Blogroll

Selasa, 22 Mei 2012

Rahmah El Yunusiyah Dan Zainuddin Labai El Yunusi


A.    Riwayat Hidup dan Perkawinan Zainuddin Labay

            Zainuddin Labay el-Yunusi, lahir di sebuah “rumah gadang” (rumah adat lima ruang) yang terletak di jalan menuju Lubuk Mata Kucing Kenagarian Bukit Surungan, Padang Panjang tahun 1890 M atau bertepatan dengan tanggal 12 Rajab 1308 H. Ia lahir dari pasangan Syeikh Muhammad Yunus dan Rafi’ah. Zainuddin Labay adalah anak tertua.

            Di antara pendidikan rumah tangga, sebagai pembinaan pribadi yang diterima Zainuddin Labay bersaudara dari orang tuanya adalah berkaitan dengan penanaman sistem nilai, yakni mendidik dengan memberikan contoh pengalaman hidup. Sistem nilai itu adalah jangan membalas kejahatan dengan kejahatan pula serta jangan suka pendendam. Jangan suka menyampaikan omongan orang lain kepada seteru (musuh)-nya.

            Zainuddin Labay el-Yunusi pertama kali menikah pada tahun 1912 dengan Sawiyah, seorang gadis berasal dari Bukit Surungan Padang Panjang. Dari perkawinan ini, ia dikarunia dua orang anak, seorang perempuan bernama Zuraida Zainuddin (lahir 1914) dan seorang laki-laki bernama Tanius Mathran Hibatullah Zainuddin (lahir 1917). Zuraida, anak perempuan Zainuddin satu-satunya yang sempat menjadi staf pengajar pada Diniyah Putri yang didirikan adiknya Rahmah el-Yunusiyah, setelah menyelesaikan pendidikan di sana selama tujuh tahun. Bahkan sempat pula memimpin Kulliyatul Mu’allimat el-Islamiyah (KMI) cabang Riau di Pekanbaru.

            Perkawinan Zainuddin dengan Sawiyah, ternyata tidak berlangsung lama dan berakhir dengan perceraian. Di satu sisi, sebagai seorang yang masih berusia muda, Zainuddin Labay tidak ingin kehidupan rumah tangganya berakhir hanya karena perceraian dengan isteri pertamanya. Untuk dapat meringankan beban pikiran dan memotivasi dirinya dalam mewujudkan cita-citanya yang luhur, ia tetap memerlukan seorang pendamping hidup yang setia.  Zainuddin menikah lagi dengan seorang gadis dari desa Jambu, Gunung - Padang Panjang, bernama Djaliah. Namun sampai akhir hayatnya, Zainuddin tidak memperoleh anak dengan isterinya yang kedua ini.

B.     Latar Belakang Pendidikan dan Cita-Cita Zainuddin Labay

            Pada masa Zainudin Labay el-Yunusi, ada dua bentuk sistem pendidikan bagi penduduk pribumi di Minangkabau khususnya dan di Indonesia umumnya. Pertama, adalah sistem pendidikan surau bagi para penduduk muslim (di Jawa sistem pendidikan Pesantren), yang mengajarkan ilmu-ilmu agama semata. Kedua, adalah sistem pendidikan Barat yang diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda dengan tujuan mempersiapkan para siswa untuk menempati posisi-posisi administrasi pemerintahan, baik pada tingkat rendah maupun menengah. Dalam perkembangan selanjutnya,

            Pendidikan Zainuddin Labay el-Yunusi, sama dengan yang dialami oleh kebanyakan orang Islam seusianya. Pendidikan awal yang dilaluinya tentu saja pendidikan infomal (di dalam keluarga) dan pendidikan agama yang diberikan ayahnya. Pada usia 8 (delapan) tahun, Zainuddin Labay, dimasukkan ayahnya ke sekolah pemerintah (HIS), namun ia hanya belajar sampai kelas IV. Kemudian ia keluar dari sekolah tersebut karena dalam banyak hal ia tidak setuju dengan pola pendidikan colonial.

