Blogroll

Selasa, 24 April 2012

MANUSIA DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM


PENDAHULUAN

Manusia dan pendidikan adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan karena pendidikan membutuhkan pendidik dalam melaksanakan proses belajar, tapi manusia seperti apa yang dapat melaksanakan proses belajar?, tentu mereka yang mempuyai jiwa yang yang tulus dan sabar dalam memdidik.
Filsafat pendidikan dalam sejarahnya telah banyak melahirkan teori-teori tentang pendidikan, sehingga banyak melahirkan aliran-aliran seperti:
1.      Eksistensialisme
2.      Realism:aktual
3.      Pragmatism
4.      Idealism
5.      Humanism dll.
Dalam makalah ini akan dibahas bagaimana hubungan antara manusia dan pendidikan bagaimana peranan manusia dalam pendidikan, serta bagaimana pandangan para ahli filsafat mendefinisikan manusia.
Dalam al-qur’an juga banyak dibahas tentang kedudukan manusia, yaitu sebagai khalifah dan abdi Allah yang seantiasa patuh terhadap apa yang diperintahkan maupun yang dilarang, pada masa sekarang ini kebanyakan manusia tidak mengerti apa yang harus mereka pelajari, apa hikmah yang dapat diambil dari pelajaran tadi sehingga semua menjadi pengambang dan cepat lupa.
Allah telah menganugrahkan kepada manusia yaitu bekal akal dan hati, tampa kedua hal ini pendidikan tidak akan bisa berjalan dengan lancar, sedangkan pada zaman sekarang ini banyak orang yang memiliki akal dan hati tetapi tidak untuk itu, melainkan hanya sekedar belajar dan transver ilmu jika ini terjadi terus maka kwalitas yang dididik akan tidak akan pernah dapat apa yang pantas ia cari.




MANUSIA DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
A.    Fitrah Manusia
Yang dimaksud dengan fitrah adalah suci, suci dari segala kesalahan dan dosa. Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah ada yang berpendapat bagaikan kertas putih kosong yang belum ternoda dari tulisan dan coret-coretan yang akan ia tulis seiring dengan berjalannya waktu.  Tapi perlu diketahui manusia lahir dimuka bumi ini bukan seperti kertas kosong belaka melainkan ia telah mengikat perjanjian dengan sang pemilik jiwa terhadapa apa yang akan dipertanggung jawabkannya nanti.
Dalam al-qur’an disebutkan tentang  fitrah manusia, ar-ruum 30:
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $Zÿ‹ÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏ‰ö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ  
 Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui {ar-ruum 30}
 Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.
Jadi fitrah tidak hanya disebut dengan kesucian tetapi naluri yang ia jalani sebagai seorang manusia juga bisa dikatakan fitrah. Contohnya, manusia selalu ingin tahu, manusia ingin mselalu mendapatkan apa yang ia inginkan ini juga bisa disebut dengan fitrah manusia.
Setiap manusia mempunyai potensi dalam dirinya ini juga bisa disebut dengan fitrah, manusia dianugrahkan akal sehingga ia mempunyai bermacam-macam potensi yang dapat dikembangkan oleh karena itulah manusia membutuhkan pendidikan untuk mengembangkan dirinya dan mengembangkan potensi orang lain, yang biasa kita sebut pendidik.
B.     Gambaran Manusia.

