PENDAHULUAN
Manusia
dan pendidikan adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan karena pendidikan
membutuhkan pendidik dalam melaksanakan proses belajar, tapi manusia seperti
apa yang dapat melaksanakan proses belajar?, tentu mereka yang mempuyai jiwa
yang yang tulus dan sabar dalam memdidik.
Filsafat
pendidikan dalam sejarahnya telah banyak melahirkan teori-teori tentang
pendidikan, sehingga banyak melahirkan aliran-aliran seperti:
1. Eksistensialisme
2. Realism:aktual
3. Pragmatism
4. Idealism
5. Humanism dll.
Dalam
makalah ini akan dibahas bagaimana hubungan antara manusia dan pendidikan
bagaimana peranan manusia dalam pendidikan, serta bagaimana pandangan para ahli
filsafat mendefinisikan manusia.
Dalam
al-qur’an juga banyak dibahas tentang kedudukan manusia, yaitu sebagai khalifah
dan abdi Allah yang seantiasa patuh terhadap apa yang diperintahkan maupun yang
dilarang, pada masa sekarang ini kebanyakan manusia tidak mengerti apa yang
harus mereka pelajari, apa hikmah yang dapat diambil dari pelajaran tadi
sehingga semua menjadi pengambang dan cepat lupa.
Allah
telah menganugrahkan kepada manusia yaitu bekal akal dan hati, tampa kedua hal
ini pendidikan tidak akan bisa berjalan dengan lancar, sedangkan pada zaman
sekarang ini banyak orang yang memiliki akal dan hati tetapi tidak untuk itu,
melainkan hanya sekedar belajar dan transver ilmu jika ini terjadi terus maka
kwalitas yang dididik akan tidak akan pernah dapat apa yang pantas ia cari.
MANUSIA DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
A. Fitrah Manusia
Yang
dimaksud dengan fitrah adalah suci, suci dari segala kesalahan dan dosa.
Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah ada yang berpendapat bagaikan kertas
putih kosong yang belum ternoda dari tulisan dan coret-coretan yang akan ia
tulis seiring dengan berjalannya waktu. Tapi perlu diketahui manusia lahir dimuka bumi
ini bukan seperti kertas kosong belaka melainkan ia telah mengikat perjanjian
dengan sang pemilik jiwa terhadapa apa yang akan dipertanggung jawabkannya
nanti.
Dalam
al-qur’an disebutkan tentang fitrah
manusia, ar-ruum 30:
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pkön=tæ 4 w @Ïö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 Ï9ºs ÚúïÏe$!$# ÞOÍhs)ø9$# ÆÅ3»s9ur usYò2r& Ĩ$¨Z9$# w tbqßJn=ôèt ÇÌÉÈ
Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada
agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang
lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui {ar-ruum
30}
Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. manusia
diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada
manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak
beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.
Jadi
fitrah tidak hanya disebut dengan kesucian tetapi naluri yang ia jalani sebagai
seorang manusia juga bisa dikatakan fitrah. Contohnya, manusia selalu ingin
tahu, manusia ingin mselalu mendapatkan apa yang ia inginkan ini juga bisa
disebut dengan fitrah manusia.
Setiap
manusia mempunyai potensi dalam dirinya ini juga bisa disebut dengan fitrah,
manusia dianugrahkan akal sehingga ia mempunyai bermacam-macam potensi yang
dapat dikembangkan oleh karena itulah manusia membutuhkan pendidikan untuk
mengembangkan dirinya dan mengembangkan potensi orang lain, yang biasa kita
sebut pendidik.
B. Gambaran Manusia.
1. Manusia Dalam Pandangan islam.
Kata-kata
manusia dalam al-qur’an setidaknya terdapat tiga kata yang bermakna manusia,
namun secara khusus memiliki penekanan pengertian yang berbeda-beda:[1]
a. Al-basyar,
dinyatakan dalam al-qur’an sebanyak 36 kali yang tersebar dalam 26 surat,
secara bahasa al-basyar berarti kulit kepala, wajah, tubuh tempat tubuhnya
rambut dalam kata lain kata al-basyar lebih bersifat umum dan ditujukan kepada
seluruh manusia tanpa terkecuali.
