Blogroll

Selasa, 22 Mei 2012

Sejarah Perkembangan Bimbingan Dan Konseling

PENDAHULUAN
Bimbingan dan konseling berasal dari dua kata yaitu bimbingan dan konseling. Secara etimologis, kata bimbingan merupakan terjemahan dari kata guidance yang mempunyai arti menunjukkan, membimbing, menuntun, ataupun membantu. Secara etimologis, istilah konseling berasal dari bahasa inggris “to counsel” yang berarti memberi saran dan nasihat.
Selanjutnya, sebagai mahasiswi yang akan menjadi calon guru, sudah sepantasnyalah kita mengetahui seluk beluk awal lahirnya bimbingan dan konseling yang diawali di Amerika serikat hingga awal masuknya di Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
SEJARAH PERKEMBANGAN BIMBINGAN DAN KONSELING
A.          Pengertian Bimbingan dan Konseling
1.      Pengertian Bimbingan
Secara etimologis, kata bimbingan merupakan terjemahan dari kata guidance yang mempunyai arti menunjukkan, membimbing, menuntun, ataupun membantu. Sesuai dengan istilahnya, maka secara umum bimbingan berarti suatu bantuan atau tuntunan.
Prayitno dan Erman Amti (2004:99) mengemukakan bahwa bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Years’s Book of Education 1995 menyatakan bimbingan adalah suatu proses membantu individu melalui usahanya sendiri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemamfaatan social.
Stoops dan Walquist menyatakan bimbingan adalah proses yang terus-menerus dalam membantu perkembangan individu untuk mencapai kemampuannya secara maksimum dalam mengarahkan manfaat yang sebesar-besarnya baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat.
Arthur J. Jones yang dikutip DR. Tohari Musnamar (1985: 4) menyatakan bimbingan sebagai pertolongan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dalam hal membuat pilihan-pilihan, penyesuaian diri dan pemecahan problem-problem yang bertujuan membantu orang tersebut untuk tumbuh dalam hal kemandirian dan kemampuan bertanggung jawab bagi dirinya sendiri.
Djumhur dan Moh. Surya, (1975:15) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding), kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptance), kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik keluarga, sekolah dan masyarakat.
Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa “;;Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan”.
Berdasarkan pengertian di atas dapat dipahami bahwa bimbingan pada prinsipnya adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu dalam hal memahami diri sendiri, menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri dengan lingkungan, memilih, menentukan dan menyusun rencana sesuai dengan konsep dirinya dan tuntutan lingkungan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Dari beberapa pengertian diatas juga dapat diambil beberapa prinsip sebagai berikut:
a.             Bimbingan merupakan suatu proses yang berkesinambungan.
Sehingga bantuan itu diberikan secara sistematis, berencana, terus-menerus dan terarah kepada tujuan tertentu.
b.            Bimbingan merupakan proses membantu individu
Artinya, dalam kegiatan bimbingan pembimbing tidak memaksa individu untuk menuju ke suatu tujuan yang ditetapkan oleh pembimbing, melainkan pembimbing membantu mengarahkan terbimbing (klien) ke arah suatu tujuan yang telah ditetapkan bersama-sama, sehingga klien dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal.
c.             Bahwa bantuan diberikan kepada setiap individu yang memerlukannya di dalam proses  perkembangannya.
Hal ini mengandung arti bahwa bimbingan memberikan bantuan kepada setiap individu baik anak-anak, remaja, dewasa maupun orangtua; apakah ia dalam lingkungan sekolah atau diluar lingkungan sekolah; apakah ia berada di Sekolah Dasar maupun di Perguruan Tinggi.
d.            Bahwa bantuan yang diberikan melalui pelayanan bimbingan bertujuan agar individu dapat mengembangkan dirinya secara optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya
e.             Yang menjadi sasaran bimbingan adalah agar individu dapat mencapai kemandirian, yakni tercapainya perkembangan yang optimal dan dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya.
f.             Untuk mencapai tujuan bimbingan, digunakan pendekatan pribadi atau kelompok dengan memanfaatkan berbagai teknik dan media bimbingan.
g.            Layanan bimbingan dengan menggunakan berbagai macam media dan teknik tersebut dilaksanakan dalam suasana asuhan yang normative.
h.            Bahwa untuk melaksanakan kegiatan bimbingan diperlukan adanya personil-personil yang memiliki keahlian dan pengalaman khusus dalam bidang bimbingan.
Berdasarkan pengertian dan prinsip bimbingan yang telah dikemukakan diatas, dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah merupakan proses pemberian bantuan yang terus-menerus dari seorang pembimbing yang telah dipersiapkan kepada individu yang membutuhkannya dalam rangka mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya secara optimal dengan menggunakan berbagai macam media dan teknik bimbingan dalam suasana asuhan yang normative agar tercapai kemandirian sehingga individu dapat bermanfaat baik bagi dirinya sendiri maupun bagi lingkungannya.
2.      Pengertian Konseling
Secara etimologis, istilah konseling berasal dari bahasa inggris “to counsel” yang berarti memberi saran dan nasihat.
Rogers (1942) menyatakan konseling adalah serangkai hubungan langsung dengan individu yang bertujuan untuk membantu dia dalam merubah sikap dan tingkah lakunya.
Sedangkan konseling menurut Prayitno dan Erman Amti (2004:105) adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
Sejalan dengan itu, Winkel (2005:34) mendefinisikan konseling sebagai serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus.
            Berdasarkan pengertian yang telah dikemukakan oleh para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan dimana proses pemberian bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka antara guru pembimbing/konselor dengan klien; dengan tujuan agar klien itu mampu memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimilki kearah perkembangan yang optimal sehingga ia dapat mencapai kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan social.
B.           Sejarah Perkembangan Bimbingan dan Konseling
         Bimbingan konseling merupakan ilmu yang tergolong baru. Latar belakang yang mendorong lahirnya bimbingan dan konseling adalah perkembangan dan perubahan masyarakat yang terjadi secara evolutif, diikuti dengan perkembangan berbagai lembaga. Perkembangan dan perubahan tersebut antara lain meliputi:
1.            Lembaga Keluarga: dari keadaan dan kebutuhan yang sederhana menjadi semakin kompleks
2.            Lembaga pendidikan: seseorang menjadi pandai, maju dan beragam sehingga tuntutannya pun semakin beragam.
3.            Lembaga pekeerjaan: dari kehidupan agraris berkembang ke industri yang ditandai dengan spesialisasi.
4.            Lembaga lain: pelayanan konsultasi, rekreasi, keagamaan dsb yang semakin berkembang dan beragam.
         Gerakan bimbingan lahir pada tanggal 13 Januari 1908 di Amerika, dengan didirikannya suatu vocational bureau tahun 1908 oleh Frank Parsons yang utuk selanjutnya dikenal sebagai “Father of The Guedance Movement in American Education”. yang menekankan pentingnya setiap individu diberikan pertolongan agar mereka dapat mengenal atau memahami berbagai perbuatan dan kelemahan yang ada pada  dirinya dengan tujuan agar dapat dipergunakan secara intelijensi dengan memilih pekerjaan yang terbaik yang tepat bagi dirinya.
            Menurut Arthur E. Trax and Robert D North, dalam bukunya yang berjudul “Techniques of Guidance”, (1986), disebutkan beberapa kejadian penting yang mewarnai sejarah bimbingan diantaranya:



1.            Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Timbul suatu gerakan kemanusiaan yang menitik beratkan pada kesejahteraan manusia dan kondisi sosialnya. Geraka ini membantu vocational bureau Parsons dalam bidang keungan agar dapat menolong anak-anak muda yang tidak dapat bekerja dengan baik.
2.            Agama

Pada rohaniwan berpandangan bahwa dunia adalah dimana ada pertentangan yang secara terus menerus antara baik dan buruk.
3.            Aliran kesehatan mental
Timbul dengan tujuan perlakuan yang manusiawi terhadap penderita penyakit jiwa dan perhatian terhadap berbagai gejala, tingkat penyakit jiwa, pengobatan, dan pencegahannya, karena ada suatu kesadaran bahwa penyakit ini bisa diobati apabila ditemukan pada tingkat yang lebih dini. Gerakan ini mendorong para pendidik untuk lebih peka terhadap masalah-masalah gangguan kejiwaan, rasa tidak aman, dan kehilangan identitas diantara anak-anak muda.
4.            Perubahan dalam masyarakat
Akibat dari perang dunia 1 dan 2, pengangguran, depresi, perkembangan IPTEK, wajib belajar, mendorong beribu-ribu anak untuk masuk sekolah tanpa mengetahui untuk apa mereka bersekolah. Perubahan masyarakat semacam ini mendorong para pendidik untuk memperbaiki setiap anak sesuai dengan kebutuhannya agar mereka dapat menyelesaikan pendidikannya dengan berhasil.
5.            Gerakan mengenal siswa sebagai individu
Gerakan ini erat sekali kaitannya dengan gerakan tes pengukuran. Bimbingan diadakan di sekolah disebabkan tugas sekolah untuk mengenal atau memahami siswa-siswanya secara individual. Karena sulitnya untuk mengenal atau memahami siswa secara individual atau pribadi, maka diciptakanlah berbagai teknik dan instrument diantaranya tes psikologis dan pengukuran.
Sampai awal abad ke-20 belum ada konselor disekolah. Pada saat itu pekerjaan-pekerjaan konselor masih ditangani oleh para guru. Gerakan bimbingan disekolah mulai berkembang sebagai dampak dari revolusi industri dan keragaman latar belakang para siswa yang masuk kesekolah-sekolah negeri.
Tahun 1898 Jesse B. Davis, seorang konselor di Detroit mulai memberikan layanan konseling pendidikan dan pekerjaan di SMA. Pada tahun 1907 dia memasukkan program bimbingan di sekolah tersebut. Pada waktu yang sama para ahli yang juga mengembangkan program bimbingan ini diantaranya; Eli Weaper, Frank Parson, E.G Will Amson, Carlr. Rogers.
Bahkan, Eli Weaper pada tahun 1906 menerbitkan buku tentang “memilih suatu karir” dan membentuk komite guru pembimbing disetiap sekolah menengah di New York. Kamite tersebut bergerak untuk membantu para pemuda dalam menemukan kemampuan-kemampuan dan belajar tentang bimbingan menggunakan kemampuan-kemampuan tersebut dalam rangka menjadi seorang pekerja yang produktif.
Bradley (John J.Pie Trafesa et. al., 1980) menambah satu tahapan dari tiga tahapan tentang sejarah bimbingan menurut Stiller, yaitu sebagai berikut:
  1. Vocational exploration : Tahapan yang menekankan tentang analisis individual dan pasaran kerja
  2. Metting Individual Needs : Tahapan yang menekankan membantu individu agar meeting memperoleh kepuasan kebutuhan hidupnya. Perkembangan BK pada tahapan ini dipengaruhi oleh diri dan memecahkan masalahnya sendiri.
  3. Transisional Professionalism : Tahapan yang memfokuskan perhatian kepada upaya profesionalisasi konselor
  4. Situasional Diagnosis : Tahapan sebagai periode perubahan dan inovasi pada tahapan ini memfokuskan pada analisis lingkungan dalam proses bimbingan dan gerakan cara-cara yang hanya terpusat pada individu.
         Pada tahun 1909 setiap sekolah menengah di Boston dimasukkan seorang petugas bimbingan jabatan. Kemudian tahun 1910 sekitar 35 kota melaksanakan dan menganjurkan program formal bimbingan sekolah. Pada tahun 1911 Eli Weaper mendirikan lembaga bimbingan yang diberi nama The New York City Vocational Guidence Survey. Selanjutnya tahun 1912 melalui lembaga tersebut diselenggarkan konferensi yang kedua bimbingan jabatan di New York. Sedangkan konferensi yang ketiga diselenggarakan pada tahun 1913. Sejak tahun 1914 proses bimbingan mulai mengarah kepada bimbingan pendidikan dan terus berkembang hingga kini.