1.      Manusia Dalam Pandangan islam.
Kata-kata manusia dalam al-qur’an setidaknya terdapat tiga kata yang bermakna manusia, namun secara khusus memiliki penekanan pengertian yang berbeda-beda:[1]
a.       Al-basyar, dinyatakan dalam al-qur’an sebanyak 36 kali yang tersebar dalam 26 surat, secara bahasa al-basyar berarti kulit kepala, wajah, tubuh tempat tubuhnya rambut dalam kata lain kata al-basyar lebih bersifat umum dan ditujukan kepada seluruh manusia tanpa terkecuali.
ö@è% !$yJ¯RÎ) O$tRr& ׎|³o0 ö/ä3è=÷WÏiB #Óyrqム¥’n<Î) !$yJ¯Rr& öNä3ßg»s9Î) ×m»s9Î) Ó‰Ïnºur ( `yJsù tb%x. (#qã_ötƒ uä!$s)Ï9 ¾ÏmÎn/u‘ ö@yJ÷èu‹ù=sù WxuKtã $[sÎ=»|¹ Ÿwur õ8ÎŽô³ç„ ÍoyŠ$t7ÏèÎ/ ÿ¾ÏmÎn/u‘ #J‰tnr& ÇÊÊÉÈ  
Artinya:’katakanlah:sesungguhnya aku {Muhammad} hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku…” {al-kahfi 110}
b.      Al-insan, berasal dari kata al-uns, dinyatakan dalam al-qur’an sebanyak 73 kali dan tersebar dalam 43 surat secara bahasa al-insan dapat diartikan harmonis, lembut, tampak atau pelupa. Jadi kata al-insan dinyatakan dalam al-qur’an karena manusia itu adalah makhluk social yang membutuhkan keterkaitan antara satu dengan yang lain sehingga ia layak untuk menyandang predikat khalifah allah dimuka bumi.
@è%ur “ÏŠ$t7ÏèÏj9 (#qä9qà)tƒ ÓÉL©9$# }‘Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) z`»sÜø‹¤±9$# éøu”\tƒ öNæhuZ÷t/ 4 ¨bÎ) z`»sÜø‹¤±9$# šc%x. Ç`»|¡SM~Ï9 #xr߉tã $YZÎ7•B ÇÎÌÈ  
Artinya:dan katakanlah kepada hamba-hambaku: “hendaklah mereka mengucapkan kata-kata yang baik {benar}. Sesungguhnya syetan itu menimbulkan perselisihan diantara mereka, sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagi manusia.
c.       An-naas, dinyatakan dalam al-qur’an sebanyak 240 kali yang tersebar dalam 53 surat, kata an-naas menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk social secara keseluruhan, tanpa melihat status keimanan dan kekafiran. Kata an-naas lebih bersifat umum dari pada al-insan, yang mana al-insan ini lebih dominan melakukan kebaikan-kebaikan.
* öqs9ur ã@Édfyèムª!$# Ĩ$¨Y=Ï9 §¤±9$# Oßgs9$yf÷èÏGó™$# ÎŽöy‚ø9$$Î/ zÓÅÓà)s9 öNÍköŽs9Î) öNßgè=y_r& ( â‘x‹oYsù z`ƒÏ%©!$# Ÿw šcqã_ötƒ $tRuä!$s)Ï9 ’Îû öNÍkÈ]»uŠøóèÛ šcqßgyJ÷ètƒ ÇÊÊÈ  
Artinya:”dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka, maka kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan kami, bergelimang didalam kesesatan mereka” {yunus,11}


2.      Manusia Menurut filosof.

a.       Sokrates: ungkapannya yang paling terkenal adalah “kenalilah dirimu sendiri” manusia  adalah makhluk yang terus-menerus mencari dirinya sendiri dan yang setiap saat harus menguji dan mengkaji secara cermat kondisi-kondisi eksistensinya. Sokrates berkata dalam Apologia, “Hidup yang tidak dikaji” adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi. Sehingga manusia harus bercermin pada dirinya sendiri dan melihat potensi yang ada dalam dirinya.
b.      Aristoteles mendiskripsikan manusia sebagai berikut:
Manusia adalah “animal rationale”.Karena, menurutnya, ada tahap perkembangan:
  • Benda mati -> tumbuhan -> binatang -> manusia.
  • Tumbuhan = benda mati + hidup —-> tumbuhan memiliki jiwa hidup.
  • Binatang = benda mati + hidup + perasaan —-> binatang memiliki jiwa perasaan.
  • Manusia = benda mati + hidup + akal —-> manusia memiliki jiwa rasional.[2]
Manusia adalah makhluk yang berakal budi. Dengan akal budi itulah ia dapat berpikir dan mengambil tindakan. Jika tidak maka ia akan sama seperti binatang.
c.       Plato, manusia itu ada dua, rasio dan kesenangan (nafsu), plato berpendapat rasio itu sering berlawanan dengan nafsu. Dalam sisi lain plato juga berpendapat manusia memiliki tiga elemen roh, nafsu dan rasio. Ia mengibaratkan roh sebagai kuda putih yang menarik kereta bersama kuda hitam (nafsu) yang dikendalikan oleh kusir (rasio) yang mengontrol lajunya kereta.
Berdasarkan pendapat ini pendidikan harus membantu rasio dalam mengendalikan kereta tersebut melihat pendapat-pendapat plato Stevenson dan haberman menilai plato sebagai orang pertama yang menilai pendidikan sebagai kunci utama membangun masyarakat.[3]
d.      Rene Descartes (1596-1650) filosof perancis, ia amat menekankan pada rasio pada manusia jadi pendapatnya hampir sama dengan plato, jika rasionya lebih dominan maka tingkat kemanusiaannya semakin tinggi begitu juga sebaliknya jika nafsunya lebih dominan maka kebiasaanya juga buruk.
e.       John locke (1623-1704) filosof inggris yang cukup terkenal dengan teori tabula rasa yang mengatakan manusia dilahirkan laksana kertas putih yang kemudian akan diisi oleh pengalaman-pengalaman yang dilalui dalam hidupnya
f.       Immanuel Kant (1724-1804) filosof besar dunia dari Jerman, ia mengatakan manusia tidaka kan dapat mengenali dirinya sendiri, melainkan apa yang hanya dapat ia lihat[4]