            Ada dua hal yang menyebabkan Zainuddin Labay keluar dari sekolah pemerintah (HIS). Pertama, di sekolah pemerintah tidak dimasukan mata pelajaran agama karena pihak pemerintah (Belanda), sehingga sekolah terkesan sekuler dan hanya untuk kepentingan duniawi semata. Kedua, bahwa tujuan dari pemerintah Belanda mendirikan sekolah bukan untuk kepentingan rakyat, akan tetapi hanya untuk kepentingan kolonial Belanda itu sendiri, yakni untuk mempersiapkan calon-calon tenaga pegawai terdidik yang akan ditempatkan dalam birokrasi lokal termasuk penyediaan personil dalam urusan tanam paksa kopi.

            Pengetahuan yang diberikan di sekolah-sekolah pemerintah itu nantinya juga merupakan bagian dari upaya membentuk warga negara yang “baik” dan secara berangsur-angsur mereka juga akan diperbelandakan, dalam arti mencontoh gaya hidup Eropa. Sehingga hasilnya terkesan lebih menguntungkan pihak penjajah. Untuk itu, Zainuddin Labay, memutuskan untuk tidak lagi belajar di sekolah pemerintah tersebut.

            Setelah keluar dari sekolah pemerintah, Zainuddin kembali belajar dengan ayahnya memperdalam ilmu-ilmu agama. Waktu-waktu senggang dipergunakan untuk belajar mandiri dan membaca. Masa 2 (dua) tahun belajar dengan ayah tercinta dirasakannya tidak begitu lama, sebab ayahnya dipanggil Yang Mahakuasa. Akibatnya pendidikan Zainuddin terbengkalai di saat ia sedang sangat memerlukan pendidikan untuk masa depannya.

            Dalam tataran yang lebih ekstrim, sebagai anak tertua dari lima bersaudara, ia mengalami trauma dengan perginya orang yang sangat dicintainya itu. Keinginannya untuk belajar agama muncul kembali setelah ia mendengar ada seorang ulama yang sangat dalam ilmunya di Sungai Batang, suatu daerah yang terletak di pinggiran Danau Maninjau. Ulama itu adalah H. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), yang baru saja kembali dari Makkah. Tetapi karena daerah “danau” (istilah yang masyhur waktu itu) terlalu jauh dan alat transportasi ke sana sangat sulit, ibu Zainuddin Labay, Ummi Rafi’ah, keberatan melepas anaknya “merantau” (belajar) ke daerah danau tersebut.

            Setelah gagal meneruskan pelajaran agama ke “danau”, tahun 1910, Zainuddin Labay, menyampaikan keinginannya untuk pergi belajar kepada salah seorang ulama modern di Padang, yang bernama Dr. H. Abdullah Ahmad (1878-1933). Keinginan Zainuddin ini diperkenankan oleh ibunya dan ia diberi biaya sebanyak 20 gulden serta bekal hidup lainnya untuk belajar ke Padang. Tapi hanya delapan hari ia belajar dengan Abdullah Ahmad di Padang, kemudian Zainuddin kembali ke Padang Panjang. Biaya 20 gulden yang diberi oleh ibunya untuk biaya dan bekal hidupnya selama menuntut ilmu dibelikannya kepada buku-buku, majalah dan koran-koran berbahasa asing.

            Dari prilakunya yang seperti ini, jelas menunjukkan bahwa Zainuddin adalah seorang yang anak yang memiliki kepribadian fenomenal yang sangat jarang dilakukan oleh anak-anak segenerasi dengannya. unik dan sulit ditebak kemauannya. Agar pendidikan Zainuddin tidak terbengkalai, ibunya menyarankan agar ia pergi belajar kepada Syeikh Abbas Abdullah (1883-1957, di Padang Japang Payakumbuh, seorang ulama yang sealiran dengan Syeikh Abdul Karim Amrullah dan Dr. H. Abdullah Ahmad. Selama dua tahun Zainuddin belajar di Padang Japang, Syeikh Abbas Abdullah melihat bakat dan kecerdasan yang dimiliki Zainuddin melebihi kemampuan yang dimiliki oleh kawan-kawanya yang lain. Untuk itu ia diangkat menjadi guru bantu.