         Perkembangan tanggal 20 Mei 1908 lahirlah gerakan Budi Utomo yang berusaha memperjuangkan kemajuan bangsa dalam segala lapangan kebudayaan. Sejak saat itu muncul berbagai gerakan yang mulai terorganisir dengan baik. Tahun 1922 lahir Perguruan Nasional Taman Siswa dengan asas:
1.            Kemerdekaan tiap orang untuk mengatur diri sendiri
2.            Membiasakan anak untuk mencari pengetahuan dengan pikirannya sendiri.
3.            Berusaha dengan kekuatannya sendiri tanpa tergantung pada bantuan orang lain.
         Prinsip didaktik yang dipegang oleh Perguruan Nasional Taman Siswa ini antara lain: kemerdekaan belajar, bekerja dan menggunakan pendekatan konvergensi. Dari pola pendidikan Taman Siswa tersebut telah nampak perhatian dan penghargaan terhadap potensi seseorang dan kemerdekaan untuk mengembangkan potensi. Hal ini merupakan benih dari gerakan bimbingan konseling.
         Keberadaan Bimbingan dan Penyuluhan secara legal formal diakui tahun 1989 dengan lahirnya SK Menpan No 026/Menpan/1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Di dalam Kepmen tersebut ditetapkan secara resmi adanya kegiatan pelayanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah. Akan tetapi pelaksanaan di sekolah masih belum jelas seperti pemikiran awal untuk mendukung misi sekolah dan membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan mereka. Sampai tahun 1993 pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah tidak jelas, parahnya lagi pengguna terutama orang tua murid berpandangan kurang bersahabat dengan BP. Muncul anggapan bahwa anak yang ke BP identik dengan anak yang bermasalah, kalau orang tua murid diundang ke sekolah oleh guru BP dibenak orang tua terpikir bahwa anaknya di sekolah mesti bermasalah atau ada masalah. Hingga lahirnya SK Menpan No. 83/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya yang di dalamnya termuat aturan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah.
         Ketentuan pokok dalam SK Menpan itu dijabarkan lebih lanjut melalui SK Mendikbud No 025/1995 sebagai petunjuk pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Di Dalam SK Mendikbud ini istilah Bimbingan dan Penyuluhan diganti menjadi Bimbingan dan Konseling di sekolah dan dilaksanakan oleh Guru Pembimbing. Di sinilah pola pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah mulai jelas.
         SK Mendikbud No. 025/1995 sebagai petunjuk pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya terdapat hal-hal yang substansial, khususnya yang menyangkut bimbingan dan konseling adalah:
1.            Istilah bimbingan dan penyuluhan secara resmi diganti menjadi bimbingan dan konseling
2.            Pelaksana bimbingan dan konseling di sekolah adalah guru pembimbing, yaitu guru yang secara khusus ditugasi untuk itu. Dengan demikian bimbingan dan konseling tidak dilaksanakan oleh semua guru atau sembarang guru
3.            Guru yang diangkat atau ditugasi untuk melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling adalah mereka yang berkemampuan melaksanakan kegiatan tersebut; minimum mengikuti penataran bimbingan dan konseling selama 180 jam
4.            Kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan pola yang jelas:
(a)    Pengertian, tujuan, fungsi, prinsip dan asas-asasnya
(b)   Bidang bimbingan: bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir
(c)    Jenis layanan: layanan orientasi, informasi, penempatan/penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok dan konseling kelompok
(d)   Kegiatan pendukung: instrumentasi, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah dan alih tangan kasus.
Unsur-unsur di atas (nomor 4) membentuk apa yang kemudian disebut BK Pola-17 5.
5.            Setiap kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan melalui tahap:
(a)    Perencanaan kegiatan
(b)   Pelaksanaan kegiatan
(c)    Penilaian hasil kegiatan
(d)   Analisis hasil penilaian
(e)    Tindak lanjut
6.            Kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan di dalam dan di luar jam kerja sekolah.
         Hal-hal yang substansial di atas diharapkan dapat mengubah kondisi tidak jelas yang sudah lama berlangsung sebelumnya.




BAB III
PENUTUP
1.            Kesimpulan
         Bimbingan dan konseling merupakan proses pemberian bantuan dari individu terhadap individu yang lain dalam upaya memahami dan mengarahkan potensi dirinya seoptimal mungkin sehingga terpecahkan masalahnya. Adapun mengenai sejarah perkembangannya, diawali di Amerika Serikat pada tanggal 13 Januari 1908 oleh seorang tokoh besar bernama Frank Parson, bertepatan dengan beberapa bulan sebelum lahirnya gerakan Budi Utomo di Indonesia dengan nama “bimbingan dan penyuluhan”.
         Keberadaan Bimbingan dan Penyuluhan secara legal formal diakui tahun 1989 dengan lahirnya SK Menpan No 026/Menpan/1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Di dalam Kepmen tersebut ditetapkan secara resmi adanya kegiatan pelayanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah. Ketentuan pokok dalam SK Menpan itu dijabarkan lebih lanjut melalui SK Mendikbud No 025/1995 sebagai petunjuk pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Di Dalam SK Mendikbud ini istilah Bimbingan dan Penyuluhan diganti menjadi Bimbingan dan Konseling di sekolah dan dilaksanakan oleh Guru Pembimbing. Di sinilah pola pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah mulai jelas.
2.            Saran
Setelah mengetahui betapa pentingnya bimbingan dan konseling, seyogyanya dunia pendidikan untuk menyediakan pelayanan tersebut bagi siswa-siswinya agar demikian dapat membantu peserta didik memecahkan permasalahannya dan mendapat pencerahan dalam upaya mengenali dan mengarahkan potensinya sesuai dengan keinginan atau cita-citanya