ö@è% !$yJ¯RÎ) O$tRr& ×|³o0 ö/ä3è=÷WÏiB #Óyrqã ¥n<Î) !$yJ¯Rr& öNä3ßg»s9Î) ×m»s9Î) ÓÏnºur ( `yJsù tb%x. (#qã_öt uä!$s)Ï9 ¾ÏmÎn/u ö@yJ÷èuù=sù WxuKtã $[sÎ=»|¹ wur õ8Îô³ç Íoy$t7ÏèÎ/ ÿ¾ÏmÎn/u #Jtnr& ÇÊÊÉÈ
Artinya:’katakanlah:sesungguhnya aku {Muhammad}
hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku…” {al-kahfi
110}
b.
Al-insan,
berasal dari kata al-uns, dinyatakan dalam al-qur’an sebanyak 73 kali dan
tersebar dalam 43 surat secara bahasa al-insan dapat diartikan harmonis,
lembut, tampak atau pelupa. Jadi kata al-insan dinyatakan dalam al-qur’an
karena manusia itu adalah makhluk social yang membutuhkan keterkaitan antara
satu dengan yang lain sehingga ia layak untuk menyandang predikat khalifah
allah dimuka bumi.
@è%ur
Ï$t7ÏèÏj9
(#qä9qà)t
ÓÉL©9$#
}Ïd
ß`|¡ômr&
4 ¨bÎ)
z`»sÜø¤±9$#
éøu\t
öNæhuZ÷t/
4 ¨bÎ)
z`»sÜø¤±9$#
c%x.
Ç`»|¡SM~Ï9
#xrßtã
$YZÎ7B
ÇÎÌÈ
Artinya:dan katakanlah kepada hamba-hambaku:
“hendaklah mereka mengucapkan kata-kata yang baik {benar}. Sesungguhnya syetan
itu menimbulkan perselisihan diantara mereka, sesungguhnya syetan itu musuh
yang nyata bagi manusia.
c. An-naas,
dinyatakan dalam al-qur’an sebanyak 240 kali yang tersebar dalam 53 surat, kata
an-naas menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk social secara keseluruhan,
tanpa melihat status keimanan dan kekafiran. Kata an-naas lebih bersifat umum
dari pada al-insan, yang mana al-insan ini lebih dominan melakukan
kebaikan-kebaikan.
*
öqs9ur
ã@Édfyèã
ª!$#
Ĩ$¨Y=Ï9
§¤±9$#
Oßgs9$yf÷èÏGó$#
Îöyø9$$Î/
zÓÅÓà)s9
öNÍkös9Î)
öNßgè=y_r&
( âxoYsù
z`Ï%©!$#
w
cqã_öt
$tRuä!$s)Ï9
Îû
öNÍkÈ]»uøóèÛ
cqßgyJ÷èt
ÇÊÊÈ
Artinya:”dan kalau sekiranya Allah menyegerakan
kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan,
pastilah diakhiri umur mereka, maka kami biarkan orang-orang yang tidak
mengharapkan pertemuan dengan kami, bergelimang didalam kesesatan mereka”
{yunus,11}
2. Manusia Menurut filosof.
a. Sokrates: ungkapannya yang paling
terkenal adalah “kenalilah dirimu sendiri” manusia adalah makhluk yang terus-menerus mencari
dirinya sendiri dan yang setiap saat harus menguji dan mengkaji secara cermat
kondisi-kondisi eksistensinya. Sokrates berkata dalam Apologia, “Hidup yang
tidak dikaji” adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi. Sehingga manusia
harus bercermin pada dirinya sendiri dan melihat potensi yang ada dalam dirinya.
b. Aristoteles mendiskripsikan manusia
sebagai berikut:
Manusia
adalah “animal rationale”.Karena, menurutnya, ada tahap perkembangan:
- Benda mati -> tumbuhan ->
binatang -> manusia.
- Tumbuhan = benda mati + hidup
—-> tumbuhan memiliki jiwa hidup.
- Binatang = benda mati + hidup +
perasaan —-> binatang memiliki jiwa perasaan.
- Manusia = benda mati + hidup +
akal —-> manusia memiliki jiwa rasional.[2]
Manusia adalah makhluk yang berakal
budi. Dengan akal budi itulah ia dapat berpikir dan mengambil tindakan. Jika tidak
maka ia akan sama seperti binatang.
c.
