Blogroll

Sabtu, 19 Mei 2012

Quantum Teaching

PENDAHULUAN

Dalam mengajar harus ada ketulusan hati, kesetiaan, kemesraan, kesabaran, cinta, sukacita, improvisasi, pengendalian diri memenuhi pekerjaan itu. Betapa indahnya suasana belajar dan mengajar yang berubah menjadi pembelajaran. Guru dan peserta didik sama-sama belajar.

Karena jika kegiatan belajar juga telah diwarnai dengan unsur kekeluargaan dan gaya belajar guru yang menyenangkan otomatis situasi belajar akan terasa hangat apalagi ditambah dengan metode belajar yang bervariasi dipadu dengan gaya belajar guru yang sesuai dengan gaya belajar siswa otomatis kelas akan terasa lebih hidup dan belajar bukan lagi suatu momok yang ditakuti yang harus dihindari.

Orkestra Pembelajaran adalah pembelajaran yang diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi pelajar untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis pelajar.

Orkestra pembelajaran merupakan sebuah simfoni. Proses belajar-mengajar digambarkan bagai sebuah pertunjukkan musik dimana setiap anggotanya memiliki antusiasme tinggi untuk melakukan atau menemukan hal-hal baru dan semuanya dikerjakan dengan penuh keriangan.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, Pasal 19, ayat 1 tentang Standar Proses, dinyatakan bahwa: “Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi pelajar untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.” Proses pembelajaran untuk setiap jenjang pendidikan memang sebaiknya dilaksanakan demikian, tidak terkecuali pembelajaran untuk anak usia TK yang memang identik dengan keriangan. Hal ini diperlukan untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap belajar sehingga  belajar tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang membebani.


PEMBAHASAN

MENGORKESTRA KESUKSESAN ANAK DIDIK

A.    Pengertian Orkestra.

Orkestra adalah kelompok musisi yang memainkan alat musik bersama. Mereka biasanya memainkan musik klasik. Orkestra yang besar kadang-kadang disebut sebagai "orkestra simponi". Orkestra simponi memiliki sekitar 100 pemain, sementara orkestra yang kecil hanya memiliki 30 atau 40 pemain. Jumlah pemain musik bergantung pada musik yang mereka mainkan dan besarnya tempat mereka bermain.[1]
Yang dimaksud dengan orkestra disini adalah bagaimana seorang guru membuat pembelajaran itu semenarik mungkin yang banyak melibatkan banyak peserta didik untuk turut aktif sebagaimana dalam orkestra musik yang menyenangkan dan melibatkan banyak orang.
B.      Sejauh mana orkestra diperlukan?
Sebagaimana yang dijelaskan diatas orkestra sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar karena metode menuntut peserta didik untuk aktif dalam belajar, disini penulis akan membahas tentang bagaimana cara mengorkestra kemampuan yang ada pada peserta didik agar belajar itu tersa menyenangkan.
C.     Kekuatan terpendam niat.
Agama Islam juga telah membahas dalam suatu hadits shahih dan populer tentang niat

عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لإِمْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٌ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ)).
Dari Umar bin al Khaththab, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan itu dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang bergantung dengan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk dunia yang ingin ia perolehnya, atau untuk wanita yang ingin ia nikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang berhijrah kepadanya.”[2]

Jadi masalah niat tidak boleh dinomor duakan karena ia termasuk suatu komponen yang harus dinomorsatukan terlebih ketika mengajar, seorang guru yang mempunyai niat yang tulus untuk mengajar berbeda dengan guru yang mengajar hanya karena melaksanakan tugas dan provesi semata, oleh karena itu tunjukkanlah kekuatan niat anda karena SEGALANYA BERBICARA, siswa dapat “menangkap” pandangan guru lebih cepat daripada “menangkap” apa yang guru ajarkan oleh karena itu berlatihlah untuk merubah pandangan anda kearah yang positif. Itulah kenapa agama sangat memperhatika sekali masalah niat karena untuk menilai seseorang Allah memandangnya dari niatnya bukan yang lain.

