PENDAHULUAN
Bimbingan dan konseling berasal dari dua kata yaitu
bimbingan dan konseling. Secara etimologis, kata
bimbingan merupakan terjemahan dari kata guidance yang mempunyai arti
menunjukkan, membimbing, menuntun, ataupun membantu. Secara etimologis, istilah
konseling berasal dari bahasa inggris “to counsel” yang berarti memberi saran
dan nasihat.
Selanjutnya,
sebagai mahasiswi yang akan menjadi calon guru, sudah sepantasnyalah kita
mengetahui seluk beluk awal lahirnya bimbingan dan konseling yang diawali di
Amerika serikat hingga awal masuknya di Indonesia.
BAB
II
PEMBAHASAN
SEJARAH
PERKEMBANGAN BIMBINGAN DAN KONSELING
A.
Pengertian
Bimbingan dan Konseling
1. Pengertian Bimbingan
Secara
etimologis, kata bimbingan merupakan terjemahan dari kata guidance yang
mempunyai arti menunjukkan, membimbing, menuntun, ataupun membantu. Sesuai
dengan istilahnya, maka secara umum bimbingan berarti suatu bantuan atau
tuntunan.
Prayitno
dan Erman Amti (2004:99) mengemukakan bahwa bimbingan adalah proses pemberian
bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang
individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa agar orang yang dibimbing dapat
mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan
kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan
norma-norma yang berlaku.
Years’s Book of Education 1995 menyatakan bimbingan
adalah suatu proses membantu individu melalui usahanya sendiri untuk menemukan
dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan
kemamfaatan social.
Stoops dan Walquist menyatakan bimbingan adalah
proses yang terus-menerus dalam membantu perkembangan individu untuk mencapai
kemampuannya secara maksimum dalam mengarahkan manfaat yang sebesar-besarnya
baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat.
Arthur J. Jones yang dikutip DR. Tohari Musnamar
(1985: 4) menyatakan bimbingan sebagai pertolongan yang diberikan oleh
seseorang kepada orang lain dalam hal membuat pilihan-pilihan, penyesuaian diri
dan pemecahan problem-problem yang bertujuan membantu orang tersebut untuk
tumbuh dalam hal kemandirian dan kemampuan bertanggung jawab bagi dirinya
sendiri.
Djumhur
dan Moh. Surya, (1975:15) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses
pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam
memecahkan masalah yang dihadapinya, agar tercapai kemampuan untuk dapat
memahami dirinya (self understanding), kemampuan untuk menerima dirinya (self
acceptance), kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) dan kemampuan
untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau
kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik keluarga,
sekolah dan masyarakat.
Dalam
Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah dikemukakan
bahwa “;;Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka
menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan”.
Berdasarkan
pengertian di atas dapat dipahami bahwa bimbingan pada prinsipnya adalah proses
pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau
beberapa orang individu dalam hal memahami diri sendiri, menghubungkan
pemahaman tentang dirinya sendiri dengan lingkungan, memilih, menentukan dan
menyusun rencana sesuai dengan konsep dirinya dan tuntutan lingkungan
berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Dari beberapa pengertian diatas juga dapat diambil
beberapa prinsip sebagai berikut:
a.
Bimbingan
merupakan suatu proses yang berkesinambungan.
Sehingga bantuan
itu diberikan secara sistematis, berencana, terus-menerus dan terarah kepada
tujuan tertentu.
b.
Bimbingan
merupakan proses membantu individu
Artinya, dalam
kegiatan bimbingan pembimbing tidak memaksa individu untuk menuju ke suatu
tujuan yang ditetapkan oleh pembimbing, melainkan pembimbing membantu
mengarahkan terbimbing (klien) ke arah suatu tujuan yang telah ditetapkan
bersama-sama, sehingga klien dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya
secara optimal.
c.
Bahwa
bantuan diberikan kepada setiap individu yang memerlukannya di dalam
proses perkembangannya.
Hal ini
mengandung arti bahwa bimbingan memberikan bantuan kepada setiap individu baik
anak-anak, remaja, dewasa maupun orangtua; apakah ia dalam lingkungan sekolah
atau diluar lingkungan sekolah; apakah ia berada di Sekolah Dasar maupun di
Perguruan Tinggi.
d.