DAFTAR PUSTAKA
Dra. Hallen, A. M.Pd. 2005. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Quantum Teaching
http://duniaguru.com
Read More »

Kurikulum Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

                Sebagaimana kita ketahui kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan. Oleh karena itu kurikulum merupakan salah satu alat mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan,
            Tujuan pendidikan di suatu bangsa atau Negara di tentukan oleh falsafah dan pendidikan hiidup bangsa atau Negara tersebut. Berbeda falasafah dan pandangan hidup suatu bangsa dan negara menyebabakan berbeda pula tuujuan yang hendak di capai dalam pendidikan tersbut dan sekaligus berpengaruh pada Negara tersebut, untuk itu perubahan politik pemerintah suatu Negara secara signifikan ikut mempengaruhi pendidikan yang di lakukan dan berimbas pada pola kurikulum senantiasa bersifat dinamis guna lebih menyesuaikan dengan berbagai perkembangan yang terjadi, tanpa harus terlepas dari filosifi atas Negara dan agama masyarakat.         


BAB II
PEMBAHASAN
KURIKULUM DALAM PERSEPEKTIF FILSAPAT PENDIDIKAN ISLAM

A.      pengeertian kurikulum
            Secara etimologi kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu curir yang artinya pelari dan curere yang berarti jarak yang harus di tempuh oleh pelari. Istilah ini pada mulanya di gunakan dalam dunia olahraga yang berarti ‘’a litleracecourse’’( suatu jarak yang harus di tempuh dalam pertandingan olah raga).  Berdasarkan dalam pengertian ini, dalam konteknya dengan dunia pendidikan, memberinya pengertian sebagai ‘’circle of in struction” yaitu suatu lingkaran pengajaran dimana guru dan murid terlibat di dalamnya. Sementara pendapat lain di kemukakan bahwa kurikulum adalah arena pertandingan, tempat belajar bertanding untuk menguasai pelajaran guna mencapai garis penamat berupa diploma,ijazah atau gelar keserjanaan.[1]
            Selain itu ada pula yang berpendapat bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang di siapkan berdasarkan rancangan yang sistematik dan koordinatif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang di tetapkan.[2]
            Dari beberapa pendapat tersebut, dapat kita ketahui kurikulum pada hakikatnya adalah rancangan mata pelajaran bagi sutu kegiatan jenjang pendidikan tertentu, dan dengan menguasainya seseorang dapat di nyatakan lulus dan berhak memproleh ijazah.