Renate Numela Caine dan Geoffrey Caine mengatakan: “keyakinan guru akan potensi manusia dan kemampuan semua anak untuk belajar dan berprestasi merupakan suatu hal yang penting diperhatikan. Aspek-aspek teladan mental guru berdampak besar terhadap iklim belajar dan pemikiran pelajar yang diciptakan guru, guru harus memahami bahwa perasaan dan sikap siswa akan terlibat dan berpengaruh kuat pada proses belajarnya” (Caine dan Caine, 1077, h. 124).[3]

Keyakinan seseorang mengenai kemampuan dirinya sangat berpengaruh pada kemampuan itu sendiri.

Peran Emosi dalam Belajar

Bagi seorang guru masalah emosi ini sangat berpengaruh pada kesuksesan anak, kenapa dikatakan demikian? karena, suasana emosi yang labil dan cendrung dalam keadaan senang lebih cepat menangkap pelajaran daripada anak yang mempunyai gangguan emosi. Jadi guru harus mengetahui situasi emosi anak saat mengajar anak yang mempunyai gangguan emosi sangat membutuhkan perhatian, Sidney D. Craig mengatakan: “sifat dasar manusia, ia akn mengalami gejolak perasaan menghargai yang amat dalam terhadap orang lain yang menawarkan kebaikan hati padanya”.[4]

Penelitian menyampaikan kepada kita bahwa tanpa keterlibatan emosi, kegiatan saraf otak itu kurang dari yang dibutuhkan untuk “merekatkan” pelajaran dalam ingatan. Dalam tarian perasaan dan pikiran, kekuatan emosi menentukan keputusan kita saat demi saat, bekerja bahu-membahu dengan pikiran rasional,mengaktifkan atau menonaktifkan – pikiran-pikiran itu sendiri. Boleh dibilang, kita mempunyai dua otak, dua pikiran dan dua jenis kecerdasan: rasional dan emosional. Bagaimana kita berkiprah dalam hidup (dan belajar) di tentukan oleh keduanya- bukan hanya IQ, melainkan kecerdasan emosional juga berperan. Tentu saja intelek tidak dapat bekerja pada puncaknya tanpa kecerdasan emosional (Goleman, 1995, h. 28).[5]

Jalinan Rasa Simpati dan Saling Pengertian

Sebagai seorang pendidik simpati dan perhatian itu adalah tujuan, menjalin hubungan dengan anak sangat menjamin dalam keberhasilan pendidikan. Jalan yang sangat ampuh dalam melakukan pendekatan ini adalah dengan cara menjalin komunikasi yang baik dengan anak.

Bisa dibayangkan anak lebih banyak mendapatkan kata-kata negative dari pada kata-kata positif setiap hari, harus dibedakan antara pribadi anak dengan prilakunya. Kalau perilaku bisa saja salah, tetapi pribadi anak tetap saja baik[6], dan ini tidak bisa disamakan mencerca pribadi sama dengan menghancurkan harga diri, dalam masa perkembangan anak semenjak lahir anak belajar menilai sesuatu termasuk menilai dirinya sendiri dan meniru apa yang dilakukan orang lain, ia akan menilai dirinya dari apa yang dilontarkan orang lain terhadapnya terlebihh ayah dan ibunya.

Saran untuk membangun hubungan agar lebih dekat adalah dengan cara:
1.      Perlakukan siswa sebagai manusia sederajat
2.      Ketahuilah apa yang disukai siswa, cara pikir mereka dan perasaaan mereka mengenai hal-hal yang terjadi dalam kehidupan mereka.
3.      Bayangkan apa yang mereka katakan kepada dirinya sendiri, mengenai dirinya sendiri
4.      Ketahuilah apa yang menghambat mereka untuk memperoleh hal-hal yang benar-benar dinginkannya, jika tidak tahu maka tanyakanlah.
5.      Berbicaralah dengan jujur kepada mereka, dengan cara membuat mereka mendengarnya dengan jelas dan halus.
6.      Bersenang-senanglah dengan mereka.

Keriangan dan Ketakjuban

RESIKO + KEGEMBIRAAN = KETAKJUBAN

Bagaimana  menciptakan agar kelas terasa bergembira sehingga anda sebagai seorang guru selalu dinanti-nanti oleh peserta didik anda.

1.      Dampak Afirmasi

Gunakan afirmasi sebagai cara ampuh untuk menambahkan lebih banyak kegembiraan, afirmasi adalah penguatan dan penegasan, guru mempunyai cara masing-masing dalam menguatkan ide pokok pelajarannya, ada dengan sedikit mengeraskan suara, ada yang menulis dengan tinta yang berbeda tergantung kemampuan guru dalam menarik perhatian siswa.

Afirmasi ini digunakan agar anak mengetahui inti dari pelajaran yang dipelajari, yang disajikan dengan cara yang berbeda sehingga anak bisa cepat dalam menagkap ide pokok yang dimaksud dalam pelajaran tersebut. Guru diharapkan untuk selalu memperbaharui caranya dalam melakukan afirmasi sehingga anak didik tidak merasa bosan.

2.      Memberi dan Menerima Pengakuan.

Akui setiap usaha.....! semua orang senang mendapat pengakuan tiu akan membuat orang bangga Belajar mengandung resiko. Belajar berarti melangkah keluar dari kenyamanan. Ketika siswa telah mengambil langkah ini, mereka patut diberi pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka. Prinsip Akui Setiap Usaha mengandung konsekuensi bahwa dalam pembelajaran, guru harus mengakui setiap usaha siswa, baik usaha yang sudah tepat atau yang belum. Perlu dipahami bahwa dalam pembelajaran kuantum tidak dikenal istilah “gagal”. Yang ada hanyalah hasil dan umpan balik. Setiap hasil adalah prestasi, dan masing-masing akan menjadi umpan balik demi pencapaian hasil yang tepat sebagaimana dimaksudkan.

3.      Merayakan Kerja Keras

Jika Layak Dipelajari, Maka Layak Pula Dirayakan. Perayaan merupakan sarapan bagi pelajar juara. Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar. Mengadakan perayaan bagi siswa akan mendorong mereka memperkuat rasa tanggung jawab dan mengawali proses belajar mereka sendiri. Perayaan juga akan mengajarkan kepada siswa mengenai motivasi hakiki tanpa “insentif”. Siswa akan menanti kegiatan belajar, sehingga pendidikan mereka lebih dari sekadar mencapai nilai tertentu.

Dalam proses pembelajaran, guru dan siswa perlu sering-sering merayakan kesuksesan belajar, dan menghubungkan belajar dengan perayaan. Bentuk perayaan, misalnya: tepuk tangan, tiga kali hore, jentikan jari, kejutan, dan lain-lain.

Pengambilan Resiko

Ketika guru menyertakan unsur pengambilan resiko dalam proses pembelajaran, berarti ia sedang membangkitkan kesukaan bertualang alami anak. Satu hal yang harus diingat oleh guru bahwa belajar itu mengandung resiko karena setiap kali bertualang untuk belajar sesuatu yang baru, sudah pasti terjadi pengambilan resiko yaitu keluar dari hal atau pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Cara termudah untuk mengajarkan pengambilan resiko pada anak  adalah melalui keteladan yang diberikan guru.

Kita semua hidup dalam Zona Aman (ZN) yang mana didalamnya semuanya membuat kita nyaman: kegiatan tertentu, masyarakat, makanan, tempat dan tata krama. Contohnya mengajar dengan cara tekhnik tertentu mungkin itu dalam zona aman anda tetapi coba anda mencoba tekhnik lain dan keluar dari zona tersebut dan masuk kedalam zona yang model baru yang mudah, akrab dan nyaman walaupun terkadang sesuatu akan terasa goyah dan tidak nyaman.

Tetapi bagaimanapun ZN kita nyaman kita akan mendapatkan itu membosankan jika berada disana terlalu lama resikonya kita akan melekat dan monoton. Jadi mari mengintip keluar dari ZN kita agar ZN kita bertambah luas dan menambah pengalaman.

Ingatlah!!! Belajar itu mengandung resiko, sekali kita berpetualang untuk belajar sesuatu yang baru, maka kita akan mengambil resiko besar diluar zona nyaman kita. Untuk memberdayakan siswa keluar dari Zona Nyaman maka dibutuhkan:
a.       Memberi teladan agar bisa keluar dari zona tersebut
b.      Ceritakan zona nyaman kepada siswa
c.       Beri tahu bahwa kita (guru) mendukung mereka 100%
d.      Ajak semua anggota kelas untuk bergabung[7]

Rasa Saling Memiliki

Membangun rasa saling memiliki akan mempercepat proses pengajaran dan meningkatkan rasa tanggung jawab pelajar. Jika kita memperhatikan tim-tim berprestasi ada satu hal yang sama-sama dipunyai pemain: rasa saling memiliki. Begitu juga dengan proses belajar mengajar jika satu kelas itu sudah menjadi satu tim maka penduduk kelas tersebut akan merasa saling memiliki antara satu dan yang lain untuk mengukir prestasi-prestasi.

Menciptakan Tradisi:
Menumbuhkan Rasa Saling Memiliki
Tradisi menciptakan rasa kesamaan nilai-nilai, rasa kesepakatan dan rasa saling memiliki.
keteladanan
Diri anda lebih penting daripada pengetahuan anda. Kita semua sudah pernah mendengar kata pepatah, “Tindakan berbicara lebih tegas daripada kata-kata”, “kami butuh bukti bukan janji” dan praktekkanlah apa yang telah kamu khutbahkan/sampaikan karena siswa biasanya akan mencari-cari alasan untuk tidak tertarik mencari lobang dan kontradiksi ketidak sesuaian antara kata-kata dan tindakan kita, semakin banyak yang memberi teladan maka makin tertarik siswa menyontoh kita.

Beberapa langkah yang dapat digunakan untuk menampilkan keteladan: meneladankan komunikasi dengan jelas, mengakui setiap usaha, tersenyum, menggunakan energi untuk menciptakan lebih banyak energi, menjadi pendengar yang baik, mengungkapkan pikiran anak dengan kata-kata sendiri, keluar dari zona ywang dianggap aman secara teratur dan memberitahukan kepada anak bahwa kita sedang melakukan hal tersebut, menyatakan kembali situasi negatif untuk menemukan hal-hal positif.





KESIMPULAN
1.      orkestra disini adalah bagaimana seorang guru membuat pembelajaran itu semenarik mungkin yang banyak melibatkan banyak peserta didik untuk turut aktif sebagaimana dalam orkestra musik yang menyenangkan dan melibatkan banyak orang.
2.      emosi ini sangat berpengaruh pada kesuksesan anak, kenapa dikatakan demikian? karena, suasana emosi yang labil dan cendrung dalam keadaan senang lebih cepat menangkap pelajaran daripada anak yang mempunyai gangguan emosi. Jadi guru harus mengetahui situasi emosi anak saat mengajar anak yang mempunyai gangguan emosi sangat membutuhkan perhatian, Sidney D. Craig mengatakan: “sifat dasar manusia, ia akn mengalami gejolak perasaan menghargai yang amat dalam terhadap orang lain yang menawarkan kebaikan hati padanya”
3.      Pada prinsipnnya kegiatan belajar mengajar akan lebih menyenangkan apabila kegembiraan dikedepankan dalam segala prakreknya. Mengingat kegembiraan akan membuat siswa siap belajar dengan mudah, dan bahkan dapat mengubah sikap negatif. Hal tersebut dapat dipertegas dengan pernyataan bahwa belajar yang sebenarnya adalah ketakjuban, penemuan, permainan, dan kegembiraan.
4.      Keniscayaan dalam kehidupan manusia adalah zona nyaman. Di dalamnya manusia memiliki semua hal yang membuat manusia merasa nyaman. Dalam mengajar hal yang harus dilakukan oleh guru untuk belajar dan meraih prestasi adalah belajar secara berarti keluar dari zona nyaman. Untuk memberdayakan siswa melangkah keluar dari zona nyaman, pertama-tama adalah memberi teladan dan dukungan.
5.      Dalam menata suasana Quantum Teaching, guru menciptakan tradisi pada awal-awal belajar untuk membangkitkan rasa keteraturan, keterdugaan, dan keseimbangan, dan untuk mengurangi ancaman dan stress. Tradisi menciptakan rasa kesamaan nilai-nilai dan rasa kesepakatan. Tradisi juga memuaskan bagian otak yang sangat membutuhkan rutinitas, tetapi dengan cara menyenangkan dengan riang (DePorter, 2007:38).



DAFTAR PUSTAKA


Bobby deporter. Quantum Teaching, bandung. Kaifa.cet: III.2011.hal. 52

rawati istadi.Mendidik Dengan Cinta.2008.Bekasi;Pustaka Inti.hal 19





[3] Bobby deporter. Quantum Teaching, bandung. Kaifa.cet: III.2011.hal. 52
[4] Irawati istadi.Mendidik Dengan Cinta.2008.Bekasi;Pustaka Inti.hal 19
[6] Op. Cit hal 77
[7] Op.cit hal 69

Tidak ada komentar:

Posting Komentar