Plato, manusia itu ada dua, rasio dan kesenangan (nafsu), plato
berpendapat rasio itu sering berlawanan dengan nafsu. Dalam sisi lain plato
juga berpendapat manusia memiliki tiga elemen roh, nafsu dan rasio. Ia mengibaratkan
roh sebagai kuda putih yang menarik kereta bersama kuda hitam (nafsu) yang
dikendalikan oleh kusir (rasio) yang mengontrol lajunya kereta.
Berdasarkan pendapat ini pendidikan
harus membantu rasio dalam mengendalikan kereta tersebut melihat pendapat-pendapat
plato Stevenson dan haberman menilai plato sebagai orang pertama yang menilai
pendidikan sebagai kunci utama membangun masyarakat.[3]
d.
Rene Descartes (1596-1650) filosof perancis, ia amat
menekankan pada rasio pada manusia jadi pendapatnya hampir sama dengan plato,
jika rasionya lebih dominan maka tingkat kemanusiaannya semakin tinggi begitu
juga sebaliknya jika nafsunya lebih dominan maka kebiasaanya juga buruk.
e.
John locke (1623-1704) filosof inggris yang cukup terkenal
dengan teori tabula rasa yang
mengatakan manusia dilahirkan laksana kertas putih yang kemudian akan diisi
oleh pengalaman-pengalaman yang dilalui dalam hidupnya
f.
Immanuel Kant (1724-1804) filosof besar dunia dari Jerman,
ia mengatakan manusia tidaka kan dapat mengenali dirinya sendiri, melainkan apa
yang hanya dapat ia lihat[4]
C.
Impikasi Fitrah Dalam
Pendidikan Islam.
Para
ahli pendidikan muslim umumnya sependapat bahwa teori dan praktek kependidikan
islam harus didasarkan pada konsepsi dasar tentang manusia, implikasi
terpenting antara manusia dan pendidikan adalah:
1.
Karena manusia adalah makhluk resultan dari dua komponen
(materi dan immateri) yang mana proses pembinaan yang mengacu kearah realisasi
dan pengembangan komponen-komponen tersebut . hal ini berarti sistim pendidikan
islam harus dibangun antara konsep kesatuan qolbiyyah dan aqliyyah sehingga
mampu menghasilkan muslim yang intelektual dan terpuji secara moral. Jika salah
satu diantaranya dipisah maka manusia tidak akan kehilangan keseimbangan dan
tidak akan pernah melahirkan orang-orang yang menjadi pribadi-pribadi yang
sempurna.[5]
2.
Dalam al-qur’an dijelaskan fungsi penciptaan manusia adalah
sebagai khalifah dan abdi (hamba). Untuk melaksanakan perintah tersebut Allah membekali
manusia dengan seperangkat potensi dan seberapa jauh ia dapat memahami ayat dan
landasan tersebut dan harus mempelajari ayat-ayat yang bersifat tekstual dan
kontekstual.
KESIMPULAN
DAN PENUTUP
Dari pembahasan singkat diatas dapat
diambil kesimpulan:
1.
Manusia adalah makhluk social yang membutuhkan orang lain,
manusia tidak bisa hidup sendiri sehingga bisa berbagi antara yang satu dengan
yang lainnya.
Pendidikan tidak harus menggunakan
metode resmi tapi dari manapun dapat dijadikan sarana pendidikan dan alampun
bisa dijadikan pelajaran.
2.
Manusia diciptakan oleh Allah swt adalah sebagai
kholifah/pemimpin, baik itu untuk diri sendiri maupun orang lain
3.
Intinya pendidikan
itu adalah kesatuan antara roh + nafsu + akal, dalam diri pribadi manusia
terdapat komponen yang menonjol, ada yang menonjol di nafsu ia hanya akan
menemui kehampaan, sedangkan orang yang berfikir dengan akal akan mendapatkan
apa yang ia inginkan.
Dari pembahasan diatas jika terdapat
kesalahan penulis mohon maaf, demi perbaikan makalah atau kesalahan dalam
menulis pembaca bisa langsung memberi komentar agar makalah ini bisa lebih
sempurna.
öõ





Tidak ada komentar:
Posting Komentar