B.      Kerangka dasar kurikulum pendidikan islam
            Filsapat pendidikan islam berdasarkan al-qur’an sebagai sumber utamanya dan otomatis menjadikan al-qur’an sebagai sumber utama dalam penyusunan kurikulumnya. Muhammad fadil al-jamili mengemukakan bahwa, al-qur’an al-karim adalah kitab terbesar yang menjaddi sumber filsapat pendidikan  dan pengajaran bagi umat islam. Sudah seharusnya kurikulum pendidikan islam di susun sesuai dengan al-qur’an  dan al-hadits untuk melengkapinya. Di dalam al-qur’an dan hadits di temukan kerangka dasar yang dapat di jadikan sebagai pedoman oprasional dalam penyusunan kurikulum pendidikan islam, kerangka tersebut adalah:
a.       Tauhid
b.       Perintah membaca.
Sesuai dengan tuntutan al-qur’an, inti kurikulum (intra curi culer) pendidikan islam adalah “tauhid” dan harus di manapaatkan sebagai unsure pokok. Pemantapan kalimat tauhid hendaknya sudah di mulai semenjak bayi di lahirkan dengan memperdengarkan azan dan iqomah terhadap anak yang di lahirkan. Hal ini dapat dilihat hadits dari Husain  bin Ali, bahwa Rasulullah SAW besabda : “ barang siapa yang lahir anaknya, maka azankan ia pada telinga anak, dan iqomatkan ia di telinga kiri anak dan anak di mudharatkan oleh jin”. ( Hadits di riwayatkan dalam kitab ibn al-syumi ).
Kurikulum inti( impra curiculer)  selanjutnya adalah perintah “membaca” ayat-ayat Allah yang meliputi tiga macam ayat yaitu:
a.       Ayat Allah yang berdasarkan wahyu
b.       Ayat Allah yang ada pada diri manusia
c.        Ayat Allah ysng terdapat di alam semesta di luar diri manusia
Firman Allah SWT:
Artinya: bacalah! Dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajarkan manusia dengan perantaaan kalam, dia mengajar kepada manusia apa yang tidak di ketahuinya. (QS:1-5)
          Di jabarkan secara cermat, kalimat ayat di atas pada dasarnya mencakup kerangka kurikulum pendidikan islam yang ideal. Jabaran tersebut biasa di lihat dari beberapa indikasi yaitu:
a.       “Bacalah! Dengan menyebut nama Allah yang menciptakan “. Tekanan yang tergantung dalam ayat ini adalah kemampuan membaca dalam yang di hubungkan dengan nama Allah sebagai pencipta.
b.       “Dia menciptakan manusia dari segumpal darah”. Ayat ini mendorong manusia untuk mengintropeksi, menyelidiki tentang dirinya di mulai dari proses kejadian dirinya. Manusia di tantang dan di ransang untuk mengungkapkannya melalui imaginasi maupun pengalaman.
c.        “Bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak di ketahuinya”. Motivasi yang terkandung dalam ayat ini adalah agara manusia terdorong untuk mengadakan ekplorasi terhadap alam sekitarnya dengan kemampuan membaca dan menulisnya.
d.      “Dari perintah Allah pada manusia yang tercermin dalam ayat di atas, kemudian di kembangkan dalam ilmu-ilmu yang berhubungan dengan wahyu Allah yang termuat dalam al-qur’an. Selanjutnya di kembangkan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan diri mnusia sebagai makluk ciptaan Allah serta berhubungan dengan alam sekitarnya. Hakikat membaca pada ayat Allah tersebut pada intinya adalah “Tauhid”. Di sinilah letaknya kurikulum pendidikan islam, sebab menurut islam semua ilmu pengetahuan datng dari Allah, tetapi cara penyampaiyannya ada yang lang lansung dari Allah , dan ada pula melalui pemikiran manusia serta pengalaman indra yang berada satu sama lain.
C.      Dasar penyusunan kurikulum pendidikan islam
            Kurikulum sebagai salah satu komponen penddidikan sangat berperan dalam mengantarkan pada tujuan pendidikan yang di harapkan, untuk itu kurikulum merupakan kekuatan utama yang mempngaruhi dan membentuk peruses pembelajaran. Kesalahan dalam penyusunan kurikulum akan menyebabkan kegagalan suatu pendidikan dan penzoliman terhadap peserta didik.
            Al-Syaibany memberikan kerangka dasar yang jelas tentang kurikulum tentang Islam yaitu:
a.       Dasar agama. Dasar ini hendaknya menjadi ruh dan target tertinggi dalam kurikulum. Dasar agama dalam kurikulum pendidikan islam jelas di dasarkan pada al-qur’an, al-sunah dan sumber-sumber yang bersipat furu’ lainnya.
b.       Dasar falsafah. Dasar ini memberikan pedoman bagi tujuan pendidikan islam secara filosifis, sehingga tujuan, isi dan organisasi kurikulum mengandung suatu kebenaran dan pandangan hidup dalam bentuk nilai-nilai yang di yakini sebagai suatu kebenaran, baik di tinjau dari segi ontology, epistimologi maupun eksiologi.
c.        Dasar psikologis. Dasar ini memberikan landasan dalam perumusan kurikulum yang sejalan dengan cirri-ciri perkembangan psikis peserta didik, sesuai dengan tahap kematangan dan bakatnya, memperhatikan kecakapan pemikiran dan perbedaan perorangan antara satu peserta didik dengan lainnya.
d.      Dasar social. Dasar ini memberikan gambaran bagi kurikulum pendidikan islam yang tercermin pada dasar social yang mengandung cirri-ciri masyarakat islam dan kebudayaannya, baik dari segi pengetahuan, nilai-nilai ide, cara berfikir dan adat kebiasaan, seni dan sebagainya. Sebab, tidak ada suatu masyarakat yang tidak berbudaya dan tida ada suatu kebudayaan yang tidak berada pada masyarakat. Kaitannya dengan kurikulum pendidikan islam sudah tentu kurikulum harus mengakar pada masyarakat perubahan dan perkembangan.   
D.     Prinsip-prinsip kurikulum pendidikan islam
            Kurikulum pendidikan islam, selain harus berlandaskan pada dasar-dasar yang telah di kemssukakan di atas, juga harus menganut perinsip-perinsip yang harus yang akan mewarnai  sebuah kurikulum.
Untuk mencapai tujuan islam yang di harapkan, maka sudah barang tentu kurikulum yang di pormulasikannyapun harus mengacu pada dasar pemikiran Yang islami.[3]
            Al-saybany dalam hal ini menyebutkan tujuh perinsip kurikulum pendidikan islam yaitu:
a.       Perinsip peraturan yang sempurna dengan agama, termasuk ajaran dan nilai-nilainya. Setiap bagian yang terdapat dalam kurikulum, mulai dari tujuan, kandungan, metode mengajar, cara-cara perlakuan, dan sebagainya harus berdasar pada agama dan akhlak islam yakni harus terisi dengan jiwa agama islam, keutamaan, cita-cita,dan kemauan yang baik sesuai dengan ajaran islam.
b.       Perinsip menyeluruh ( universal ) pada tujuan-tujuan dan kandungan-kandungan kurikulum, yakni mencakup tujuan membina akidah, akal, dan jasmaninya, dan hal lain bermanfaat bagi masyarakat dalam perkembangan spiritual, kebudayaan, social,ekonomi politik termasuk ilmu-ilmu agama, bahasa dan kemanusiaan, fisik, praktis, propesional, seni rupa dan sebagainya.
c.        Perinsip keseimbangan ysng relatif antara tujuan-tujuan dan kandungan kurikulum.
d.      Perinsip keterkaitan antara bakat, minat, kemampuan-kemampuan, dan kebutuhan belajar. Begitu juga dengan alam sekitarnya  baik yang bersifat fisik maupun  social  dimana pelajar itu hidup dan berintraksi.
e.       Perinsip pemeliharaan perbedaan-perbedaan individual di antara para pelajar, baik dari segi minat maupun bakatnya.
f.        Perinsip penerima perkembangan dan perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat.
g.       Perinsip keterkaitan antara berbagai mata pelajaran dengan pengalaman-pengalaman  dan aktifitas yang terkandung dalam kurikulum.[4]


BAB III
KESIMPULAN

            Secara harfiah kurikulum berasal dari bahasa latin curiculum yang berarti bahan pengajaran. Ada pula yang mengatakan kata tersebut berasal dari bahasa perancis courier yang berarti berlari.
            Dasar kurikulum pendidikan islam. Menurut al-saybanay memberikan kerangka dasar yang jelas tentang kurikulum islam yaitu:
a.       Dasar agama
b.       Dasar falsapah
c.        Dasar psikologis
d.      Dasar sosial
Menurut al-syaibany, prinsip-prinsip yang mendekati acuan kurikulum pendidikan islam, meliputi:
a.       Berorientasi pada islam
b.       Perinsip menyeluruh
c.        Perinsip keseimbangan
d.      Perinsip-perinsip intraksi antara kebutuhan peserta didik
e.       Perinsip pemeliharaan perbedaan-perbedaan individual antar peserta didik, baik perdaan dari segi bakatnya.
f.        Perinsip penerima perkembangan dan perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat.
g.       Perinsip keterkaitan antara berbagai mata pelajaran dengan pengalaman-pengalaman dan aktifitas yang terkandung dalam kurikulum.


DAFTAR PUSTAKA

Nata Abuddin, filsapat pendidikan Islam, Gaya Media Pratama , Jakarta : 2005.
Ramayulis, filsafat pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta : 2010.
Al-Rasyidin, filsafat pendidikan Islam,Jakarta : 2005.



























[1] Al-rasidin Nizar, filsafat pendidikan islam (Jakarta,2005), h 55
[2] Abuddin Nata, filsafat pendidikan islam ( Jakarta,2005), h 175
[3] Rahmayulis, filsapat pendidikan islam (jakarta, 2010)
[4] Abuddin Nata, op.cit, h 180


Read More »