PENDAHULUAN
Dalam
mengajar harus ada ketulusan hati, kesetiaan, kemesraan, kesabaran, cinta,
sukacita, improvisasi, pengendalian diri memenuhi pekerjaan itu. Betapa
indahnya suasana belajar dan mengajar yang berubah menjadi pembelajaran. Guru
dan peserta didik sama-sama belajar.
Karena jika
kegiatan belajar juga telah diwarnai dengan unsur kekeluargaan dan gaya belajar
guru yang menyenangkan otomatis situasi belajar akan terasa hangat apalagi
ditambah dengan metode belajar yang bervariasi dipadu dengan gaya belajar guru
yang sesuai dengan gaya belajar siswa otomatis kelas akan terasa lebih hidup
dan belajar bukan lagi suatu momok yang ditakuti yang harus dihindari.
Orkestra Pembelajaran adalah pembelajaran yang
diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
memotivasi pelajar untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang
cukup bagi prakarsa, kreativitas, sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan
fisik serta psikologis pelajar.
Orkestra pembelajaran merupakan sebuah simfoni. Proses
belajar-mengajar digambarkan bagai sebuah pertunjukkan musik dimana setiap
anggotanya memiliki antusiasme tinggi untuk melakukan atau menemukan hal-hal
baru dan semuanya dikerjakan dengan penuh keriangan.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, Pasal
19, ayat 1 tentang Standar Proses, dinyatakan bahwa: “Proses Pembelajaran pada
satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, memotivasi pelajar untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan
ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, sesuai dengan bakat, minat, dan
perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.” Proses pembelajaran untuk
setiap jenjang pendidikan memang sebaiknya dilaksanakan demikian, tidak
terkecuali pembelajaran untuk anak usia TK yang memang identik dengan
keriangan. Hal ini diperlukan untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap belajar
sehingga belajar tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang membebani.
PEMBAHASAN
MENGORKESTRA KESUKSESAN ANAK DIDIK
A.
Pengertian
Orkestra.
Orkestra adalah kelompok musisi yang memainkan alat musik bersama. Mereka biasanya memainkan musik klasik. Orkestra yang besar kadang-kadang disebut
sebagai "orkestra simponi". Orkestra simponi memiliki sekitar 100
pemain, sementara orkestra yang kecil hanya memiliki 30 atau 40 pemain. Jumlah
pemain musik bergantung pada musik yang mereka mainkan dan besarnya tempat
mereka bermain.[1]
Yang dimaksud dengan orkestra disini adalah
bagaimana seorang guru membuat pembelajaran itu semenarik mungkin yang banyak
melibatkan banyak peserta didik untuk turut aktif sebagaimana dalam orkestra
musik yang menyenangkan dan melibatkan banyak orang.
B.
Sejauh
mana orkestra diperlukan?
Sebagaimana
yang dijelaskan diatas orkestra sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar
karena metode menuntut peserta didik untuk aktif dalam belajar, disini penulis
akan membahas tentang bagaimana cara mengorkestra kemampuan yang ada pada
peserta didik agar belajar itu tersa menyenangkan.
C.
Kekuatan
terpendam niat.
Agama Islam
juga telah membahas dalam suatu hadits shahih dan populer tentang niat
عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لإِمْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٌ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ)).
Dari Umar bin al Khaththab, beliau berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya
perbuatan-perbuatan itu dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang bergantung
dengan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan
Rasul-Nya, hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya
untuk dunia yang ingin ia perolehnya, atau untuk wanita yang ingin ia
nikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang berhijrah kepadanya.”[2]
Jadi masalah niat tidak boleh dinomor duakan
karena ia termasuk suatu komponen yang harus dinomorsatukan terlebih ketika
mengajar, seorang guru yang mempunyai niat yang tulus untuk mengajar berbeda
dengan guru yang mengajar hanya karena melaksanakan tugas dan provesi semata,
oleh karena itu tunjukkanlah kekuatan niat anda karena SEGALANYA BERBICARA,
siswa dapat “menangkap” pandangan guru lebih cepat daripada “menangkap” apa
yang guru ajarkan oleh karena itu berlatihlah untuk merubah pandangan anda
kearah yang positif. Itulah kenapa agama sangat memperhatika sekali masalah
niat karena untuk menilai seseorang Allah memandangnya dari niatnya bukan yang
lain.
Renate Numela Caine dan Geoffrey Caine
mengatakan: “keyakinan guru akan potensi manusia dan kemampuan semua anak untuk
belajar dan berprestasi merupakan suatu hal yang penting diperhatikan.
Aspek-aspek teladan mental guru berdampak besar terhadap iklim belajar dan
pemikiran pelajar yang diciptakan guru, guru harus memahami bahwa perasaan dan
sikap siswa akan terlibat dan berpengaruh kuat pada proses belajarnya” (Caine
dan Caine, 1077, h. 124).[3]
Keyakinan seseorang mengenai kemampuan dirinya
sangat berpengaruh pada kemampuan itu sendiri.
Peran Emosi dalam Belajar
Bagi seorang guru masalah emosi ini sangat
berpengaruh pada kesuksesan anak, kenapa dikatakan demikian? karena, suasana
emosi yang labil dan cendrung dalam keadaan senang lebih cepat menangkap
pelajaran daripada anak yang mempunyai gangguan emosi. Jadi guru harus mengetahui
situasi emosi anak saat mengajar anak yang mempunyai gangguan emosi sangat
membutuhkan perhatian, Sidney D. Craig mengatakan: “sifat dasar manusia, ia akn
mengalami gejolak perasaan menghargai yang amat dalam terhadap orang lain yang
menawarkan kebaikan hati padanya”.[4]
Penelitian menyampaikan kepada kita bahwa tanpa
keterlibatan emosi, kegiatan saraf otak itu kurang dari yang dibutuhkan untuk
“merekatkan” pelajaran dalam ingatan. Dalam
tarian perasaan dan pikiran, kekuatan emosi menentukan keputusan kita saat demi
saat, bekerja bahu-membahu dengan pikiran rasional,mengaktifkan atau
menonaktifkan – pikiran-pikiran itu sendiri. Boleh dibilang, kita mempunyai dua
otak, dua pikiran dan dua jenis kecerdasan: rasional dan emosional. Bagaimana
kita berkiprah dalam hidup (dan belajar) di tentukan oleh keduanya- bukan hanya
IQ, melainkan kecerdasan emosional juga berperan. Tentu saja intelek tidak
dapat bekerja pada puncaknya tanpa kecerdasan emosional (Goleman, 1995, h. 28).[5]
Jalinan Rasa Simpati dan Saling Pengertian
Sebagai seorang pendidik simpati
dan perhatian itu adalah tujuan, menjalin hubungan dengan anak sangat menjamin
dalam keberhasilan pendidikan. Jalan yang sangat ampuh dalam melakukan
pendekatan ini adalah dengan cara menjalin komunikasi yang baik dengan anak.
Bisa dibayangkan anak lebih banyak
mendapatkan kata-kata negative dari pada kata-kata positif setiap hari, harus
dibedakan antara pribadi anak dengan prilakunya. Kalau perilaku bisa saja
salah, tetapi pribadi anak tetap saja baik[6], dan
ini tidak bisa disamakan mencerca pribadi sama dengan menghancurkan harga diri,
dalam masa perkembangan anak semenjak lahir anak belajar menilai sesuatu
termasuk menilai dirinya sendiri dan meniru apa yang dilakukan orang lain, ia
akan menilai dirinya dari apa yang dilontarkan orang lain terhadapnya terlebihh
ayah dan ibunya.
Saran untuk membangun hubungan agar
lebih dekat adalah dengan cara:
1. Perlakukan siswa sebagai manusia sederajat
2. Ketahuilah apa yang disukai siswa, cara pikir mereka dan perasaaan
mereka mengenai hal-hal yang terjadi dalam kehidupan mereka.
3. Bayangkan apa yang mereka katakan kepada dirinya sendiri, mengenai
dirinya sendiri
4. Ketahuilah apa yang menghambat mereka untuk memperoleh hal-hal
yang benar-benar dinginkannya, jika tidak tahu maka tanyakanlah.
5. Berbicaralah dengan jujur kepada mereka, dengan cara membuat
mereka mendengarnya dengan jelas dan halus.
6. Bersenang-senanglah dengan mereka.
Keriangan dan Ketakjuban
RESIKO + KEGEMBIRAAN = KETAKJUBAN
Bagaimana menciptakan agar kelas terasa bergembira sehingga
anda sebagai seorang guru selalu dinanti-nanti oleh peserta didik anda.
1. Dampak Afirmasi
Gunakan afirmasi sebagai cara ampuh
untuk menambahkan lebih banyak kegembiraan, afirmasi adalah penguatan dan
penegasan, guru mempunyai cara masing-masing dalam menguatkan ide pokok
pelajarannya, ada dengan sedikit mengeraskan suara, ada yang menulis dengan
tinta yang berbeda tergantung kemampuan guru dalam menarik perhatian siswa.
Afirmasi ini digunakan agar anak
mengetahui inti dari pelajaran yang dipelajari, yang disajikan dengan cara yang
berbeda sehingga anak bisa cepat dalam menagkap ide pokok yang dimaksud dalam
pelajaran tersebut. Guru diharapkan untuk selalu memperbaharui caranya dalam
melakukan afirmasi sehingga anak didik tidak merasa bosan.
2. Memberi dan Menerima Pengakuan.
Akui setiap usaha.....! semua orang senang mendapat pengakuan tiu akan membuat orang
bangga Belajar mengandung resiko. Belajar berarti
melangkah keluar dari kenyamanan. Ketika siswa telah mengambil langkah ini,
mereka patut diberi pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka.
Prinsip Akui Setiap Usaha mengandung konsekuensi bahwa dalam pembelajaran, guru
harus mengakui setiap usaha siswa, baik usaha yang sudah tepat atau yang belum.
Perlu dipahami bahwa dalam pembelajaran kuantum tidak dikenal istilah “gagal”. Yang ada hanyalah hasil dan umpan balik. Setiap hasil adalah
prestasi, dan masing-masing akan menjadi umpan balik demi pencapaian hasil yang
tepat sebagaimana dimaksudkan.
3. Merayakan Kerja Keras
Jika Layak Dipelajari, Maka Layak Pula Dirayakan. Perayaan merupakan sarapan bagi pelajar juara. Perayaan
memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi
positif dengan belajar. Mengadakan perayaan bagi siswa akan mendorong mereka
memperkuat rasa tanggung jawab dan mengawali proses belajar mereka sendiri.
Perayaan juga akan mengajarkan kepada siswa mengenai motivasi hakiki tanpa
“insentif”. Siswa akan menanti kegiatan belajar, sehingga pendidikan mereka
lebih dari sekadar mencapai nilai tertentu.
Dalam proses pembelajaran, guru dan siswa perlu sering-sering
merayakan kesuksesan belajar, dan menghubungkan belajar dengan perayaan. Bentuk
perayaan, misalnya: tepuk tangan, tiga kali hore, jentikan jari, kejutan, dan
lain-lain.
Pengambilan Resiko
Ketika guru menyertakan unsur pengambilan resiko
dalam proses pembelajaran, berarti ia sedang membangkitkan kesukaan bertualang
alami anak. Satu hal yang harus diingat oleh guru bahwa belajar itu mengandung
resiko karena setiap kali bertualang untuk belajar sesuatu yang baru, sudah
pasti terjadi pengambilan resiko yaitu keluar dari hal atau pengetahuan yang
sudah ada sebelumnya. Cara termudah untuk mengajarkan pengambilan resiko pada
anak adalah melalui keteladan yang diberikan guru.
Kita semua hidup dalam Zona Aman (ZN) yang mana
didalamnya semuanya membuat kita nyaman: kegiatan tertentu, masyarakat,
makanan, tempat dan tata krama. Contohnya mengajar dengan cara tekhnik tertentu
mungkin itu dalam zona aman anda tetapi coba anda mencoba tekhnik lain dan
keluar dari zona tersebut dan masuk kedalam zona yang model baru yang mudah,
akrab dan nyaman walaupun terkadang sesuatu akan terasa goyah dan tidak nyaman.
Tetapi bagaimanapun ZN kita nyaman kita akan
mendapatkan itu membosankan jika berada disana terlalu lama resikonya kita akan
melekat dan monoton. Jadi mari mengintip keluar dari ZN kita agar ZN kita
bertambah luas dan menambah pengalaman.
Ingatlah!!! Belajar itu mengandung resiko, sekali
kita berpetualang untuk belajar sesuatu yang baru, maka kita akan mengambil
resiko besar diluar zona nyaman kita. Untuk memberdayakan siswa keluar dari
Zona Nyaman maka dibutuhkan:
a. Memberi teladan agar bisa keluar dari zona
tersebut
b. Ceritakan zona nyaman kepada siswa
c. Beri tahu bahwa kita (guru) mendukung mereka 100%
Rasa Saling Memiliki
Membangun rasa saling memiliki akan mempercepat
proses pengajaran dan meningkatkan rasa tanggung jawab pelajar. Jika kita
memperhatikan tim-tim berprestasi ada satu hal yang sama-sama dipunyai pemain:
rasa saling memiliki. Begitu juga dengan proses belajar mengajar jika satu
kelas itu sudah menjadi satu tim maka penduduk kelas tersebut akan merasa
saling memiliki antara satu dan yang lain untuk mengukir prestasi-prestasi.
Menciptakan Tradisi:
Menumbuhkan Rasa Saling Memiliki
Tradisi menciptakan rasa kesamaan nilai-nilai,
rasa kesepakatan dan rasa saling memiliki.
keteladanan
Diri anda lebih penting daripada
pengetahuan anda. Kita semua sudah pernah mendengar kata pepatah, “Tindakan
berbicara lebih tegas daripada kata-kata”, “kami butuh bukti bukan janji” dan
praktekkanlah apa yang telah kamu khutbahkan/sampaikan karena siswa biasanya
akan mencari-cari alasan untuk tidak tertarik mencari lobang dan kontradiksi
ketidak sesuaian antara kata-kata dan tindakan kita, semakin banyak yang
memberi teladan maka makin tertarik siswa menyontoh kita.
Beberapa langkah
yang dapat digunakan untuk menampilkan keteladan: meneladankan komunikasi
dengan jelas, mengakui setiap usaha, tersenyum, menggunakan energi untuk
menciptakan lebih banyak energi, menjadi pendengar yang baik, mengungkapkan
pikiran anak dengan kata-kata sendiri, keluar dari zona ywang dianggap aman
secara teratur dan memberitahukan kepada anak bahwa kita sedang melakukan hal
tersebut, menyatakan kembali situasi negatif untuk menemukan hal-hal positif.
KESIMPULAN
1.
orkestra disini adalah bagaimana seorang guru
membuat pembelajaran itu semenarik mungkin yang banyak melibatkan banyak
peserta didik untuk turut aktif sebagaimana dalam orkestra musik yang
menyenangkan dan melibatkan banyak orang.
2. emosi
ini sangat berpengaruh pada kesuksesan anak, kenapa dikatakan demikian? karena,
suasana emosi yang labil dan cendrung dalam keadaan senang lebih cepat
menangkap pelajaran daripada anak yang mempunyai gangguan emosi. Jadi guru
harus mengetahui situasi emosi anak saat mengajar anak yang mempunyai gangguan
emosi sangat membutuhkan perhatian, Sidney D. Craig mengatakan: “sifat dasar
manusia, ia akn mengalami gejolak perasaan menghargai yang amat dalam terhadap
orang lain yang menawarkan kebaikan hati padanya”
3. Pada prinsipnnya kegiatan belajar mengajar akan
lebih menyenangkan apabila kegembiraan dikedepankan dalam segala prakreknya.
Mengingat kegembiraan akan membuat siswa siap belajar dengan mudah, dan bahkan
dapat mengubah sikap negatif. Hal tersebut dapat dipertegas dengan pernyataan
bahwa belajar yang sebenarnya adalah ketakjuban, penemuan, permainan, dan
kegembiraan.
4. Keniscayaan dalam kehidupan manusia adalah zona
nyaman. Di dalamnya manusia memiliki semua hal yang membuat manusia merasa
nyaman. Dalam mengajar hal yang harus dilakukan oleh guru untuk belajar dan
meraih prestasi adalah belajar secara berarti keluar dari zona nyaman. Untuk
memberdayakan siswa melangkah keluar dari zona nyaman, pertama-tama adalah
memberi teladan dan dukungan.
5. Dalam menata suasana Quantum Teaching, guru
menciptakan tradisi pada awal-awal belajar untuk membangkitkan rasa
keteraturan, keterdugaan, dan keseimbangan, dan untuk mengurangi ancaman dan
stress. Tradisi menciptakan rasa kesamaan nilai-nilai dan rasa kesepakatan.
Tradisi juga memuaskan bagian otak yang sangat membutuhkan rutinitas, tetapi
dengan cara menyenangkan dengan riang (DePorter, 2007:38).
DAFTAR PUSTAKA
Bobby deporter. Quantum Teaching, bandung. Kaifa.cet: III.2011.hal.
52
rawati
istadi.Mendidik Dengan Cinta.2008.Bekasi;Pustaka Inti.hal 19
[3] Bobby
deporter. Quantum Teaching, bandung. Kaifa.cet: III.2011.hal. 52
[4] Irawati
istadi.Mendidik Dengan Cinta.2008.Bekasi;Pustaka Inti.hal 19
[6] Op. Cit
hal 77
[7] Op.cit
hal 69





Tidak ada komentar:
Posting Komentar