C.     Impikasi Fitrah Dalam  Pendidikan Islam.
Para ahli pendidikan muslim umumnya sependapat bahwa teori dan praktek kependidikan islam harus didasarkan pada konsepsi dasar tentang manusia, implikasi terpenting antara manusia dan pendidikan adalah:
1.      Karena manusia adalah makhluk resultan dari dua komponen (materi dan immateri) yang mana proses pembinaan yang mengacu kearah realisasi dan pengembangan komponen-komponen tersebut . hal ini berarti sistim pendidikan islam harus dibangun antara konsep kesatuan qolbiyyah dan aqliyyah sehingga mampu menghasilkan muslim yang intelektual dan terpuji secara moral. Jika salah satu diantaranya dipisah maka manusia tidak akan kehilangan keseimbangan dan tidak akan pernah melahirkan orang-orang yang menjadi pribadi-pribadi yang sempurna.[5]

2.      Dalam al-qur’an dijelaskan fungsi penciptaan manusia adalah sebagai khalifah dan abdi (hamba). Untuk melaksanakan perintah tersebut Allah membekali manusia dengan seperangkat potensi dan seberapa jauh ia dapat memahami ayat dan landasan tersebut dan harus mempelajari ayat-ayat yang bersifat tekstual dan kontekstual.
















KESIMPULAN DAN PENUTUP
Dari pembahasan singkat diatas dapat diambil kesimpulan:
1.      Manusia adalah makhluk social yang membutuhkan orang lain, manusia tidak bisa hidup sendiri sehingga bisa berbagi antara yang satu dengan yang lainnya.
Pendidikan tidak harus menggunakan metode resmi tapi dari manapun dapat dijadikan sarana pendidikan dan alampun bisa dijadikan pelajaran.

2.      Manusia diciptakan oleh Allah swt adalah sebagai kholifah/pemimpin, baik itu untuk diri sendiri maupun orang lain

3.       Intinya pendidikan itu adalah kesatuan antara roh + nafsu + akal, dalam diri pribadi manusia terdapat komponen yang menonjol, ada yang menonjol di nafsu ia hanya akan menemui kehampaan, sedangkan orang yang berfikir dengan akal akan mendapatkan apa yang ia inginkan.

Dari pembahasan diatas jika terdapat kesalahan penulis mohon maaf, demi perbaikan makalah atau kesalahan dalam menulis pembaca bisa langsung memberi komentar agar makalah ini bisa lebih sempurna.



öõ













[1] Ramayulis;samsul nizar.Filsafat Pendidikan Islam.Jakarta:Kalam Mulia.2009.hal 48
[2] http://grelovejogja.wordpress.com/2007/02/15/konsep-para-filsuf-tentang-manusia/
[3] Tafsir Ahmad.filsafat pendidikan islam.2006.bandung.remaja rosdakarya.hal 10
[4] ibid
[5] opcit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar