A.
Riwayat Hidup
dan Perkawinan Zainuddin Labay
Zainuddin Labay el-Yunusi, lahir di sebuah “rumah gadang” (rumah adat lima
ruang) yang terletak di jalan menuju Lubuk Mata Kucing Kenagarian Bukit
Surungan, Padang Panjang tahun 1890 M atau bertepatan dengan tanggal 12 Rajab
1308 H. Ia lahir dari pasangan Syeikh Muhammad Yunus dan Rafi’ah. Zainuddin
Labay adalah anak tertua.
Di antara pendidikan rumah tangga, sebagai pembinaan pribadi yang diterima
Zainuddin Labay bersaudara dari orang tuanya adalah berkaitan dengan penanaman
sistem nilai, yakni mendidik dengan memberikan contoh pengalaman hidup. Sistem
nilai itu adalah jangan membalas kejahatan dengan kejahatan pula serta jangan
suka pendendam. Jangan suka menyampaikan omongan orang lain kepada seteru
(musuh)-nya.
Zainuddin Labay el-Yunusi pertama kali menikah pada tahun 1912 dengan Sawiyah,
seorang gadis berasal dari Bukit Surungan Padang Panjang. Dari perkawinan ini,
ia dikarunia dua orang anak, seorang perempuan bernama Zuraida Zainuddin (lahir
1914) dan seorang laki-laki bernama Tanius Mathran Hibatullah Zainuddin (lahir
1917). Zuraida, anak perempuan Zainuddin satu-satunya yang sempat menjadi staf
pengajar pada Diniyah Putri yang didirikan adiknya Rahmah el-Yunusiyah, setelah
menyelesaikan pendidikan di sana selama tujuh tahun. Bahkan sempat pula
memimpin Kulliyatul Mu’allimat el-Islamiyah (KMI) cabang Riau di Pekanbaru.
Perkawinan Zainuddin dengan Sawiyah, ternyata tidak berlangsung lama dan
berakhir dengan perceraian. Di satu sisi, sebagai seorang yang masih berusia
muda, Zainuddin Labay tidak ingin kehidupan rumah tangganya berakhir hanya
karena perceraian dengan isteri pertamanya. Untuk dapat meringankan beban
pikiran dan memotivasi dirinya dalam mewujudkan cita-citanya yang luhur, ia
tetap memerlukan seorang pendamping hidup yang setia. Zainuddin menikah
lagi dengan seorang gadis dari desa Jambu, Gunung - Padang Panjang, bernama
Djaliah. Namun sampai akhir hayatnya, Zainuddin tidak memperoleh anak dengan
isterinya yang kedua ini.
B.
Latar Belakang
Pendidikan dan Cita-Cita Zainuddin Labay
Pada masa Zainudin Labay el-Yunusi,
ada dua bentuk sistem pendidikan bagi penduduk pribumi di Minangkabau khususnya
dan di Indonesia umumnya. Pertama, adalah sistem pendidikan surau bagi para
penduduk muslim (di Jawa sistem pendidikan Pesantren), yang mengajarkan
ilmu-ilmu agama semata. Kedua, adalah sistem pendidikan Barat yang
diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda dengan tujuan mempersiapkan para
siswa untuk menempati posisi-posisi administrasi pemerintahan, baik pada
tingkat rendah maupun menengah. Dalam perkembangan selanjutnya,
Pendidikan Zainuddin Labay el-Yunusi, sama dengan yang dialami oleh kebanyakan
orang Islam seusianya. Pendidikan awal yang dilaluinya tentu saja pendidikan
infomal (di dalam keluarga) dan pendidikan agama yang diberikan ayahnya. Pada
usia 8 (delapan) tahun, Zainuddin Labay, dimasukkan ayahnya ke sekolah
pemerintah (HIS), namun ia hanya belajar sampai kelas IV. Kemudian ia keluar
dari sekolah tersebut karena dalam banyak hal ia tidak setuju dengan pola
pendidikan colonial.
Ada dua hal yang menyebabkan Zainuddin Labay keluar dari sekolah pemerintah
(HIS). Pertama, di sekolah pemerintah tidak dimasukan mata pelajaran agama
karena pihak pemerintah (Belanda), sehingga sekolah terkesan sekuler dan hanya
untuk kepentingan duniawi semata. Kedua, bahwa tujuan dari pemerintah Belanda
mendirikan sekolah bukan untuk kepentingan rakyat, akan tetapi hanya untuk
kepentingan kolonial Belanda itu sendiri, yakni untuk mempersiapkan calon-calon
tenaga pegawai terdidik yang akan ditempatkan dalam birokrasi lokal termasuk
penyediaan personil dalam urusan tanam paksa kopi.
Pengetahuan yang diberikan di sekolah-sekolah pemerintah itu nantinya juga
merupakan bagian dari upaya membentuk warga negara yang “baik” dan secara
berangsur-angsur mereka juga akan diperbelandakan, dalam arti mencontoh gaya
hidup Eropa. Sehingga hasilnya terkesan lebih menguntungkan pihak penjajah.
Untuk itu, Zainuddin Labay, memutuskan untuk tidak lagi belajar di sekolah
pemerintah tersebut.
Setelah keluar dari sekolah pemerintah, Zainuddin kembali belajar dengan
ayahnya memperdalam ilmu-ilmu agama. Waktu-waktu senggang dipergunakan untuk
belajar mandiri dan membaca. Masa 2 (dua) tahun belajar dengan ayah tercinta
dirasakannya tidak begitu lama, sebab ayahnya dipanggil Yang Mahakuasa.
Akibatnya pendidikan Zainuddin terbengkalai di saat ia sedang sangat memerlukan
pendidikan untuk masa depannya.
Dalam tataran yang lebih ekstrim, sebagai anak tertua dari lima bersaudara, ia
mengalami trauma dengan perginya orang yang sangat dicintainya itu.
Keinginannya untuk belajar agama muncul kembali setelah ia mendengar ada
seorang ulama yang sangat dalam ilmunya di Sungai Batang, suatu daerah yang
terletak di pinggiran Danau Maninjau. Ulama itu adalah H. Abdul Karim Amrullah
(Haji Rasul), yang baru saja kembali dari Makkah. Tetapi karena daerah “danau”
(istilah yang masyhur waktu itu) terlalu jauh dan alat transportasi ke sana
sangat sulit, ibu Zainuddin Labay, Ummi Rafi’ah, keberatan melepas anaknya
“merantau” (belajar) ke daerah danau tersebut.
Setelah gagal meneruskan pelajaran agama ke “danau”, tahun 1910, Zainuddin
Labay, menyampaikan keinginannya untuk pergi belajar kepada salah seorang ulama
modern di Padang, yang bernama Dr. H. Abdullah Ahmad (1878-1933). Keinginan
Zainuddin ini diperkenankan oleh ibunya dan ia diberi biaya sebanyak 20 gulden
serta bekal hidup lainnya untuk belajar ke Padang. Tapi hanya delapan hari ia
belajar dengan Abdullah Ahmad di Padang, kemudian Zainuddin kembali ke Padang
Panjang. Biaya 20 gulden yang diberi oleh ibunya untuk biaya dan bekal hidupnya
selama menuntut ilmu dibelikannya kepada buku-buku, majalah dan koran-koran
berbahasa asing.
Dari prilakunya yang seperti ini, jelas menunjukkan bahwa Zainuddin adalah
seorang yang anak yang memiliki kepribadian fenomenal yang sangat jarang
dilakukan oleh anak-anak segenerasi dengannya. unik dan sulit ditebak
kemauannya. Agar pendidikan Zainuddin tidak terbengkalai, ibunya menyarankan agar
ia pergi belajar kepada Syeikh Abbas Abdullah (1883-1957, di Padang Japang
Payakumbuh, seorang ulama yang sealiran dengan Syeikh Abdul Karim Amrullah dan
Dr. H. Abdullah Ahmad. Selama dua tahun Zainuddin belajar di Padang Japang,
Syeikh Abbas Abdullah melihat bakat dan kecerdasan yang dimiliki Zainuddin
melebihi kemampuan yang dimiliki oleh kawan-kawanya yang lain. Untuk itu ia
diangkat menjadi guru bantu.
Zainuddin tidak lama melanjutkan pelajarannya, karena tahun 1914, ia harus
pulang ke Padang Panjang dan tidak kembali lagi ke Padang Japang. Di Padang
Panjang, Zainuddin belajar dengan guru yang sudah lama ditunggu-tunggunya,
yakni Syeikh Abdulkarim Amrullah, yang pada saat itu telah menetap di Padang
Panjang dan mengajar di Surau Jembatan Besi. Untuk
menilai kemampuan murid-murid menyerap pelajaran yang diberikan, harus ada
evaluasi akhir dan setiap akhir tahun harus ada kenaikan tingkat (kelas).
Cita-cita itu menjadi spirit di dalam jiwanya dan pada setiap kesempatan
mengajar di surau Jembatan Besi, ia selalu mengemukakan keinginannya itu kepada
murid-muridnya. Ia melihat di mana-mana belum ada sekolah agama seperti apa
yang ia cita-citakan itu. Pola dan sistem pengajaran di surau dirasakan tidak
berkembang. Setelah cita-cita besar ini dirasakan sudah mantap dan telah
mendapat dukungan dari sebahagian murid-murid surau Jembatan Besi, maka pada
tanggal 10 Oktober 1915, Zainuddin Labay mendirikan sebuah lembaga pendidikan
Islam baru yang diberi nama Diniyah
School, dengan
sistem berkelas.
Keunikannya terletak pada suatu kenyataan bahwa ia tidak mempunyai pendidikan
yang teratur dan sistematis, namun mampu melahirkan ide-ide cemerlang dan
berhasil menata sistem pendidikan Islam ke arah yang lebih moderen serta mampu
pula melahirkan generasi pendidik yang sangat berpengaruh dalam dunia
pendidikan Islam pada masa berikutnya.
RAHMAH EL-YUNUSIYYAH
A.
Masa Kecil Rahmah
Rahmah El-Yunusiyyah lahir pada hari jum’at tanggal 1 rajab 1318 Hijriyyah,
bertepatan pada tanggal 20 Desember 1900 Masehi di bukit surungan padang
panjang sumatera barat. Rahmah El- yunusiyyah adalah anak bungsu dari
lima bersaudara, lahir dari pasangan Muhammad Yunus bin Imanuddin dengan Rafi
ah, diantara saudara beliau yaitu Zainuddin labay, Mariah, Muhammad
Rasyad, Rihanah, dan Rahmah. Saudara beliau yang tertua adalah Zainuddin Labay.
Pada masa kecilnya Rahmah El-Yunusiyyah terkenal sebagai anak yang berkemauan
tinggi, bercita-cita yang tinggi, sejak kecil sifat kepribadiannya yang kuat
dan jiwa besarnya sudah Nampak menonjol. Sejak kecil Rahmah sudah senang dengan
masak memasak, kerajinan tangan dan menjahit baju sendiri, Rahmah juga sering
sakit-sakitan.
B.
Sifat Dan
Kepribadian Rahmah
Setelah tumbuh menjadi gadis remaja Rahmah mempunyai sifat sangat pemalu tapi
dia tetap bersikap tegas dalam menghadapi sesuatu serta dapat menguasai
berbagai masalah yang ditanganinya. Dari pengalaman hidup yang dihadapinya
telah membentuk kepribadian yang tangguh, kokoh, teguh pendirian dan tabah,
serta berkeimanan yang kuat.
Untuk mewujudkan cita-citanya dan bila menghadapi kesulitan, dia mendekatkan
dirinya kepada Allah dengan melakukan shalat tahajjud. Rahmah juga memiliki
sifat penyayang yang tidak hanya terhadap sesame manusia tapi juga terhadap
hewan. Apapun pekerjaan yang dihadapinya, dilakukan dengan penuh tanggung
jawab, tanpa mengenal rasa lelah dan putus asa.
C.
Pendidikan Rahmah
Rahmah tidak pernah mendapatkan pendidikan yang formal. Untuk menulis dan
membaca huruf arab dan latin dia dapatkan dari kakaknya, Zaenuddin Labay dan
Muhammad Rasyid. Pada tahun 1915 kakaknya Zainuddin labay mendirikan diniyyah
school, sebuah perguruan islam, Rahmah ikut belajar di diniyyah school tapi apa
yang didapatkannya di diniyyah school belum memuaskan hatinya, maka ia
belajar agama yang lebih mendalam kepada syekh abdul karim amrullah. Rahmah
juga mengikuti kursus ilmu kebidanan di rumah sakit umum kayu tanam dan
mendapat izin praktek dari dokter, masih banyak lagi yang dipelajari oleh ibu
Rahmah El-Yunusiyyah.
D. Perkawinan Rahmah
Ketika berusia 16 tahun, Rahmah menikah dengan haji Bahauddin latif yaitu pada
hari senin 15 mei 1916. Perkawinan dilangsungkan di rumah gadang lima ruang
tempat beliau dilahirkan yang terletak di sudut utara Asrama Perguruan Diniyyah
Puteri. Setelah menikah Rahmah tetap meneruskan sekolahnya pada Diniyyah School
sampai tamat dan tetap melanjutkan pelajaran agamanya.
Tidak lama setelah perkawinan, terjadi perselisihan anata Bahauddin dengan
ayahnya sehinnga Bahauddin pindah ke kampung lain. Pada tahun 1919 H. bahauddin
nikah lagi dengan seorang gadis bernama Intan dan pada tahun 1920 H. Bahauddin
nikah dengan seorang janda bernama Dji’ah. Karena Rahmah tidak bisa mendampingi
suami bekerja di kampung lain, maka Rahmah dengan penuh pengertian dan jiwa
besar menerima suaminya nikah dengan perempuan lain. Dari pernikahan ini Rahmah
tidak dakaruniai anak.
E. Mendirikan Diniyyah Puteri
Rahmah El-Yunusiyyah yang dikenal keras hati, teguh pendirian, dan kuat
kemauan, semangat belajarnya pun sangat kuat. Ia gigih berjuang mewujudkan
cita-citanya, yakni mendirikan sekolah khusus kaum perempuan, agar kaum wanita
tidak pasrah pada keadaan dan bangkit memperoleh keseteraan dengan kaum
laki-laki. Maka Rahmah meminta izin kepada kakaknya Zainuddin, cita –cita
Rahmah disambut dengan baik dan senang hati oleh kakaknya. Kenyataan inilah
yang mendorong semangatnya untuk mendidik kaum perempuan dengan mendirikan
Diniyah School Putri.
Tekad yang sudah bulat ini disampaikan kepada teman-temannya, teman-teman
Rahmah menyetujui ide yang mulia itu. Maka Pada tanggal 1 November 1923 sekolah
itu dibuka dengan nama Almadrasatud Diniyyah dipimpin oleh Rangkayo Rahmah
el-Yunusiyah. Sekolah yang baru dibuka ini belum mempunyai gedung sendiri,
dengan jumlah murid 71 orang yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga dan
beberapa orang puteri remaja. Murid-murid belajar dengan duduk bersila di atas
tikar karena belum ada bangku dan meja. Yang dipelajari oleh siswa waktu itu
hanya pengetahuan agama dan bahasa arab.
Kehadiran sekolah khusus puteri ini pada mulanya tidak mendapat sambutan yang
menggembirakan dari masyarakat, malah mendapat ejekan dan cemoohan. Tantangan
demi tantangan di hadapi oleh Rahmah dan murid-muridnya. Setelah Almadrasatud
Diniyyah didirikan, murid-murid puteri belajar di Diniyyah School pada pagi
hari dan sore hari belajar di Almadrasatud Diniyyah. Rumah Rahmah yang
dijadikan asrama untuk murid yang datang dari luar kota.
Pada hari kamis tanggal 10 juli 1924 bertepatan dengan tanggal 8 zulhijjah 1342
H. Zainuddin Labay meninggal dunia. Banyak orang beranggapan bahwa setelah
meninggalnya Zainuddin Labay, tentu Diniyyah School dan Almadrasatud Diniyyah
akan hilang dan lenyap. Bagaimanapun anggapan orang pada saat itu, Rahmah yakin
bahwa dia bisa meneruskan cita-cita dan perjuangan yang telah dicapainya selama
ini.
Beberapa minggu setelah meninggalnya Zainuddin Labay, diadakanlah rapat untuk
mengadakan perubahan dan peningkatan dalam system pengajaran dan pendidikan
bagi kaum perempuan itu, maka diusahakan mencari tempat yang lebih memadai,
maka disewalah gedung bertingkat. Gedung bertingkat itu, bagian atasnya
dijadikan asrama dan di bawah unutk ruangan sekolah. Pada tahun 1925, gedung
itu sudah penuh benaran sehingga timbullah pemikiran pengurus uuntuk mendirikan
gedung perguruan sendiri. Namun sebelum rencana itu terlaksana, terjadilah
gempa besar tanggal 28 juni 1926 hari senin siang yang menghancurkan
gedung-gedung bertingkat termasuk gedung sekolah dan asrama Diniyyah hancur
pada gempa kedua. Dengan hancurnya gedung itu, gugurlah seorang guru
Almadrasatud Diniyyah yaitu Nanisah.
Cukup berat musibah yang menimpa Rahmah, pada waktu itu juga banyak orang
mengira bahwa kota pelajar itu tidak mungkin bangkit lagi dari kehancuran, tapi
kenyataannya bukanlah demikian. Hanya 40 hari setelah gempa bumi itu, tepatnya
pada tanggal 1 syafar 1347 H. direncanakan untuk memulai sekolah kembali. Untuk
rumah perguruan dan asramanya, didirikan bangunan dari bamboo, beratapkan daun
rumbia, dinding sasak dan berlantaikan tanah, di atas sebidang tanah yang
diwaqafkan Ummi Rafi’ah. Pada hari pembukaan sekolah baru yang datang bukan
hanya siswa yang lama tetapi juga siswa baru, sungguh hal yang menggembirakan,
membesarkan hati, pelipur kepayahan selama ini. bangunan darurat sudah berdiri,
sekolah sudah di mulai kembali tapi Rahmah tidak berhenti sampai disitu.
Cita-cita untuk membangun gedung perguruan yang lebih baik tetap begelora di
dalam jiwanya.
Melihat kegigihan Rahmah membangun gedung sendiri, maka kaum bapak bersimpati
untuk bekerja sama dalam pengumpulan uang. Maka pada tanggal 29 Agustus 1927
Rahmah berangkat menuju Sumatera Utara unutk mencari dana guna membangun gedung
perguruan puteri. Untuk kekurangan biaya pembangunan Rahmah mengusahakan
pinjaman barang milik keluarga tapi itu juga belum cukup, sehingga dilakukan
pinjaman kepada engku H. Abdul Gani seorang hartawan di kota padang. Dengan
pinjaman itu, maka berdirilah gedung sekolah berlantai dua, terdiri dari 3
lokal kelas di lantai bawah dan di lantai dua merupakan ruangan lepas untuk
asrama.
Semakin hari murid semakin banyak, gedung yang telah ada tidak cukup untuk
menampung murid-murid, maka di pinjamlah uang untuk kedua kalinya kepada engku
H. Abdul Gani untuk membangun gedung yang kedua terletak sebelah timur gedung
pertama dengan dua lantai, terdiri dari dua lokal kelas di lantai bawah dan di
atas untuk asrama. Kedua asrama ini kemudian di kenal oleh murid-murid dengan
nama Asrama Barat dan Asrama Timur.
F. Mendirikan KMI
Setelah 13 tahun lamanya Diniyyah School Puteri berdiri dan semakin besarnya
perhatian masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya. Akan tetapi Rahmah belum
juga merasa puas dengan hasil yang ada. Ilmu yang diterima murid-muridnya,
terasa masih sedikit. Untuk terjun ke masyarakat dan untuk menjadi guru
dibutuhkan ilmu pengetahuan yang memadai.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan mutu dan memperbaiki kwalitas calon-calon
guru keluaran Diniyyah School puteri Rahmah berencana mendirikan sekolah
lanjutan. Cita-cita ini disampaikan kepada pimpinan PGAPI, anjuran ini di
terima baik. Maka pada tanggal 1 Februari 1937 resmilah berdiri sekolah
lanjutan itu dengan nama “KMI” dengan jumlah murid pertama sebanyak 20 orang.
Untuk menggairahkan semangat membaca dan memperluas ilmu di luar bangku
pelajaran Rahmah mendirikan perpustakaan dengan nama “Kutub Khanah” yang
diresmikan pembukaannya pada tanggal 17 juli 1998, di samping itu mendirikan
satu badan penerbitan bernama “Darul Kutub”.
Rahmah yang pejuang itu tidah pernah merasa puas dengan hasil yang di peroleh.
Dia menginginkan puteri-puteri islam Indonesia mendapat kesempatan lebih banyak
lagi untuk maju dengan memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan tinggi. Rahmah
ingin mnedirikan sebuah Universitas Islam khusus puteri yang mencakup berbagai
Fakultas Agama dan Umum.
G.
Mendirikan Perguruan Tinggi
Diniyyah Puteri
Cita-cita Rahmah dapat terwujud dengan berdirinya Perguruan Tinggi Diniyyah
Puteri dengan satu Fakultasnya, yaitu Fakultas Tarbiyah, dan Da’wah yang
dirintis pendirinya sejak tahun 1964 dan diresmikan oleh Gubernur Sumatera
Barat, Prof. Drs. Harun Zein pada tanggal 22 Nopember 1967 bertepatan dengan 20
Sya’ban 1387 H. peresmian ini di tandai dengan penandatanganan Piagam Perguruan
Tinggi Diniyyah Puteri. Fakultas ini kemudian di ubah namanya menjadi Fakultas
Dirasat Islamiyyah pada tanggal 3 Desember 1969 berdasarkan surat keputusan
menteri Agama Republik Indonesia No. 117 tahun 1969 diakui Ijazah Sarjana untuk
Fakultas ini.
H. Pandangan dan Pengalaman Rahmah Dalam Politik dan Sosial Keagamaan
Pada masa penjajahan belanda, Rahmah tidak mau bekerja sama dengan pihak
pemerintah jajahan. Meskipun dia tidak terjun langsung ke dalam lapangan
politik praktis, namun dia adalah seorang nasionalis tulen. Tawaran pemerintah
belanda agar Rahmah mau menerima subsidi untuk sekolahnya yang disediakan
pemerintah tapi semua tawaran dan bujukan belanda ini ditolak oleh Rahmah
karena Rahmah tidak mau perguruan ini berada di bawah pengaruh belanda. Bila
hal ini terjadi, dia tidak akan bebas lagi menerapkan sisitem pendidikannya,
kurikulum pelajarannya akan di atur oleh pihak penguasa, sehinnga dia tidak
dapat mewujudkan cita-citanya untuk membangun bangsanya. Prinsip ini ia pegang
dan pertahankan terus.
Meskipun Rahmah tidak terjun langsung dalam politik praktis disaat itu, namun
pemerintah colonial belanda tetap menyoroti dan mengawasi perkembangan
perguruan ini. ketika pada tahun 1932 belanda mengeluarkan dua macam peraturan
yang tidak bisa di terima oleh umat islam Indonesia dan kalangan
perguruan-perguruan swasta.
Pada masa penjajahan jepang, selain lebih menekuni kesempurnaan pendidikan di
sekolahnya, Rahmah sangat memperhatikan keadaan sosial dan kehidupan masyarakat
yang dari hari ke hari semakin menderita akibat dari peperangan dan tekanan
penjajahan. Dalam suasana kritis seperti ini Rahmah tidak mau berdiam diri.
Dari dapur keluarga dan dapur asrama setiap memasak nasi harus dipisahkan beras
genggaman yang setiap seminggu sekali dikumpulkan. Begitu pula pada masyarakat
sekitar agar mengumpulkan beras untuk membantu fakir miskin yang setiap hari
berdatang ke rumah Rahmah di kompleks Diniyyah Puteri.
Unutk membantu fakir miskin yang tidak mempunyai pakaian, Rahmah menggunting
calana dan baju dari kain taplak meja makan asrama, kain-kain tutup rak buku,
murid-murid di suruh memotong baju mereka sepanjang satu jengkal kemudian
disambung-sambungkan dan di gunting dijadikan baju dan celana yang akan
disumbangkan kepada fakir miskin ynag membutuhkannya.
Kegiatan ini dikoordinir oleh suatu badan yang bernama Anggota Daerah Ibu
(ADI). Melalui kegiatan ini ahmah juga memperjuangkan dan mmepertahankan
gadis-gadis dan janda-janda Indonesia dari keinginan tentara jepang untuk
dijadikan penghibur dan pemuas nafsu mereka. Disamping aktif di dalam ADI
Rahmah juga duduk sebagai anggota Pengurus Pusat dari Majlis Islam Tinggi,
sebuah organisasi social dan keagamaan yang berpusat di Bukintinggi.
Pada masa akhir pemerintahan jepang, setelah diumumkannya janji akan memberikan
kemerdekaan kepada Indonesia. Setelah jepang bertekuk lutut kepad sekutu pada
tahun 1945 dan Sukarno Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamasikan
kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Berita pertama tentang
proklamasi kemerdekaan diterima Rahmah dari Moh. Syafei, dengan spontan Rahmah
mencari bendera Merah Putih dan langsung menggereknya pada tiang bendera yang
ada di halaman depan gedung perguruannya.
Ketika republic ini berumur 2 bulan, pada tanggal 2 Oktober 1945 Rahmah
mempelopori pembentukan tentara Keamanan Rakyat. Dapur asramanya, rumah
kediamannya dan sebagian dari harta miliknya dia relakan untuk dipergunakan
bagi kepentingan pembinaan tentara keamanan yang masih muda itu.oleh karena
perjuangan beliau dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia cukup besar serta
cintanyayang demikian dalam kepada RI, maka wajarlah kalau pada pemilihan umum
ynag ke 1 pada tahun 1955 Rahmah terpilih untuk menjadi anggota Dewan
Perwakilan Rakyat dari partai Politik Masyumi.
Ketegarannya dalam membantu perjuangan kemerdekaan dan keakrabannya dengan TNI
dan Barisan Perjuangan yang ada, telah mendorong penguasa militer Belanda untuk
memisahkan Rahmah dari anak-anaknya, sehingga pada tanggal 7 Januari 1949
Belanda dapat menyergap tempat persembunyian Rahmah. Rahmah baru kembali ke
padang panjang setelah mengikuti Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta dan
setelah Belanda mengakui kemerdekaan RI hasil Komperensi Meja Bundar di Den hag.
Pada bulan juni tahun 1957 Rahmah berangkat ke tanah suci Makkah, Rahmah tidak
kembali ke Jakarta. Rahmah merasa bahwa mencurahkan perhatiannya untuk memimpin
perguruan akan lebih bermamfaat daripada duduk di kursi keparlemenan sebagai
anggota DPR. Ketika terjadi pemberontakan PRRI di Sumatera akibat
ketidaksetujuan sebagian pemimpin penjabat terhadap politik pemerintahan
soekarno, Rahmah memilih untuk keluar meninggalkan kota berlanglang-buana
dengan beberapa anggota keluarga dari satu desa ke desa yang lain. Dalam
pengembaraan ini salah seorang guru diniyyah puteri yang ikut romnongan
meninggal dunia pada tanggal 24 juni 1961.
Pada tahun 1964 Rahmah menjalani operasi di rumah sakit di Medan karena ada
tumor di payudaranya. Sebagai seorang idealis Rahmah banyak mempunyai rencana
dan cita-cita untuk kemajuan perguruannya dan masyarakat kaum wanita khususnya.
Di antara rencana dan cita-cita Rahmah yang belum sempat terlaksana menjelang
wafatnya antara lain adalah : Membangun kampus perguruannya yang modern yang
bisa menampung 2000 orang siswi, Mendirikan Universitas Islam Khusus Wanita,
dan mendirikan Rumah Sakit Khusus Wanita.
I.
Rahmah Menutup Mata Untuk Selamanya
Menjelang magrib hari rabu tanggal 26 februari 1969, bertepatan dengan tanggal
9 zulhijjah 1388 H, Rahmah berpulang ke Rahmatullah dalam keadaan berwudu’ akan
melaksanakan shalat magrib. Rahmah wafat dalam usia 70 tahun 5 bulan 8 hari.
“By....Elidawati
S.Pd.I”





Tidak ada komentar:
Posting Komentar