PENDAHULUAN
Sebagaimana kita ketahui kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan. Oleh karena itu kurikulum merupakan salah satu alat mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan.
Tujuan pendidikan di suatu bangsa atau Negara di tentukan oleh falsafah dan pendidikan hiidup bangsa atau Negara tersebut. Berbeda falasafah dan pandangan hidup suatu bangsa dan negara menyebabakan berbeda pula tuujuan yang hendak di capai dalam pendidikan tersbut dan sekaligus berpengaruh pada Negara tersebut, untuk itu perubahan politik pemerintah suatu Negara secara signifikan ikut mempengaruhi pendidikan yang di lakukan dan berimbas pada pola kurikulum senantiasa bersifat dinamis guna lebih menyesuaikan dengan berbagai perkembangan yang terjadi, tanpa harus terlepas dari filosifi atas Negara dan agama masyarakat.
PEMBAHASAN
KURIKULUM DALAM PERSEPEKTIF FILSAPAT PENDIDIKAN ISLAM
A. Pengeertian kurikulum
Secara etimologi kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu curir yang artinya pelari dan curere yang berarti jarak yang harus di tempuh oleh pelari. Istilah ini pada mulanya di gunakan dalam dunia olahraga yang berarti ‘’a litleracecourse’’( suatu jarak yang harus di tempuh dalam pertandingan olah raga). Berdasarkan dalam pengertian ini, dalam konteknya dengan dunia pendidikan, memberinya pengertian sebagai ‘’circle of in struction” yaitu suatu lingkaran pengajaran dimana guru dan murid terlibat di dalamnya. Sementara pendapat lain di kemukakan bahwa kurikulum adalah arena pertandingan, tempat belajar bertanding untuk menguasai pelajaran guna mencapai garis penamat berupa diploma,ijazah atau gelar keserjanaan.[1]
Selain itu ada pula yang berpendapat bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang di siapkan berdasarkan rancangan yang sistematik dan koordinatif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang di tetapkan.[2]
Dari beberapa pendapat tersebut, dapat kita ketahui kurikulum pada hakikatnya adalah rancangan mata pelajaran bagi sutu kegiatan jenjang pendidikan tertentu, dan dengan menguasainya seseorang dapat di nyatakan lulus dan berhak memproleh ijazah.
B. Kerangka dasar kurikulum pendidikan islam
Filsapat pendidikan islam berdasarkan al-qur’an sebagai sumber utamanya dan otomatis menjadikan al-qur’an sebagai sumber utama dalam penyusunan kurikulumnya. Muhammad fadil al-jamili mengemukakan bahwa, al-qur’an al-karim adalah kitab terbesar yang menjaddi sumber filsapat pendidikan dan pengajaran bagi umat islam. Sudah seharusnya kurikulum pendidikan islam di susun sesuai dengan al-qur’an dan al-hadits untuk melengkapinya. Di dalam al-qur’an dan hadits di temukan kerangka dasar yang dapat di jadikan sebagai pedoman oprasional dalam penyusunan kurikulum pendidikan islam, kerangka tersebut adalah:
- Tauhid
- Perintah membaca.
Sesuai dengan tuntutan al-qur’an, inti kurikulum (intra curi culer) pendidikan islam adalah “tauhid” dan harus di manapaatkan sebagai unsure pokok. Pemantapan kalimat tauhid hendaknya sudah di mulai semenjak bayi di lahirkan dengan memperdengarkan azan dan iqomah terhadap anak yang di lahirkan. Hal ini dapat dilihat hadits dari Husain bin Ali, bahwa Rasulullah SAW besabda : “ barang siapa yang lahir anaknya, maka azankan ia pada telinga anak, dan iqomatkan ia di telinga kiri anak dan anak di mudharatkan oleh jin”. (Hadits di riwayatkan dalam kitab ibn al-syumi).