Bahwa
bantuan yang diberikan melalui pelayanan bimbingan bertujuan agar individu
dapat mengembangkan dirinya secara optimal sesuai dengan potensi yang
dimilikinya
e.
Yang
menjadi sasaran bimbingan adalah agar individu dapat mencapai kemandirian,
yakni tercapainya perkembangan yang optimal dan dapat menyesuaikan dirinya
dengan lingkungannya.
f.
Untuk
mencapai tujuan bimbingan, digunakan pendekatan pribadi atau kelompok dengan
memanfaatkan berbagai teknik dan media bimbingan.
g.
Layanan
bimbingan dengan menggunakan berbagai macam media dan teknik tersebut
dilaksanakan dalam suasana asuhan yang normative.
h.
Bahwa
untuk melaksanakan kegiatan bimbingan diperlukan adanya personil-personil yang
memiliki keahlian dan pengalaman khusus dalam bidang bimbingan.
Berdasarkan
pengertian dan prinsip bimbingan yang telah dikemukakan diatas, dapat
disimpulkan bahwa bimbingan adalah merupakan proses pemberian bantuan yang
terus-menerus dari seorang pembimbing yang telah dipersiapkan kepada individu
yang membutuhkannya dalam rangka mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya
secara optimal dengan menggunakan berbagai macam media dan teknik bimbingan
dalam suasana asuhan yang normative agar tercapai kemandirian sehingga individu
dapat bermanfaat baik bagi dirinya sendiri maupun bagi lingkungannya.
2. Pengertian Konseling
Secara
etimologis, istilah konseling berasal dari bahasa inggris “to counsel” yang
berarti memberi saran dan nasihat.
Rogers
(1942) menyatakan konseling adalah serangkai hubungan langsung dengan individu
yang bertujuan untuk membantu dia dalam merubah sikap dan tingkah lakunya.
Sedangkan konseling menurut Prayitno
dan Erman Amti (2004:105) adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan
melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada
individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara
pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
Sejalan dengan itu, Winkel (2005:34)
mendefinisikan konseling sebagai serangkaian kegiatan paling pokok dari
bimbingan dalam usaha membantu konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan
agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan
atau masalah khusus.
Berdasarkan pengertian yang telah dikemukakan oleh para
ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa konseling merupakan salah satu teknik
dalam pelayanan bimbingan dimana proses pemberian bantuan itu berlangsung
melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka antara
guru pembimbing/konselor dengan klien; dengan tujuan agar klien itu mampu
memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya, mampu memecahkan masalah
yang dihadapinya dan mampu mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi yang
dimilki kearah perkembangan yang optimal sehingga ia dapat mencapai kebahagiaan
pribadi dan kemanfaatan social.
B.
Sejarah
Perkembangan Bimbingan dan Konseling
Bimbingan
konseling merupakan ilmu yang tergolong baru. Latar belakang yang mendorong
lahirnya bimbingan dan konseling adalah perkembangan dan perubahan masyarakat
yang terjadi secara evolutif, diikuti dengan perkembangan berbagai lembaga.
Perkembangan dan perubahan tersebut antara lain meliputi:
1.
Lembaga
Keluarga: dari keadaan dan kebutuhan yang sederhana menjadi semakin kompleks
2.
Lembaga
pendidikan: seseorang menjadi pandai, maju dan beragam sehingga tuntutannya pun
semakin beragam.
3.
Lembaga
pekeerjaan: dari kehidupan agraris berkembang ke industri yang ditandai dengan
spesialisasi.
4.
Lembaga
lain: pelayanan konsultasi, rekreasi, keagamaan dsb yang semakin berkembang dan
beragam.
Gerakan bimbingan lahir pada tanggal 13
Januari 1908 di Amerika, dengan didirikannya suatu vocational bureau tahun 1908 oleh
Frank Parsons yang utuk selanjutnya dikenal sebagai “Father of The Guedance
Movement in American Education”. yang menekankan pentingnya setiap individu
diberikan pertolongan agar mereka dapat mengenal atau memahami berbagai perbuatan
dan kelemahan yang ada pada dirinya dengan tujuan agar dapat dipergunakan
secara intelijensi dengan memilih pekerjaan yang terbaik yang tepat bagi
dirinya.
Menurut Arthur E. Trax and Robert D
North, dalam bukunya yang berjudul “Techniques of Guidance”, (1986), disebutkan
beberapa kejadian penting yang mewarnai sejarah bimbingan diantaranya:
1.
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad
ke-20.
Timbul suatu gerakan kemanusiaan
yang menitik beratkan pada kesejahteraan manusia dan kondisi sosialnya. Geraka
ini membantu vocational bureau Parsons dalam bidang keungan agar dapat menolong
anak-anak muda yang tidak dapat bekerja dengan baik.
2.
Agama
Pada rohaniwan berpandangan bahwa dunia adalah dimana ada pertentangan yang secara terus menerus antara baik dan buruk.
Pada rohaniwan berpandangan bahwa dunia adalah dimana ada pertentangan yang secara terus menerus antara baik dan buruk.
3.
Aliran kesehatan mental
Timbul dengan tujuan perlakuan yang
manusiawi terhadap penderita penyakit jiwa dan perhatian terhadap berbagai
gejala, tingkat penyakit jiwa, pengobatan, dan pencegahannya, karena ada suatu
kesadaran bahwa penyakit ini bisa diobati apabila ditemukan pada tingkat yang
lebih dini. Gerakan ini mendorong para pendidik untuk lebih peka terhadap
masalah-masalah gangguan kejiwaan, rasa tidak aman, dan kehilangan identitas
diantara anak-anak muda.
4.
Perubahan dalam masyarakat
Akibat dari perang dunia 1 dan 2,
pengangguran, depresi, perkembangan IPTEK, wajib belajar, mendorong beribu-ribu
anak untuk masuk sekolah tanpa mengetahui untuk apa mereka bersekolah.
Perubahan masyarakat semacam ini mendorong para pendidik untuk memperbaiki
setiap anak sesuai dengan kebutuhannya agar mereka dapat menyelesaikan
pendidikannya dengan berhasil.
5.
Gerakan mengenal siswa sebagai
individu
Gerakan ini erat sekali kaitannya
dengan gerakan tes pengukuran. Bimbingan diadakan di sekolah disebabkan tugas
sekolah untuk mengenal atau memahami siswa-siswanya secara individual. Karena
sulitnya untuk mengenal atau memahami siswa secara individual atau pribadi,
maka diciptakanlah berbagai teknik dan instrument diantaranya tes psikologis
dan pengukuran.
Sampai
awal abad ke-20 belum ada konselor disekolah. Pada saat itu pekerjaan-pekerjaan
konselor masih ditangani oleh para guru. Gerakan bimbingan disekolah mulai
berkembang sebagai dampak dari revolusi industri dan keragaman latar belakang
para siswa yang masuk kesekolah-sekolah negeri.
Tahun
1898 Jesse B. Davis, seorang konselor di Detroit mulai memberikan layanan
konseling pendidikan dan pekerjaan di SMA. Pada tahun 1907 dia memasukkan
program bimbingan di sekolah tersebut. Pada waktu yang sama para ahli yang juga
mengembangkan program bimbingan ini diantaranya; Eli Weaper, Frank Parson, E.G
Will Amson, Carlr. Rogers.
Bahkan, Eli Weaper pada tahun 1906 menerbitkan buku tentang “memilih suatu karir” dan membentuk komite guru pembimbing disetiap sekolah menengah di New York. Kamite tersebut bergerak untuk membantu para pemuda dalam menemukan kemampuan-kemampuan dan belajar tentang bimbingan menggunakan kemampuan-kemampuan tersebut dalam rangka menjadi seorang pekerja yang produktif.
Bahkan, Eli Weaper pada tahun 1906 menerbitkan buku tentang “memilih suatu karir” dan membentuk komite guru pembimbing disetiap sekolah menengah di New York. Kamite tersebut bergerak untuk membantu para pemuda dalam menemukan kemampuan-kemampuan dan belajar tentang bimbingan menggunakan kemampuan-kemampuan tersebut dalam rangka menjadi seorang pekerja yang produktif.
Bradley
(John J.Pie Trafesa et. al., 1980) menambah satu tahapan dari tiga tahapan
tentang sejarah bimbingan menurut Stiller, yaitu sebagai berikut:
- Vocational
exploration : Tahapan yang menekankan tentang analisis individual dan
pasaran kerja
- Metting
Individual Needs : Tahapan yang menekankan membantu individu agar meeting
memperoleh kepuasan kebutuhan hidupnya. Perkembangan BK pada tahapan ini
dipengaruhi oleh diri dan memecahkan masalahnya sendiri.
- Transisional
Professionalism : Tahapan yang memfokuskan perhatian kepada upaya
profesionalisasi konselor
- Situasional
Diagnosis : Tahapan sebagai periode perubahan dan inovasi pada tahapan ini
memfokuskan pada analisis lingkungan dalam proses bimbingan dan gerakan
cara-cara yang hanya terpusat pada individu.
Pada tahun 1909 setiap sekolah menengah
di Boston dimasukkan seorang petugas bimbingan jabatan. Kemudian tahun 1910
sekitar 35 kota melaksanakan dan menganjurkan program formal bimbingan sekolah.
Pada tahun 1911 Eli Weaper mendirikan lembaga bimbingan yang diberi nama The
New York City Vocational Guidence Survey. Selanjutnya tahun 1912 melalui
lembaga tersebut diselenggarkan konferensi yang kedua bimbingan jabatan di New
York. Sedangkan konferensi yang ketiga diselenggarakan pada tahun 1913. Sejak
tahun 1914 proses bimbingan mulai mengarah kepada bimbingan pendidikan dan
terus berkembang hingga kini.
Perkembangan tanggal 20 Mei 1908
lahirlah gerakan Budi Utomo yang berusaha memperjuangkan kemajuan bangsa dalam
segala lapangan kebudayaan. Sejak saat itu muncul berbagai gerakan yang mulai
terorganisir dengan baik. Tahun 1922 lahir Perguruan Nasional Taman Siswa
dengan asas:
1.
Kemerdekaan
tiap orang untuk mengatur diri sendiri
2.
Membiasakan
anak untuk mencari pengetahuan dengan pikirannya sendiri.
3.
Berusaha
dengan kekuatannya sendiri tanpa tergantung pada bantuan orang lain.
Prinsip didaktik yang dipegang oleh
Perguruan Nasional Taman Siswa ini antara lain: kemerdekaan belajar, bekerja
dan menggunakan pendekatan konvergensi. Dari pola pendidikan Taman Siswa
tersebut telah nampak perhatian dan penghargaan terhadap potensi seseorang dan
kemerdekaan untuk mengembangkan potensi. Hal ini merupakan benih dari gerakan
bimbingan konseling.
Keberadaan Bimbingan dan Penyuluhan
secara legal formal diakui tahun 1989 dengan lahirnya SK Menpan No 026/Menpan/1989
tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan. Di dalam Kepmen tersebut ditetapkan secara resmi adanya
kegiatan pelayanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah. Akan tetapi pelaksanaan
di sekolah masih belum jelas seperti pemikiran awal untuk mendukung misi
sekolah dan membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan mereka. Sampai
tahun 1993 pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah tidak jelas,
parahnya lagi pengguna terutama orang tua murid berpandangan kurang bersahabat
dengan BP. Muncul anggapan bahwa anak yang ke BP identik dengan anak yang
bermasalah, kalau orang tua murid diundang ke sekolah oleh guru BP dibenak
orang tua terpikir bahwa anaknya di sekolah mesti bermasalah atau ada masalah.
Hingga lahirnya SK Menpan No. 83/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka
Kreditnya yang di dalamnya termuat aturan tentang Bimbingan dan Konseling di
sekolah.
Ketentuan pokok dalam SK Menpan itu
dijabarkan lebih lanjut melalui SK Mendikbud No 025/1995 sebagai petunjuk
pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Di Dalam SK Mendikbud
ini istilah Bimbingan dan Penyuluhan diganti menjadi Bimbingan dan Konseling di
sekolah dan dilaksanakan oleh Guru Pembimbing. Di sinilah pola pelaksanaan
Bimbingan dan Konseling di sekolah mulai jelas.
SK Mendikbud No. 025/1995 sebagai
petunjuk pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya terdapat
hal-hal yang substansial, khususnya yang menyangkut bimbingan dan konseling
adalah:
1.
Istilah
bimbingan dan penyuluhan secara resmi diganti menjadi bimbingan dan konseling
2.
Pelaksana
bimbingan dan konseling di sekolah adalah guru pembimbing, yaitu guru yang
secara khusus ditugasi untuk itu. Dengan demikian bimbingan dan konseling tidak
dilaksanakan oleh semua guru atau sembarang guru
3.
Guru
yang diangkat atau ditugasi untuk melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling
adalah mereka yang berkemampuan melaksanakan kegiatan tersebut; minimum
mengikuti penataran bimbingan dan konseling selama 180 jam
4.
Kegiatan
bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan pola yang jelas:
(a) Pengertian, tujuan, fungsi, prinsip dan
asas-asasnya
(b) Bidang bimbingan: bimbingan pribadi,
sosial, belajar dan karir
(c) Jenis layanan: layanan orientasi,
informasi, penempatan/penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan
kelompok dan konseling kelompok
(d) Kegiatan pendukung: instrumentasi,
himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah dan alih tangan kasus.
Unsur-unsur
di atas (nomor 4) membentuk apa yang kemudian disebut BK Pola-17 5.
5.
Setiap
kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan melalui tahap:
(a)
Perencanaan
kegiatan
(b)
Pelaksanaan
kegiatan
(c)
Penilaian
hasil kegiatan
(d)
Analisis
hasil penilaian
(e)
Tindak
lanjut
6.
Kegiatan
bimbingan dan konseling dilaksanakan di dalam dan di luar jam kerja sekolah.
Hal-hal yang substansial di atas
diharapkan dapat mengubah kondisi tidak jelas yang sudah lama berlangsung
sebelumnya.
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Bimbingan
dan konseling merupakan proses pemberian bantuan dari individu terhadap
individu yang lain dalam upaya memahami dan mengarahkan potensi dirinya
seoptimal mungkin sehingga terpecahkan masalahnya. Adapun mengenai sejarah
perkembangannya, diawali di Amerika Serikat pada tanggal 13 Januari 1908 oleh
seorang tokoh besar bernama Frank Parson, bertepatan dengan beberapa bulan
sebelum lahirnya gerakan Budi Utomo di Indonesia dengan nama “bimbingan dan
penyuluhan”.
Keberadaan Bimbingan dan Penyuluhan
secara legal formal diakui tahun 1989 dengan lahirnya SK Menpan No
026/Menpan/1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Di dalam Kepmen tersebut ditetapkan
secara resmi adanya kegiatan pelayanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah.
Ketentuan pokok dalam SK Menpan itu dijabarkan lebih lanjut melalui SK Mendikbud
No 025/1995 sebagai petunjuk pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka
Kreditnya. Di Dalam SK Mendikbud ini istilah Bimbingan dan Penyuluhan diganti
menjadi Bimbingan dan Konseling di sekolah dan dilaksanakan oleh Guru
Pembimbing. Di sinilah pola pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah
mulai jelas.
2.
Saran
Setelah
mengetahui betapa pentingnya bimbingan dan konseling, seyogyanya dunia
pendidikan untuk menyediakan pelayanan tersebut bagi siswa-siswinya agar
demikian dapat membantu peserta didik memecahkan permasalahannya dan mendapat
pencerahan dalam upaya mengenali dan mengarahkan potensinya sesuai dengan
keinginan atau cita-citanya
DAFTAR
PUSTAKA
Dra. Hallen, A. M.Pd.
2005. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Quantum Teaching
http://duniaguru.com




