokratis
  • Memanfaatkan media dan sumber belajar yang sesuai dengan pendekatan bermain sambil belajar.
  • Menerapkan tahapan bermain anak dalam kegiatan pengembangan di TK/PAUD.
  • Mengambil keputusan transaksional dalam kegiatan pengembangan di TK/PAUD sesuai dengan situasi yang berkembang.
5. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik.
  • Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan kualitas kegiatan pengembangan yang mendidik.

6. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.
  • Menyediakan berbagai kegiatan bermain sambil belajar untuk mendorong peserta didik mengembangkan potensinya secara optimal termasuk kreativitasnya.
7. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik.
  • Memahami berbagai strategi berkomunikasi yang efektif, empatik dan santun, baik secara lisan maupun tulisan.
  • Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik dengan bahasa yang khas dalam interaksi pembelajaran yang terbangun secara siklikal dari (a) penyiapan kondisi psikologis peserta didik, (b) memberikan pertanyaan atau tugas sebagai undangan kepada peserta didik untuk merespons, (c) respons peserta didik, (d) reaksi guru terhadap respons peserta didik, dan seterusnya.

8. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar
  • Memahami prinsip-prinsip penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar
  • Menentukan aspek-aspek proses dan hasil belajar yang penting untuk dinilai dan dievaluasi
  • Menentukan prosedur penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.
  • Mengembangkan instrumen penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.
  • Mengadministrasikan penilaian proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan mengunakan berbagai instrumen.
  • Menganalisis hasil penilaian proses dan hasil belajar untuk berbagai tujuan.
  • Melakukan evaluasi proses dan hasil belajar.
Read More »

Senin, 14 Mei 2012

Pembelajaran Remedia

Read More »