Kurikulum inti( impra curiculer) selanjutnya adalah perintah “membaca” ayat-ayat Allah yang meliputi tiga macam ayat yaitu:
- Ayat Allah yang berdasarkan wahyu
- Ayat Allah yang ada pada diri manusia
- Ayat Allah ysng terdapat di alam semesta di luar diri manusia
Firman Allah SWT:
Bacalah! Dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajarkan manusia dengan perantaaan kalam, dia mengajar kepada manusia apa yang tidak di ketahuinya. (QS:1-5)
Di jabarkan secara cermat, kalimat ayat di atas pada dasarnya mencakup kerangka kurikulum pendidikan islam yang ideal. Jabaran tersebut biasa di lihat dari beberapa indikasi yaitu:
- “Bacalah! Dengan menyebut nama Allah yang menciptakan “. Tekanan yang tergantung dalam ayat ini adalah kemampuan membaca dalam yang di hubungkan dengan nama Allah sebagai pencipta.
- “Dia menciptakan manusia dari segumpal darah”. Ayat ini mendorong manusia untuk mengintropeksi, menyelidiki tentang dirinya di mulai dari proses kejadian dirinya. Manusia di tantang dan di ransang untuk mengungkapkannya melalui imaginasi amupun pengalaman.
- “Bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak di ketahuinya”. Motivasi yang terkandung dalam ayat ini adalah agara manusia terdorong untuk mengadakan ekplorasi terhadap alam sekitarnya dengan kemampuan membaca dan menulisnya.
- Dari perintah Allah pada manusia yang tercermin dalam ayat di atas, kemudian di kembangkan dalam ilmu-ilmu yang berhubungan dengan wahyu Allah yang termuat dalam al-qur’an. Selanjutnya di kembangkan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan diri mnusia sebagai makluk ciptaan Allah serta berhubungan dengan alam sekitarnya. Hakikat membaca pada ayat Allah tersebut pada intinya adalah “Tauhid”. Di sinilah letaknya kurikulum pendidikan islam, sebab menurut islam semua ilmu pengetahuan datng dari Allah, tetapi cara penyampaiyannya ada yang lang lansung dari Allah , dan ada pula melalui pemikiran manusia serta pengalaman indra yang berada satu sama lain.
C. Dasar penyusunan kurikulum pendidikan islam
Kurikulum sebagai salah satu komponen penddidikan sangat berperan dalam mengantarkan pada tujuan pendidikan yang di harapkan, untuk itu kurikulum merupakan kekuatan utama yang mempngaruhi dan membentuk peruses pembelajaran. Kesalahan dalam penyusunan kurikulum akan menyebabkan kegagalan suatu pendidikan dan penzoliman terhadap peserta didik.
Al-Syaibany memberikan kerangka dasar yang jelas tentang kurikulum tentang Islam yaitu:
- Dasar agama. Dasar ini hendaknya menjadi ruh dan target tertinggi dalam kurikulum. Dasar agama dalam kurikulum pendidikan islam jelas di dasarkan pada al-qur’an, al-sunah dan sumber-sumber yang bersipat furu’ lainnya.
- Dasar falsafah. Dasar ini memberikan pedoman bagi tujuan pendidikan islam secara filosifis, sehingga tujuan, isi dan organisasi kurikulum mengandung suatu kebenaran dan pandangan hidup dalam bentuk nilai-nilai yang di yakini sebagai suatu kebenaran, baik di tinjau dari segi ontology, epistimologi maupun eksiologi.
- Dasar psikologis. Dasar ini memberikan landasan dalam perumusan kurikulum yang sejalan dengan cirri-ciri perkembangan psikis peserta didik, sesuai dengan tahap kematangan dan bakatnya, memperhatikan kecakapan pemikiran dan perbedaan perorangan antara satu peserta didik dengan lainnya.
- Dasar social. Dasar ini memberikan gambaran bagi kurikulum pendidikan islam yang tercermin pada dasar social yang mengandung cirri-ciri masyarakat islam dan kebudayaannya, baik dari segi pengetahuan, nilai-nilai ide, cara berfikir dan adat kebiasaan, seni dan sebagainya. Sebab, tidak ada suatu masyarakat yang tidak berbudaya dan tida ada suatu kebudayaan yang tidak berada pada masyarakat. Kaitannya dengan kurikulum pendidikan islam sudah tentu kurikulum harus mengakar pada masyarakat perubahan dan perkembangan.
D. Prinsip-prinsip kurikulum pendidikan islam
Kurikulum pendidikan islam, selain harus berlandaskan pada dasar-dasar yang telah di kemssukakan di atas, juga harus menganut perinsip-perinsip yang harus yang akan mewarnai sebuah kurikulum.
Untuk mencapai tujuan islam yang di harapkan, maka sudah barang tentu kurikulum yang di pormulasikannyapun harus mengacu pada dasar pemikiran Yng islami.[3]
Al-saybany dalam hal ini menyebutkan tujuh perinsip kurikulum pendidikan islam yaitu:
- Perinsip peraturan yang sempurna dengan agama, termasuk ajaran dan nilai-nilainya. Setiap bagian yang terdapat dalam kurikulum, mulai dari tujuan, kandungan, metode mengajar, cara-cara perlakuan, dan sebagainya harus berdasar pada agama dan akhlak islam yakni harus terisi dengan jiwa agama islam, keutamaan, cita-cita,dan kemauan yang baik sesuai dengan ajaran islam.
- Perinsip menyeluruh ( universal ) pada tujuan-tujuan dan kandungan-kandungan kurikulum, yakni mencakup tujuan membina akidah, akal, dan jasmaninya, dan hal lain bermanfaat bagi masyarakat dalam perkembangan spiritual, kebudayaan, social,ekonomi politik termasuk ilmu-ilmu agama, bahasa dan kemanusiaan, fisik, praktis, propesional, seni rupa dan sebagainya.
- Perinsip keseimbangan ysng relatif antara tujuan-tujuan dan kandungan kurikulum.
- Perinsip keterkaitan antara bakat, minat, kemampuan-kemampuan, dan kebutuhan belajar. Begitu juga dengan alam sekitarnya baik yang bersifat fisik maupun social dimana pelajar itu hidup dan berintraksi.
- Perinsip pemeliharaan perbedaan-perbedaan individual di antara para pelajar, baik dari segi minat maupun bakatnya.
- Perinsip penerima perkembangan dan perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat.
- Perinsip keterkaitan antara berbagai mata pelajaran dengan pengalaman-pengalaman dan aktifitas yang terkandung dalam kurikulum.
BAB III
KESIMPULAN
Secara harfiah kurikulum berasal dari bahasa latin curiculum yang berarti bahan pengajaran. Ada pula yang mengatakan kata tersebut berasal dari bahasa perancis courier yang berarti berlari.
Dasar kurikulum pendidikan islam. Menurut al-saybanay memberikan kerangka dasar yang jelas tentang kurikulum islam yaitu:
- Dasar agama
- Dasar falsapah
- Dasar psikologis
- Dasar sosial
Menurut al-syaibany, prinsip-prinsip yang mendekati acuan kurikulum pendidikan islam, meliputi:
- Berorientasi pada islam
- Perinsip menyeluruh
- Perinsip keseimbangan
- Perinsip-perinsip intraksi antara kebutuhan peserta didik
- Perinsip pemeliharaan perbedaan-perbedaan individual antar peserta didik, baik perdaan dari segi bakatnya.
- Perinsip penerima perkembangan dan perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat.
- Perinsip keterkaitan antara berbagai mata pelajaran dengan pengalaman-pengalaman dan aktifitas yang terkandung dalam kurikulum.
DAFTAR PUSTAKA
Nata Abuddin, filsapat pendidikan Islam, Gaya Media Pratama , Jakarta : 2005.
Ramayulis, filsafat pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta : 2010.
Al-Rasyidin, filsafat pendidikan Islam,Jakarta : 2005.
[1] Al-rasidin Nizar, filsafat pendidikan islam (Jakarta,2005), h 55
[2] Abuddin Nata, filsafat pendidikan islam ( Jakarta,2005), h 175
[3] Rahmayulis, filsapat pendidikan islam (jakarta, 2010)
[4] Abuddin Nata, op.cit, h 180





Tidak ada komentar:
Posting Komentar