            Zainuddin tidak lama melanjutkan pelajarannya, karena tahun 1914, ia harus pulang ke Padang Panjang dan tidak kembali lagi ke Padang Japang. Di Padang Panjang, Zainuddin belajar dengan guru yang sudah lama ditunggu-tunggunya, yakni Syeikh Abdulkarim Amrullah, yang pada saat itu telah menetap di Padang Panjang dan mengajar di Surau Jembatan Besi. Untuk menilai kemampuan murid-murid menyerap pelajaran yang diberikan, harus ada evaluasi akhir dan setiap akhir tahun harus ada kenaikan tingkat (kelas). Cita-cita itu menjadi spirit di dalam jiwanya dan pada setiap kesempatan mengajar di surau Jembatan Besi, ia selalu mengemukakan keinginannya itu kepada murid-muridnya. Ia melihat di mana-mana belum ada sekolah agama seperti apa yang ia cita-citakan itu. Pola dan sistem pengajaran di surau dirasakan tidak berkembang. Setelah cita-cita besar ini dirasakan sudah mantap dan telah mendapat dukungan dari sebahagian murid-murid surau Jembatan Besi, maka pada tanggal 10 Oktober 1915, Zainuddin Labay mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam baru yang diberi nama Diniyah School, dengan sistem berkelas.

            Keunikannya terletak pada suatu kenyataan bahwa ia tidak mempunyai pendidikan yang teratur dan sistematis, namun mampu melahirkan ide-ide cemerlang dan berhasil menata sistem pendidikan Islam ke arah yang lebih moderen serta mampu pula melahirkan generasi pendidik yang sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan Islam pada masa berikutnya.

RAHMAH EL-YUNUSIYYAH

A.   Masa Kecil Rahmah

            Rahmah El-Yunusiyyah lahir pada hari jum’at tanggal 1 rajab 1318 Hijriyyah, bertepatan pada tanggal 20 Desember 1900 Masehi di bukit surungan padang panjang sumatera barat.  Rahmah El- yunusiyyah adalah anak bungsu dari lima bersaudara, lahir dari pasangan Muhammad Yunus bin Imanuddin dengan Rafi ah, diantara saudara beliau yaitu Zainuddin labay, Mariah, Muhammad  Rasyad, Rihanah, dan Rahmah. Saudara beliau yang tertua adalah Zainuddin Labay.

            Pada masa kecilnya Rahmah El-Yunusiyyah terkenal sebagai anak yang berkemauan tinggi, bercita-cita yang tinggi, sejak kecil sifat kepribadiannya yang kuat dan jiwa besarnya sudah Nampak menonjol. Sejak kecil Rahmah sudah senang dengan masak memasak, kerajinan tangan dan menjahit baju sendiri, Rahmah juga sering sakit-sakitan.

B.   Sifat Dan Kepribadian Rahmah

            Setelah tumbuh menjadi gadis remaja Rahmah mempunyai sifat sangat pemalu tapi dia tetap bersikap tegas dalam menghadapi sesuatu serta dapat menguasai berbagai masalah yang ditanganinya. Dari pengalaman hidup yang dihadapinya telah membentuk kepribadian yang tangguh, kokoh, teguh pendirian dan tabah, serta berkeimanan yang kuat.

            Untuk mewujudkan cita-citanya dan bila menghadapi kesulitan, dia mendekatkan dirinya kepada Allah dengan melakukan shalat tahajjud. Rahmah juga memiliki sifat penyayang yang tidak hanya terhadap sesame manusia tapi juga terhadap hewan. Apapun pekerjaan yang dihadapinya, dilakukan dengan penuh tanggung jawab, tanpa mengenal rasa lelah dan putus asa.

C.   Pendidikan Rahmah

            Rahmah tidak pernah mendapatkan pendidikan yang formal. Untuk menulis dan membaca huruf arab dan latin dia dapatkan dari kakaknya, Zaenuddin Labay dan Muhammad Rasyid. Pada tahun 1915 kakaknya Zainuddin labay mendirikan diniyyah school, sebuah perguruan islam, Rahmah ikut belajar di diniyyah school tapi apa yang didapatkannya  di diniyyah school belum memuaskan hatinya, maka ia belajar agama yang lebih mendalam kepada syekh abdul karim amrullah. Rahmah juga mengikuti kursus ilmu kebidanan di rumah sakit umum kayu tanam dan mendapat izin praktek dari dokter, masih banyak lagi yang dipelajari oleh ibu Rahmah El-Yunusiyyah.

D.  Perkawinan Rahmah

            Ketika berusia 16 tahun, Rahmah menikah dengan haji Bahauddin latif yaitu pada hari senin 15 mei 1916. Perkawinan dilangsungkan di rumah gadang lima ruang tempat beliau dilahirkan yang terletak di sudut utara Asrama Perguruan Diniyyah Puteri. Setelah menikah Rahmah tetap meneruskan sekolahnya pada Diniyyah School sampai tamat dan tetap melanjutkan pelajaran agamanya.

            Tidak lama setelah perkawinan, terjadi perselisihan anata Bahauddin dengan ayahnya sehinnga Bahauddin pindah ke kampung lain. Pada tahun 1919 H. bahauddin nikah lagi dengan seorang gadis bernama Intan dan pada tahun 1920 H. Bahauddin nikah dengan seorang janda bernama Dji’ah. Karena Rahmah tidak bisa mendampingi suami bekerja di kampung lain, maka Rahmah dengan penuh pengertian dan jiwa besar menerima suaminya nikah dengan perempuan lain. Dari pernikahan ini Rahmah tidak dakaruniai anak.

E.   Mendirikan Diniyyah Puteri

            Rahmah El-Yunusiyyah yang dikenal keras hati, teguh pendirian, dan kuat kemauan, semangat belajarnya pun sangat kuat. Ia gigih berjuang mewujudkan cita-citanya, yakni mendirikan sekolah khusus kaum perempuan, agar kaum wanita tidak pasrah pada keadaan dan bangkit memperoleh keseteraan dengan kaum laki-laki. Maka Rahmah meminta izin kepada kakaknya Zainuddin, cita –cita Rahmah disambut dengan baik dan senang hati oleh kakaknya. Kenyataan inilah yang mendorong semangatnya untuk mendidik kaum perempuan dengan mendirikan Diniyah School Putri.

            Tekad yang sudah bulat ini disampaikan kepada teman-temannya, teman-teman Rahmah menyetujui ide yang mulia itu. Maka Pada tanggal 1 November 1923 sekolah itu dibuka dengan nama Almadrasatud Diniyyah dipimpin oleh Rangkayo Rahmah el-Yunusiyah. Sekolah yang baru dibuka ini belum mempunyai gedung sendiri, dengan jumlah murid 71 orang yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga dan beberapa orang puteri remaja. Murid-murid belajar dengan duduk bersila di atas tikar karena belum ada bangku dan meja. Yang dipelajari oleh siswa waktu itu hanya pengetahuan agama dan bahasa arab.

            Kehadiran sekolah khusus puteri ini pada mulanya tidak mendapat sambutan yang menggembirakan dari masyarakat, malah mendapat ejekan dan cemoohan. Tantangan demi tantangan di hadapi oleh Rahmah dan murid-muridnya. Setelah Almadrasatud Diniyyah didirikan, murid-murid puteri belajar di Diniyyah School pada pagi hari dan sore hari belajar di Almadrasatud Diniyyah. Rumah Rahmah yang dijadikan asrama untuk murid yang datang dari luar kota.

            Pada hari kamis tanggal 10 juli 1924 bertepatan dengan tanggal 8 zulhijjah 1342 H. Zainuddin Labay meninggal dunia. Banyak orang beranggapan bahwa setelah meninggalnya Zainuddin Labay, tentu Diniyyah School dan Almadrasatud Diniyyah akan hilang dan lenyap. Bagaimanapun anggapan orang pada saat itu, Rahmah yakin bahwa dia bisa meneruskan cita-cita dan perjuangan yang telah dicapainya selama ini.

            Beberapa minggu setelah meninggalnya Zainuddin Labay, diadakanlah rapat untuk mengadakan perubahan dan peningkatan dalam system pengajaran dan pendidikan bagi kaum perempuan itu, maka diusahakan mencari tempat yang lebih memadai, maka disewalah gedung bertingkat. Gedung bertingkat itu, bagian atasnya dijadikan asrama dan di bawah unutk ruangan sekolah. Pada tahun 1925, gedung itu sudah penuh benaran sehingga timbullah pemikiran pengurus uuntuk mendirikan gedung perguruan sendiri. Namun sebelum rencana itu terlaksana, terjadilah gempa besar tanggal 28 juni 1926 hari senin siang yang menghancurkan gedung-gedung bertingkat termasuk gedung sekolah dan asrama Diniyyah hancur pada gempa kedua. Dengan hancurnya gedung itu, gugurlah seorang guru Almadrasatud Diniyyah yaitu Nanisah.

            Cukup berat musibah yang menimpa Rahmah, pada waktu itu juga banyak orang mengira bahwa kota pelajar itu tidak mungkin bangkit lagi dari kehancuran, tapi kenyataannya bukanlah demikian. Hanya 40 hari setelah gempa bumi itu, tepatnya pada tanggal 1 syafar 1347 H. direncanakan untuk memulai sekolah kembali. Untuk rumah perguruan dan asramanya, didirikan bangunan dari bamboo, beratapkan daun rumbia, dinding sasak dan berlantaikan tanah, di atas sebidang tanah yang diwaqafkan Ummi Rafi’ah. Pada hari pembukaan sekolah baru yang datang bukan hanya siswa yang lama tetapi juga siswa baru, sungguh hal yang menggembirakan, membesarkan hati, pelipur kepayahan selama ini. bangunan darurat sudah berdiri, sekolah sudah di mulai kembali tapi Rahmah tidak berhenti sampai disitu. Cita-cita untuk membangun gedung perguruan yang lebih baik tetap begelora di dalam jiwanya.

            Melihat kegigihan Rahmah membangun gedung sendiri, maka kaum bapak bersimpati untuk bekerja sama dalam pengumpulan uang. Maka pada tanggal 29 Agustus 1927 Rahmah berangkat menuju Sumatera Utara unutk mencari dana guna membangun gedung perguruan puteri. Untuk kekurangan biaya pembangunan Rahmah mengusahakan pinjaman barang milik keluarga tapi itu juga belum cukup, sehingga dilakukan pinjaman kepada engku H. Abdul Gani seorang hartawan di kota padang. Dengan pinjaman itu, maka berdirilah gedung sekolah berlantai dua, terdiri dari 3 lokal kelas di lantai bawah dan di lantai dua merupakan ruangan lepas untuk asrama.

            Semakin hari murid semakin banyak, gedung yang telah ada tidak cukup untuk menampung murid-murid, maka di pinjamlah uang untuk kedua kalinya kepada engku H. Abdul Gani untuk membangun gedung yang kedua terletak sebelah timur gedung pertama dengan dua lantai, terdiri dari dua lokal kelas di lantai bawah dan di atas untuk asrama. Kedua asrama ini kemudian di kenal oleh murid-murid dengan nama Asrama Barat dan Asrama Timur.

F.      Mendirikan KMI

            Setelah 13 tahun lamanya Diniyyah School Puteri berdiri dan semakin besarnya perhatian masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya. Akan tetapi Rahmah belum juga merasa puas dengan hasil yang ada. Ilmu yang diterima murid-muridnya, terasa masih sedikit. Untuk terjun ke masyarakat dan untuk menjadi guru dibutuhkan ilmu pengetahuan yang memadai.

            Oleh karena itu, untuk meningkatkan mutu dan memperbaiki kwalitas calon-calon guru keluaran Diniyyah School puteri Rahmah berencana mendirikan sekolah lanjutan. Cita-cita ini disampaikan kepada pimpinan PGAPI, anjuran ini di terima baik. Maka pada tanggal 1 Februari 1937 resmilah berdiri sekolah lanjutan itu dengan nama “KMI” dengan jumlah murid pertama sebanyak 20 orang.

            Untuk menggairahkan semangat membaca dan memperluas ilmu di luar bangku pelajaran  Rahmah mendirikan perpustakaan dengan nama “Kutub Khanah” yang diresmikan pembukaannya pada tanggal 17 juli 1998, di samping itu mendirikan satu badan penerbitan bernama “Darul Kutub”.

            Rahmah yang pejuang itu tidah pernah merasa puas dengan hasil yang di peroleh. Dia menginginkan puteri-puteri islam Indonesia mendapat kesempatan lebih banyak lagi untuk maju dengan memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan tinggi. Rahmah ingin mnedirikan sebuah Universitas Islam khusus puteri yang mencakup berbagai Fakultas Agama dan Umum.

G.    Mendirikan Perguruan Tinggi Diniyyah Puteri

            Cita-cita Rahmah dapat terwujud dengan berdirinya Perguruan Tinggi Diniyyah Puteri dengan satu Fakultasnya, yaitu Fakultas Tarbiyah, dan Da’wah yang dirintis pendirinya sejak tahun 1964 dan diresmikan oleh Gubernur Sumatera Barat, Prof. Drs. Harun Zein pada tanggal 22 Nopember 1967 bertepatan dengan 20 Sya’ban 1387 H. peresmian ini di tandai dengan penandatanganan Piagam Perguruan Tinggi Diniyyah Puteri. Fakultas ini kemudian di ubah namanya menjadi Fakultas Dirasat Islamiyyah pada tanggal 3 Desember 1969 berdasarkan surat keputusan menteri Agama Republik Indonesia No. 117 tahun 1969 diakui Ijazah Sarjana untuk Fakultas ini.

H.    Pandangan dan Pengalaman Rahmah Dalam Politik dan Sosial Keagamaan

            Pada masa penjajahan belanda, Rahmah tidak mau bekerja sama dengan pihak pemerintah jajahan. Meskipun dia tidak terjun langsung ke dalam lapangan politik praktis, namun dia adalah seorang nasionalis tulen. Tawaran pemerintah belanda agar Rahmah mau menerima subsidi untuk sekolahnya yang disediakan pemerintah tapi semua tawaran dan bujukan belanda ini ditolak oleh Rahmah karena Rahmah tidak mau perguruan ini berada di bawah pengaruh belanda. Bila hal ini terjadi, dia tidak akan bebas lagi menerapkan sisitem pendidikannya, kurikulum pelajarannya akan di atur oleh pihak penguasa, sehinnga dia tidak dapat mewujudkan cita-citanya untuk membangun bangsanya. Prinsip ini ia pegang dan pertahankan terus.

            Meskipun Rahmah tidak terjun langsung dalam politik praktis disaat itu, namun pemerintah colonial belanda tetap menyoroti dan mengawasi perkembangan perguruan ini. ketika pada tahun 1932 belanda mengeluarkan dua macam peraturan yang tidak bisa di terima oleh umat islam Indonesia dan kalangan perguruan-perguruan swasta.

            Pada masa penjajahan jepang, selain lebih menekuni kesempurnaan pendidikan di sekolahnya, Rahmah sangat memperhatikan keadaan sosial dan kehidupan masyarakat yang dari hari ke hari semakin menderita akibat dari peperangan dan tekanan penjajahan. Dalam suasana kritis seperti ini Rahmah tidak mau berdiam diri. Dari dapur keluarga dan dapur asrama setiap memasak nasi harus dipisahkan beras genggaman yang setiap seminggu sekali dikumpulkan. Begitu pula pada masyarakat sekitar agar mengumpulkan beras untuk membantu fakir miskin yang setiap hari berdatang ke rumah Rahmah di kompleks Diniyyah Puteri.

            Unutk membantu fakir miskin yang tidak mempunyai pakaian, Rahmah menggunting calana dan baju dari kain taplak meja makan asrama, kain-kain tutup rak buku, murid-murid di suruh memotong baju mereka sepanjang satu jengkal kemudian disambung-sambungkan dan di gunting dijadikan baju dan celana yang akan disumbangkan kepada fakir miskin ynag membutuhkannya.

            Kegiatan ini dikoordinir oleh suatu badan yang bernama Anggota Daerah Ibu (ADI). Melalui kegiatan ini ahmah juga memperjuangkan dan mmepertahankan gadis-gadis dan janda-janda Indonesia dari keinginan tentara jepang untuk dijadikan penghibur dan pemuas nafsu mereka. Disamping aktif di dalam ADI Rahmah juga duduk sebagai anggota Pengurus Pusat dari Majlis Islam Tinggi, sebuah organisasi social dan keagamaan yang berpusat di Bukintinggi.

            Pada masa akhir pemerintahan jepang, setelah diumumkannya janji akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Setelah jepang bertekuk lutut kepad sekutu pada tahun 1945 dan Sukarno Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Berita pertama tentang proklamasi kemerdekaan diterima Rahmah dari Moh. Syafei, dengan spontan Rahmah mencari bendera Merah Putih dan langsung menggereknya pada tiang bendera yang ada di halaman depan gedung perguruannya.

            Ketika republic ini berumur 2 bulan, pada tanggal 2 Oktober 1945 Rahmah mempelopori pembentukan tentara Keamanan Rakyat. Dapur asramanya, rumah kediamannya dan sebagian dari harta miliknya dia relakan untuk dipergunakan bagi kepentingan pembinaan tentara keamanan yang masih muda itu.oleh karena perjuangan beliau dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia cukup besar serta cintanyayang demikian dalam kepada RI, maka wajarlah kalau pada pemilihan umum ynag ke 1 pada tahun 1955 Rahmah terpilih untuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari partai Politik Masyumi.

            Ketegarannya dalam membantu perjuangan kemerdekaan dan keakrabannya dengan TNI dan Barisan Perjuangan yang ada, telah mendorong penguasa militer Belanda untuk memisahkan Rahmah dari anak-anaknya, sehingga pada tanggal 7 Januari 1949 Belanda dapat menyergap tempat persembunyian Rahmah. Rahmah baru kembali ke padang panjang setelah mengikuti Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta dan setelah Belanda mengakui kemerdekaan RI hasil Komperensi Meja Bundar di Den hag.

            Pada bulan juni tahun 1957 Rahmah berangkat ke tanah suci Makkah, Rahmah tidak kembali ke Jakarta. Rahmah merasa bahwa mencurahkan perhatiannya untuk memimpin perguruan akan lebih bermamfaat daripada duduk di kursi keparlemenan sebagai anggota DPR. Ketika terjadi pemberontakan PRRI di Sumatera akibat ketidaksetujuan sebagian pemimpin penjabat terhadap politik pemerintahan soekarno, Rahmah memilih untuk keluar meninggalkan kota berlanglang-buana dengan beberapa anggota keluarga dari satu desa ke desa yang lain. Dalam pengembaraan ini salah seorang guru diniyyah puteri yang ikut romnongan meninggal dunia pada tanggal 24 juni 1961.

            Pada tahun 1964 Rahmah menjalani operasi di rumah sakit di Medan karena ada tumor di payudaranya. Sebagai seorang idealis Rahmah banyak mempunyai rencana dan cita-cita untuk kemajuan perguruannya dan masyarakat kaum wanita khususnya. Di antara rencana dan cita-cita Rahmah yang belum sempat terlaksana menjelang wafatnya antara lain adalah : Membangun kampus perguruannya yang modern yang bisa menampung 2000 orang siswi, Mendirikan Universitas Islam Khusus Wanita, dan mendirikan Rumah Sakit Khusus Wanita.

I.        Rahmah Menutup Mata Untuk Selamanya

            Menjelang magrib hari rabu tanggal 26 februari 1969, bertepatan dengan tanggal 9 zulhijjah 1388 H, Rahmah berpulang ke Rahmatullah dalam keadaan berwudu’ akan melaksanakan shalat magrib. Rahmah wafat dalam usia 70 tahun 5 bulan 8 hari.


“By....Elidawati S.Pd.I”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar